
Sepanjang perjalanan ke kantor, aku terus-terusan menghela nafas panjang. Andri tak henti-hentinya meminta maaf kepadaku.
Sampai ke kantor, aku langsung meminjam charger ke Pak Yosua, tapi ternyata dia juga tak membawa charger hp.
Akhirnya aku hanya bisa pasrah. Menunggu pulang, cas hp, setelah itu baru aku akan menelfon Ayah.
Aku fokus menatap layar laptopku, menyusun dokumen untuk meeting besok.
"Sa, aku minta maaf ya," ujar Andri untuk yang kesekian kalinya.
"Iya," jawabku singkat sambil terus mengetik.
Lagian itu salah ku kok!
Hening beberapa saat sampai Andri kembali memanggilku.
"Sa."
"Ya?" sahutku tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
"Kamu marah ya?"
"Nggak, aku nggak marah."
"Kalau kamu nggak marah, kenapa kamu diem terus?"
"Ya kan ini jam kerja. Masa harus ngobrol?!"
"Tuh kan, nadanya gitu. Kamu marah kan?"
Aish! Lama-lama nyebelin juga nih orang. "Nggak Bos Andri, aku nggak marahh," kuubah nada bicaraku dengan senyum yang dipaksakan.
"Tuh kan marah. Nadanya jadi gitu."
"Lah! Aku kalau ngomong emang gitu kok nadanya."
"Nggak. Kamu itu marah!"
"Aish! Ngeyel banget sih! Udah dibilangin aku nggak marah kok!" Hiiigh!!
"Tuh kan marah!"
"Nggak Ndri, aku nggak marah! Kok kamu ngeyel sih?! Ck. Kalau ngomong terus, nggak selesai-selesai pekerjaanku!" Aku bangkit dan berjalan ke mesin foto kopi untuk mengcopy berkas-berkas untuk meeting besok.
Ck! Kertasnya habis lagi!
Aku bergegas keluar ruangan. Hendak mengambil persediaan kertas di ruangan mesin foto kopi.
"Sa! Kamu mau kemana?! Kamu jangan ngehindarin aku kayak gini dong!" ucap Andri sambil berlari keluar menyusulku.
Andri terus saja mengekoriku sampai masuk ke ruangan mesin foto kopi.
"Oke-oke! Aku akan tanggung jawab! Aku akan jelasin semuanya ke Ayah kamu!"
"Apaan sih?! Siapa yang ngehindar coba. Orang cuma mau ambil kertas doang kok!" ketusku.
"Jadi kalian berdua.."
Aku dan Andri serempak menoleh ke ambang pintu, dimana Pak Yosua sedang berdiri di sana dengan ekspresi terkejut.
"Jadi ini alasan kamu menolakku. M-maaf, aku nggak sengaja dengar pembicaraan kalian. Aku permisi dulu!" Pak Yosua urung masuk dan pergi meninggalkan kami.
__ADS_1
"Tunggu Pak! Ini nggak seperti yang Pak Yosua kira!!" Aku menoleh kesal ke Andri. "Heeghh!! Andri!!"
Sekarang nambah lagi satu orang yang salah paham.
________
Seharian tadi aku tak berhasil menjelaskan ke Pak Yosua karena dia sangat sibuk.
Setelah pulang dari kantor, aku langsung masuk ke kamar dan mencari charger hp.
"Charger hpku mana sih?!" Aku mencari charger hp ke segala sudut kamar.
"Ck. Kebiasaan! Barang kalau dicari nggak ada. Tapi kalau nggak dicari nongol terus." Aku ngedumel sambil terus mencari.
Aku mengobrak-abrik bantal dan selimut yang sudah aku lipat rapi hingga berantakan. Bibirku melengkung tersenyum saat menemukan barang yang kucari.
Langsung kusambar charger hp yang bersembunyi dibalik bantal.
Aku mengernyit saat ingin mencolokkan charger tadi ke hpku.
"Kok jadi nggak muat gini?!" kuteliti lagi charger hp yang ada di tanganku. "Kenapa chargernya jadi lebar gini?!"
Aku mengamati kepala charger yang juga ikut berubah lebar.
"Astaga! Ini kan punya Pipit! Ck. Pasti waktu dia kesini kemarin, waktu pulang dia salah bawa charger!"
Aku bergegas keluar dari kosan. Aku harus ke rumah Pipit untuk menukar chargernya.
________
Begitu sampai di rumah Pipit, mataku langsung terbelalak melihat sosok pria yang sedang berdiri mengetuk pintu rumah Pipit.
Aku langsung duduk jongkok, bersembunyi di pagar yang terbuat dari tanaman yang berada di depan rumah Pipit.
Kemudian terdengar suara pintu rumah Pipit terbuka.
"Eh, Om Darma. Silahkan masuk Om," suara Pipit mempersilahkan.
Aku mengendap-endap pergi sebelum Ayah mengetahui keberadaanku.
"Nggak usah, terimakasih! Om kesini cuma mau nanya sama kamu dan tolong kamu jawab jujur! Dimana Tisa tinggal sekarang?!"
Aku urung pergi saat mendengar pertanyaan Ayah.
"Aduh, maaf Om. Waktu itu kan saya udah bilang, kalau saya itu nggak tahu."
Makasih Pit, kamu sungguh sahabat terbaikku.
"Tolong kamu jangan bohong sama Om! Kamu itu temenan sama Tisa udah lama! Om yakin kamu tahu dimana Tisa tinggal sekarang!"
Duhh.. kayaknya ini gara-gara salah paham di telfon tadi deh, makanya Ayah nyari aku!
"Om nggak mau anak cewek Om dekat sama cowok brengsek!!"
"Hah?! Maksud Om apa?!" tanya Pipit bingung.
"Om tadi nelfon Tisa. Dan yang ngangkat malah suara cowok. Dan dengan lancangnya dia bilang kalau Tisa tidur di sampingnya!"
"Apa?!"
Aku menepuk dahiku mendengar tuturan Ayah.
__ADS_1
"Iya! Makanya sekarang Om nyari Tisa. Akan aku hajar cowok brengsek itu!" ucap Ayah geram.
"Nggak mungkin Tisa tidur cowok Om! Aku tahu Tisa, dia itu nggak seperti itu Om!!"
Aku tersenyum bangga dengan Pipit yang membelaku.
Kamu memang sahabat terbaikku Pit!
Saat hatiku sudah mantap kalau Pipit tidak akan memberikan alamatku pada Ayah, aku bergegas pergi sebelum ketahuan.
________
Charger nggak dapet, keluar uang untuk ongkos angkot iya!
Aku bergegas ke dapur untuk mengatasi rasa haus.
"Iya, aku juga kangen sama kamu!"
Aku urung melangkah masuk ke dapur begitu mendengar suara Andri yang sedang berbicara lembut di telfon.
Aku langsung menempelkan tubuhku ke tembok di luar dekat pintu dapur.
Andri lagi ngobrol sama siapa?! Pakek kangen-kangenan juga lagi.
"Gimana kabar kamu sekarang?" tanya Andri ke seberang telfon.
"Bagus deh kalau gitu... Ahaha, iya-iya. Berarti aku nggak perlu cemas dong meskipun aku nggak ada disana."
Siapa yang Andri cemaskan?
"Aku? Aku baik juga kok! ... Iya, kamu tenang aja!"
Andri lagi ngobrol sama sih?!
Aku yang penasaran, terus menempel ke tembok dekat pintu dapur dengan membuka telinga lebar-lebar. Menguping pembicaraan Andri.
"Iya, maaf. Aku masih belum bisa pulang sekarang ... Soal itu.., aku akan coba bicara ke Om dan Papa. Semoga mereka bisa mengerti dan merestui."
Aish! Dia ngobrol sama siapa sih?! Pakek kata merestui segala lagi!
"Iya, kamu nggak usah cemas. Kamu serahin aja semuanya ke aku ... Ahaha, iya-iya. Apa sih yang nggak buat Tiwi-ku!"
Apa?! Tiwi-ku?!
"TISA!!"
Aku terperanjat mendengar teriakan itu. Aku langsung menoleh ke sumber suara. Pipit tergopoh-gopoh membuka pagar kosan.
"Ah. Udah dulu nya Wi," ucap Andri menyudahi sambungan telfon.
Ck! Pit, kamu datang di waktu yang tidak tepat! Aku masih penasaran dengan orang yang ngobrol dengan Andri!
Aku segera menghampiri Pipit yang yang tidak bisa membuka pagar kosan karena dikunci.
"Tisa! Tadi Ayah kamu--"
"Ada apa? Kenapa kamu panik gitu Pit?" tanya Andri yang juga ikut menghampiri Pipit.
"Jelasinnya jangan di sini ya! Yuk ikut aku!" Aku langsung bergegas ke motor Pipit yang terparkir. "Buruan naik!" ucapku agar Pipit bergegas naik ke motor.
Setelah Pipit naik, aku juga ikutan naik dan menyuruh Pipit untuk langsung tancap gas meninggalkan Andri yang masih penasaran dengan kepanikan Pipit.
__ADS_1
BERSAMBUNG