KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Kerja


__ADS_3

Andri menghempas tangan cowok itu.


Cowok itu malah terkekeh. "Ooo, jadi kamu udah ada yang booking ya. Makanya kamu nggak mau sama aku! Memangnya kamu dibayar berapa sama dia?!! Mending kamu ikut sama aku, nanti aku bayar lebih daripada dia!"


"Kurang ajar kamu ya! Aku bukan laki-laki bej*at kayak kamu! Dan Tisa juga bukan perempuan seperti itu!!"


BUAGH!!


Andri memukul wajah cowok itu.


"Sial*n!! Berani-beraninya lu mukul gue!!" umpat cowok itu. Dia balas mengayunkan tinjunya ke Andri.


Dengan cepat Andri menghindari tinju itu.


Kemudian Andri melayangkan tinjunya yang mendapat di perut cowok itu.


BUAGH!


"AAARGH!" cowok itu berteriak kesakitan.


Andri meraih bahu cowok itu, menariknya. Mensejajarkan lututnya dengan perut cowok itu


BUAGH!! BUGH!!


Lutut Andri beberapa kali menghantam perut cowok itu.


Kemudian Andri kembali memukul wajahnya.


BUGH! BUGH! DUAKK!!


Akhirnya cowok itu tumbang. Andri berhenti memukulinya.


"Cepat pergi dari sini!!" titah Andri ke cowok itu.


"Uhuk uhuk!" cowok itu terbatuk dan sedikit mengerang kesakitan.


"Cepetan pergi sebelum aku berubah pikiran!!" teriak Andri lagi.


Cowok itu segera bangkit dan melarikan diri.


"Kamu nggak papa?! Dia nggak ngapa-ngapain kamu kan?!!"


"Aku nggak papa. Makasih ya Ndri."


"Siapa dia itu?!!"


Aku menggeleng. "Aku nggak tahu. Tadi dia nyari Mbak Lina. Karena tadi dia terus menggedor pintu kamar Mbak Lina, jadi aku menghampirinya untuk memberitahu kalau Mbak Lina nggak ada."


"Besok-besok lagi kalau ada orang yang nyari Mbak Lina kesini, sebaiknya kamu nggak usah menghampirinya. Abaikan saja selama orang itu tidak bertanya kepadamu."


Aku mengangguk menjawabnya.


________


"Yeeyy!! Aku diterima!!! Makasih ya Pit!!" Kupeluk Pipit dengan erat.


Beberapa menit yang lalu, aku melakukan wawancara. Dan aku diterima kerja di kafe itu.


"Jangan cuma makasih, traktir dong!!" sahut Pipit.


"Emangnya aku mau mentraktir kamu pakek apa?! Uang aja tinggal lima puluh dua ribu!!"


"Eh, Tis. Kira-kira masih laku nggak ya, uang kamu itu? Kan udah pernah sobek jadi dua. Ya, meskipun udah disambung pakek isolasi sih!"


Kalau dipikir-pikir, benar juga sih. Emang ada toko yang mau menerima uang yang sudah sobek?

__ADS_1


Kemudian aku tersenyum simpul. "Tenang aja. Kalau mau beli-beli nanti, aku akan melipat uangnya begitu kecil sampai bekas isolasinya tidak terlihat!!"


"Wah, penipuan itu namanya!!" sahut Pipit.


"Ya nggak lah! Kan bukan uang palsu!" ucapku terkekeh.


Pipit juga ikut terkekeh. "Dasar!"


Dari wawancara tadi, besok aku sudah mulai kerja.


________


Aku langsung pulang ke kosan setelah wawancara tadi.


Karena saking senangnya, aku sampai tidak menyadari bahwa gang yang aku lalui saat ini penuh dengan anak-anak geng motor.


Siulan dari salah satu mereka lah yang membuatku tersadar.


"Cewek! Mau kemana? Sendirian aja nih?" ucap salah satu dari mereka.


Aku tak menghiraukan mereka dan tetap berjalan.


"Abang temenin ya!" ucap laki-laki itu lagi sambil berjalan sejajar denganku.


Aku tidak menjawabnya dan mempercepat langkahku.


"Mau kemana sih?! Kok buru-buru amat!" laki-laki itu juga ikut mempercepat langkah kakinya.


"Kalau cuek gini, jadi tambah bikin penasaran tahu! Minta nomor hpnya dong!!" dia mengalungkan tangannya di leherku.


Saat aku ingin menepisnya, seseorang dari belakangku lebih dulu menyingkirkan tangan itu dari leherku.


"Maaf, tapi dia sudah ada yang punya!"


Aku kenal suara ini!


"Jangan ganggu cewek gue!!" ucap Andri lagi.


Mendengar ucapan Andri, laki-laki tadi hanya bisa mendengus dan kembali duduk bergabung dengan temannya.


"Ayo kita pulang sayang!" Andri merangkul bahuku.


Aku melempar tatapan tajam ke arahnya.


"Udah, ayo jalan. Dengan begini, mereka tidak akan mengganggumu!!" bisik Andri.


Meskipun aku sedikit tidak suka dia merangkulku, tapi aku tetap menurut. Kami mulai berjalan dengan tangan Andri merangkul bahuku.


"Gimana tadi wawancara kerjanya?"


"Aku diterima!" sahutku senang.


"Wah, selamat ya! Kapan mulai masuk kerja?"


"Besok."


Dia.. Wangi!


Aku segera menepis pikiran itu.


Astaga!! Apa yang aku pikirkan?!!


________


Jam sudah menunjukkan pukul satu siang.

__ADS_1


Sejauh ini, aku tidak melakukan kesalahan.


Kalau cuma mencatat dan mengantar pesanan sih, itu hal yang mudah bagiku.


Kemudian mataku tidak sengaja menangkap seorang pelanggan sedang menggoda teman kerjaku.


Aku segera menghampiri mejanya dan melepas tangannya yang memegang lengan teman kerjaku.


"Tolong yang sopan ya Mas!" ucapku memperingatkannya.


Kami memang pelayan di kafe ini, tapi dia tidak berhak melecehkan kami.


"Galak amat sih! Nanti cantiknya hilang lho!" ucapnya sambil mencolek daguku.


Aku menepis tangan itu dengan kasar. "Jangan kurang ajar ya!"


Wajah pelanggan itu berubah menjadi kesal.


Aku merasa seseorang menarik ujung bajuku. Aku menoleh menatap teman kerjaku, Rini.


Tatapannya mengatakan untuk tidak meladeni pelanggan itu.


Aku tahu, dia pasti takut jika terjadi keributan.


"Pembeli itu adalah raja!" protesnya.


"Pembeli adalah raja, tapi penjual adalah dewa!" sahutku tak mau kalah.


Dia terkesiap mendengar ucapanku.


"Kalian itu cuma pelayan di sini! Tugas kalian itu adalah melayani pelanggan dengan benar!!" ucapnya dengan nada tinggi, membuat semua mata tertuju ke meja ini.


"Kalau pelanggannya model anda gini, kami juga berhak tidak melayani anda!" sahutku makin nyaring.


Sekarang saat ini kami benar-benar menjadi pusat perhatian.


"Maaf, ada apa ini?!!" tiba-tiba atasanku menghampiri kami.


"Pelayanan di kafe ini sangat buruk! Aku akan posting di sosial media supaya semua orang tahu!!"


"T-tolong jangan seperti ini Tuan. Semua pasti bisa dibicarakan secara baik-baik," ucapnya berusaha membujuk pelanggan itu.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan!! Karyawan anda sudah bersikap tidak sopan kepada saya!!" pelanggan itu memutar balikkan fakta.


"Kami minta maaf atas ketidaknyamanannya Tuan." Atasanku menundukkan kepalanya pada pelanggan itu.


Kemudian dia menatapku tajam. Matanya mengisyaratkan sesuatu.


Apa?!! Aku tidak akan menundukkan kepalaku padanya!!


"Cepat bungkukkan badan kalian dan minta maaf padanya!!" titah atasanku dengan penuh penekanan.


Aku bisa melihat senyum puas di wajah pelanggan itu.


"Maafkan saya Tuan." Rini langsung patuh dan membungkukkan badannya.


"Ngapain kamu minta maaf?! Kamu kan nggak salah!!" Aku menegakkan tubuh Rini. Tapi tubuhnya malah kaku, menolak untuk tegak.


Atasanku melotot padaku karena aku tak kunjung membungkukkan badan. "Apa yang kau lakukan Tisa?! Cepat minta maaf padanya!!" ucapnya sambil menekan kepalaku agar menunduk pada pelanggan itu.


Aku tidak akan menundukkan kepalaku padanya!!


Aku menepis tangan atasanku.


"Yang salah itu dia Pak! Dia yang sudah nggak sopan sama Rini! Kenapa kita yang harus minta maaf?!!"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2