KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Om Andri


__ADS_3

"Apa?!!" Tante Ima membulatkan matanya mendengar perkataan Andri.


Kulihat wajah Yosi, dia juga urung memasukkan sendok ke mulutnya begitu mendengar perkataan Andri.


"Jadi maksud kamu, pawangnya Tisa itu Yosua?!" tanya Tante Ima sambil menatap ke putranya.


"Aduh Tante!" Andri menepuk jidatnya. "Maksud aku bukan depan yang bagian situ. Tapi depan bagian yang in-- Aakh!" Andri berteriak saat aku menginjak kakinya agar dia tak melanjutkan perkataannya.


"Ahaha. Bukan seperti itu maksud Andri Tante. Depan yang Andri maksud itu, biasanya kan jodoh ada di depan kita, tapi kita sering kali tidak menyadarinya," terangku sambil sedikit menekan kakiku yang sedang menginjak kaki Andri.


"Yahh, padahal Tante udah terlanjur senang. Kirain depan itu, Yosua!"


Andri melirikku, kemudian dia menarik kakinya yang sedang aku injak.


"Ayo Tisa, tambah lagi lauknya!" ujar Tante Ima yang sambil melihat ke arah piringku.


"Iya Tante." Aku mengangguk. Pandanganku mengarah ke atas meja dan tertuju pada tempe krispi yang tinggal sepotong. Aku pun mengambil tempe itu.


Hup!


Aku langsung menoleh ke Pak Yosua yang tangannya juga memegang tempe itu. Segera aku menarik tanganku dari tempe itu.


"Ambil aja Pak." Aku mendorong piring berisi sepotong tempe krispi itu ke Pak Yosua.


"Nggak deh, ambil kamu aja tempenya," Pak Yosua mendorong piring itu ke depanku.


"Nggak Pak. Nasiku sudah tinggal dikit kok. Tempenya buat Pak Yosua aja!" Aku kembali mendorong piring itu ke Pak Yosua.


"Nggak papa. Buat kamu aja tempenya. Laukku masih banyak kok!" Pak Yosua kembali mendorong piring itu ke arahku.


"Buat Pak Yosua aja tempenya. Aku bisa ambil lauk yang lain kok!" kudorong kembali piring itu ke Pak Yosua.


"Nggak Tis, kamu aja yang am--"


"Kalau nggak ada yang mau, buat aku aja tempenya!" Andri bangkit dari duduknya dan mencomot tempe krispi itu. "Gitu aja susah banget!"


Aku dan Pak Yosua sama-sama menoleh ke tempe krispi yang dicomot Andri.


Kemudian Andri melahap tempe itu dalam sekali suap.


Begitulah acara makan-makan di rumah Pak Yosua.


Setelah makan, kami bercakap-cakap sebentar lalu berpamitan pulang.


"Sering-sering main kesini ya Tisa," ucap Tante Ima ketika aku mencium tangannya saat berpamitan pulang. "Kalau lagi libur kerja, main aja kesini. Biar nggak sendirian di kosan."


"Di kosan Tisa nggak sendirian kok Tante. Ada tetangga juga!" sahut Andri.


"Ya, nggak papa. Main-main kesini, biar Tante ada teman ngobrol."


Aku hanya berhaha-hihi saja menjawab ucapan Tante Ima.


"Tisa pamit pulang ya Tante. Dahh.." Aku menaiki motor Andri yang sedari tadi mesinnya sudah dinyalakan.


Di sepanjang perjalanan pulang, helm yang kupakai sering kali terbentur ke helm Andri saat motor yang kami tumpangi melewati jalanan yang sedikit berlubang.

__ADS_1


Duk!


Lagi-lagi helm yang kupakai membentur helm Andri.


Duk!


Helm yang kupakai kembali membentur helm Andri.


"Ndri, jalannya milih yang bagus dong!" pekikku dari belakang.


"Hah?!! Apa?!" teriak Andri sambil terus menyetir.


Hmh! Kebiasaan, kalau naik motor mendadak jadi budek deh!


Dukk!!


Kali ini helm yang kupakai membentur keras ke helm Andri karena dia tidak menurunkan kecepatannya saat melewati polisi tidur.


"Udah tahu ada polisi tidur, kenapa nggak pelan-pelan?!" pekikku ke Andri sambil sedikit membetulkan letak helm.


"Mana ada polisi tidur Sa? Bisa dipenjara aku kalau sampai melindas polisi tidur!" sahut Andri sambil terkekeh kecil.


"Lha tadi itu apa kalau bukan polisi tidur?! Tentara tidur?!" sahutku kesal.


"Itu bukan polisi tidur! Tapi speed bump!"


"Sama aja!!"


"Ya nggak sama lah! Kalau polisi tidur itu, tidurnya di kasur!!" bantah Andri sambil terkekeh. "E-eh! Kenapa nih?!"


"Kenapa motornya Ndri?"


Andri menghidupkan motornya tapi tidak menyala.


"Kenapa ya? Kok nggak bisa hidup?" Andri kembali berusaha menghidupkan motornya. Tapi motornya masih tetap tidak bisa menyala.


Aku pun turun dari motor Andri.


"Dasar Bambang! Gimana mau nyala kalau bensinnya habis!!" ucapku sambil menunjuk speedometer motor Andri.


"Oh iya! Bensinnya habis!" Andri terkekeh melihat speedometer yang aku tunjuk.


Andri pun ikut turun dari sepedanya. Dia tolah toleh ke arah jalan raya yang sepi ini.


"Kayaknya tadi di perempatan sana ada toko yang jual bensin deh!" ucap Andri sambil menunjuk jalan yang tadi kami lewati.


"Kamu tunggu di sini sebentar ya Sa. Aku mau jalan kesana beli bensin."


Aku pun mengangguk ke Andri. Sambil menunggu Andri, aku memilih duduk jongkok dan memainkan benda pipih milikku.


Sesekali aku menengok ke Andri yang jaraknya masih belum terlalu jauh.


Beberapa menit sudah berlalu. Tapi Andri masih belum kembali.


"Hoaaamm.." Ini sudah yang kelima kalinya aku menguap. "Andri mana sih?! Kok lama banget!"

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di depanku. Aku pun segera berdiri dari dudukku.


Siapa mereka? Kenapa berhenti di sini?!


Dua orang yang duduk di atas motor itu tersenyum kepadaku. Dari seragam yang mereka pakai, sepertinya mereka masih SMA.


"Cewek! Lagi nungguin siapa nih?!" ucap anak yang memakai topi.


Ck. Dasar anak jaman sekarang! Mereka nggak tahu apa, kalau aku ini udah umur 22?! Mereka pikir aku seumuran dengan mereka kali ya?!


Dari tulisan di seragam bagian lengan, mereka masih kelas satu SMA.


"Kok nggak jawab sih?! Abang temenin ya, biar nggak sendirian!" ucap anak laki-laki yang menyetir.


Hahaha! Abang? Abang gundulmu itu! Kalian harusnya manggil aku Mbak!


"Woy bocah! Jangan gangguin cewek gue!" teriak Andri dari kejauhan.


Kami semua menoleh ke Andri yang sedang berlari menghampiriku.


Anak laki-laki yang memakai topi itu mengernyit menatap Andri yang sedang berlari ke arahku.


"Itu cowok kamu?" tanyanya.


"Iya! Dia cewek gue!" sahut Andri yang sudah sampai di tempatku berdiri. "Mending kalian pergi dari sini!"


Dua anak laki-laki itu memandang Andri dari atas sampai bawah. Lalu dari bawah sampai ke atas lagi.


"Ngapain lu lihat-lihat gue kayak gitu?!"


"Udah Om-om gini! Dia beneran cowok kamu?!" tanya anak laki-laki yang menyetir.


Aku terkekeh kecil mendengar Andri dibilang Om-om.


"Apa kamu bilang?! Aku Om-om?! Enak aja. Aku bukan Om-om ya. Aku baru umur 23 tahun!"


Tapi dua anak laki-laki itu tidak menggubris bantahan Andri. Mereka beralih menatapku.


"Dasar cewek jaman sekarang! Maunya cuma sama Om-om!" ucap anak yang memakai topi kepadaku.


Aku terkekeh mendengar ucapannya. "Ya jelas dong! Kalau sama Om-om itu, kita dijajanin, di kasih duit pula!" ucapku menambah sedikit drama.


"Lah kalau pacaran sama kalian? Dapat apa? Kalian aja masih sekolah, belum kerja. Palingan kalau pacaran sama kalian cuma diajak jalan doang, nggak dikasih makan!" lanjutku.


"Ini semua gara-gara Om tahu nggak!" Anak yang memakai topi malah menyalahkan Andri. "Gara-gara kalian, para Om-om. Yang maunya cuma sama yang muda-muda. Kami jadinya tidak kebagian cewek! Masa kami harus sama Tante-tante?!"


Aku tambah terkekeh mendengar curhatannya.


"Udah dibilangin gue bukan Om-om! Sekali lagi kalian manggil gue Om, gue gibeng kalian berdua!" ancam Andri yang membuat mereka berdua melajukan motornya meninggalkan kami.


"Ahaha!" tawaku pecah ketika anak-anak tadi sudah ngibrit jauh. "Kok lama banget sih Om beli bensinnya?" selorohku.


Andri mendelik karena aku memanggilnya Om, membuatku kembali terkekeh. Tapi tiga detik kemudian dia tersenyum. "Oh, kalau gitu berarti kamu pacaran dong sama aku?! Kan tadi kamu ngaku tuh kalau pacaran sama Om-om. Dan barusan kamu manggil aku Om. Berarti kamu nganggep aku pacar dong!"


Seketika tawaku hilang mendengar kesimpulan Andri.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2