KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Toko Perlengkapan Bayi


__ADS_3

Keheningan mengisi perjalanan pulang kami.


Baik aku maupun Andri, tidak ada yang bersuara.


Aku pun memilih untuk membaca komik di hpku.


Sesekali aku tertawa kecil ketika ada yang lucu dari komik yang aku baca.


Terdengar Andri berdecak kesal dan membuang nafas kasar. Aku tak menghiraukannya dan tetap lanjut membaca komik.


BRUUUMM!!


Tiba-tiba mobil Andri melaju kencang.


Aku langsung menoleh ke Andri.


"Ndri! Jangan kencang-kencang!!" teriakku.


Dia tak menghiraukanku dan malah menambah kecepatan.


Mobil Andri terus menyalib kendaraan-kendaraan di depannya.


Saat menyalib truk besar, tiba-tiba dari arah depan ada sebuah bus pariwisata.


Mataku membulat melihat bus besar itu.


"AWAS NDRI!!!!"


Dengan cepat, Andri langsung membanting stir ke kiri. Kami selamat.


Aku bernafas lega. Telat sedikit saja, aku sudah tak bisa makan bakso lagi.


"Ndri! Pelan-pelan!! Bakso masih enak!!" teriakku. "Aku nggak mau mati dulu!!"


Andri pun menurunkan kecepatannya.


"Kamu kenapa sih?!!"


"Makanya, jangan main hp mulu! Ada orang nih, di sampingmu! Ajak ngobrol kek!" sungutnya.


Jadi dia ngebut cuma gara-gara itu?! Aish!!


Aku menghela nafas panjang.


"Namamu siapa?" tanyaku memulai obrolan.


"Kamu sudah lupa dengan namaku?!!"


"Maksudku nama panjang!"


Susah tahu cari topik pembicaraan!


"Andri Putra Wijaya," jawabnya.


Wah, namaku ada putrinya. Sedangkan dia Putra.


"Hobimu apa?"


"Main gitar."


"Status?"


"Beristri!"


Aku langsung menoleh ke Andri mendengar jawabannya. Dia juga menatapku.


"Aku kan tetanggamu! Masa kamu nggak tahu statusku! Aku juga tinggal sendiri. Jadi sudah jelas kalau aku itu belum menikah!!"


"Ais! Cari topik pembicaraan itu susah tahu! Jarang ada cewek yang memulai pembicaraan di luar sana. Jadi hargain dong!!" sahutku kesal.


Andri terkekeh kecil. "Iya-iya. Maaf. Sekarang giliranku deh yang bertanya sama kamu. Kamu suka apa?"


"Aku suka uang!" jawabku.


"Semua orang juga suka uang kali!" ujar Andri. "Maksudku itu.. ah, udahlah. Ganti pertanyaan aja! Makanan kesukaanmu apa?"


"Semua makanan yang gratis aku suka! Kecuali udang sama kepiting."


"Hobi?"

__ADS_1


"Baca komik, novel, dan nonton anime!"


"Status?"


"Janda!"


"Hah?! Janda?!!" ucap Andri kaget.


Aku menoleh ke Andri dan tersenyum geli.


"Kamu beneran janda?" tanyanya lagi.


Tawaku pecah melihat ekspresi wajahnya.


"Kok malah ketawa sih?!"


"Habisnya pertanyaanmu itu lho! Tadi aku diprotes, karena memberikan pertanyaan itu. Sekarang kamu sendiri juga nanya tentang status!"


"Ck! Maksudku, kamu itu udah punya pacar atau single?" wajah Andri terlihat mulai tak sabar.


"Aku, single.. parent!"


"Hah?!" Andri langsung terkejut dan menoleh padaku.


Lagi-lagi aku terkekeh melihat ekspresi wajahnya.


"Ahaha! Nggak. Bercanda aku, bercanda!"


"Aish! Yang serius dong!" ucap Andri dengan nada kesal.


Aku tambah terkekeh melihat wajahnya yang kesal.


"Oh iya, Ndri. Sebenarnya Pipit mau menjemputku tadi, itu karena aku mau ikut ke rumahnya. Sejak Ibunya Pipit lahiran, aku belum menjenguknya."


"Kalau gitu, kita jenguk bareng aja! Aku juga mau lihat Adeknya Pipit," sahut Andri.


"Oke."


"Kamu bawa apa kesana?" tanya Andri.


"Bawa badan!" selorohku.


"Dua rius juga nggak papa!"


"Hiigh!!" Andri mulai geregetan, membuatku kembali terkekeh.


"Kamu kan mau jenguk bayi baru lahir, masa kamu nggak bawa apa-apa sih?!"


"Kamu kan tahu kalau aku belum gajian. Emangnya aku mau beli pakek apa?!!"


"Oh iya-ya!"


Aku melirik Andri. "Uh iya-ya!" Aku meniru ucapan Andri tapi dengan bibir dimonyongkan.


Andri terkekeh melihatku.


Kemudian tiba-tiba, mobil Andri berbelok. Berhenti tepat di depan sebuah toko perlengkapan bayi.


Loh, kok kesini?!


"Ndri, ngapain kita kesini?!" Aku mengernyit menoleh ke Andri.


"Beli peralatan masak!" sahut Andri. "Ya pasti beli perlengkapan bayi lah!"


"Tapi aku--"


"Tenang, kita beli perlengkapan bayi pakek uangku!" ucap Andri sambil menepuk dadanya.


Kami pun akhirnya masuk ke toko itu.


Ini pertama kalinya aku masuk ke toko perlengkapan bayi.


Sebelumnya aku tak pernah menjenguk bayi. Aku jadi bingung harus beli apa.


"Kita beli apa ya Ndri?"


Andri menoleh menatapku. "Anda bertanya ke orang yang salah Buk. Aku nggak pernah menjenguk bayi. Lagian kan kamu cewek, masa tanya ke cowok sih?!"


"Aku juga nggak pernah menjenguk bayi!!"

__ADS_1


"Permisi Mbak, Mas." Seorang perempuan menghampiri kami. Melihat dari bajunya, sepertinya dia pegawai toko ini. "Ada yang bisa saya bantu?"


Aku dan Andri saling pandang.


"Kita cari baju bayi Mbak!" sahut Andri.


"Eh, tunggu dulu!! Kita kan nggak tahu ukuran baju yang mau kita beli!!" cegahku.


"Iya juga ya." Andri menggaruk kepalanya. "Gimana kalau kita beli pampers?" usul Andri.


"Kita kan juga nggak tahu ukuran pampersnya!!"


"Terus beli apa dong?!"


Pegawai toko tadi tertawa kecil melihat perdebatanku dan Andri.


"Biar saya bantu untuk membeli perlengkapannya," ucap pegawai toko.


"Bayinya laki-laki atau perempuan?"


Aku melongo mendengar pertanyaannya.


Waduh! Aku nggak tahu Adeknya Pipit laki-laki atau perempuan! Aku lupa nggak nanya!


"Saya belum tahu Mbak!" tuturku ke pegawai toko itu.


Pegawai itu tersenyum mendengar ucapanku. "Oala, belum USG ya Mbak? Sudah dapat berapa bulan?"


"Hah?! Apanya yang berapa bulan Mbak?" tanyaku bingung.


"Hamilnya Mbak sudah berapa bulan?" tanyanya lagi.


What?!!


Mataku membulat mendengar pertanyaannya.


"Maaf Mbak, tap--"


"Masih satu Minggu Mbak." Andri memotong ucapanku. Tangannya merangkul bahuku.


Mataku tambah membulat mendengar perkataan Andri. Kupelototi wajah Andri yang tersenyum itu.


"Sstt! Diam! Biar cepet selesai!" bisik Andri.


"Wah, pantas. Meskipun USG pun belum kelihatan jenis kelaminnya," ujar pegawai itu.


"Jadi sebaiknya, perlengkapan apa yang perlu kita beli Mbak?" tanya Andri dengan masih merangkul bahuku.


"Gimana kalau kereta bayi Mas?" tawar pegawai toko.


Waduh! Modus ini! Pegawai tokonya mau untung banyak. Makanya dia nawarin kereta bayi. Harganya kan mahal!


"Ng--"


"Boleh Mbak!" lagi-lagi Andri memotong ucapanku saat aku hendak menolak kereta bayi itu.


"Ndri, beli yang lain aja! Kereta bayi itu mahal!" bisikku ke Andri.


"Udah, nggak papa! Kita itu harus ngasih hadiah yang paling sering dipakai! Kereta bayi kan sering dipakai!" ucapnya sambil mengikuti pegawai toko yang membawa kami ke bagian kereta bayi.


Banyak macam model kereta bayi di sini.


Kutatap wajah Andri yang sedang bingung memilih kereta bayi.


Nah kan, bingung dia! Udah kubilang beli yang lain aja!!


"Yang paling bagus yang mana ya Mbak?" ucapnya sambil menoleh ke pegawai toko.


Apa yang kau tanyakan Ndri?!! Sudah pasti dia akan menyarankan kereta bayi yang paling mahal!


"Kalau menurut saya, yang ini Mas!" pegawai toko itu memilihkan sebuah kereta bayi. "Tapi harganya--"


Nah kan, pasti mahal nih!!


"Saya tidak masalah dengan harganya Mbak," potong Andri. "Saya hanya mau yang terbaik untuk anak saya yang belum lahir ini."


Tangan Andri terjulur ke perutku, dia sedikit mengelusnya. Aku segera menepis tangannya itu.


Aish!! Apaan sih Andri!! Bayi, bayi. Nggak ada bayi di perutku! Adanya nasi pecel!!

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2