
Dan pada akhirnya Andri tidak jadi menjalin kerjasama dengan Pak Sam.
Kami saling menghela nafas lega ketika memasuki mobil hendak pulang.
Ketika Andri menghidupkan mesin mobil, aku masih sibuk dengan sabuk pengaman yang macet.
"Macet ya?" tanya Andri.
"Ck. Iya nih!" Aku masih terus berusaha menarik sabuk pengaman.
"Jangan ditarik-tarik kayak gitu. Kasar banget sih nariknya. Cewek tuh harus lemah lembut," tutur Andri yang hanya mendapat lirikan dariku.
"Kalau ditarik kenceng kayak gini aja nggak bisa, apalagi ditarik lembut!!" sahutku kesal.
Andri hanya terkekeh mendengar sahutanku.
"Tapi meskipun kasar-kasar gini, aku tetep suka kok!"
Deg!
Aish! Apaan sih nih jantung, nggak jelas banget!
Sekuat apapun aku berusaha menarik sabuk pengaman, tapi tetap saja macet.
Seet!
Aku menahan nafas ketika Andri tiba-tiba mendekat dan membantuku menarik sabuk pengaman.
"Nggak usah tegang gitu. Nafas aja!" ucap Andri sambil menarik sabuk pengaman yang macet.
Fyuhh!
Eh! Kenapa aku jadi nurut?!
Mataku yang sedang menatapnya menjadi juling karena Andri terlalu dekat.
Sial! Kenapa dia wangi banget?!
Ceklek!
Hahh..
Akhirnya Andri menjauh dariku setelah dia berhasil menarik sabuk pengaman dan memasangkannya. Mobil pun melaju meninggalkan hotel.
Andri mulai bersenandung kecil. "Lupa. Lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya.." dia berhenti bernyanyi dan menoleh ke arahku. "Kamu tahu nggak kenapa lupa syairnya?" tanya Andri.
"Ya karena memang itu udah liriknya!"
"Bukan!"
"Lah, terus apa?"
"Karena ingatnya cuma sama kamu! Eaa!!"
"Apaan sih Ndri?! Garing tahu nggak!"
"Yaudah deh, biar nggak garing aku mau berhitung aja. Nanti kamu koreksi. Ada yang salah apa nggak."
Aku mengernyit tidak mengerti maksud Andri. Sebelum aku bertanya maksud Andri, dia sudah mulai berhitung.
"Satu, tiga, empat, lima.." Andri berhenti berhitung dan menoleh kepadaku. "Ada yang kurang nggak dari angka-angka tadi?"
"Nggak ada duanya," sahutku.
"Iya, sama kayak kamu! Nggak ada duanya di hati aku!!"
Blush!
Aish! Apaan sih. Padahal kan gombalan ini sering muncul di tv atau di sosmed. Tapi kenapa waktu Andri yang ngucapin jadi beda gini ya?!
__ADS_1
"Sa."
"Hm."
"Aku punya saran untuk nama kamu di masa depan."
"Hah? Nama di masa depan? Apa?" tanyaku bingung.
"Nyonya Andri!" sahut Andri dengan terkekeh kecil.
Aku hanya bisa menggaruk leherku yang tidak gatal dan membuang muka ke kaca mobil.
"Kalau mau senyum, senyum aja kali. Nggak usah ditahan!" ujar Andri. "Eh, jangan deh. Kamu jangan senyum!"
Aku langsung menoleh ke Andri mendengar ucapannya. "Emangnya kenapa?"
"Nanti aku bisa diabetes!"
"Hah? Apa hubungannya aku senyum sama diabetes?!"
"Kamu nggak senyum aja udah manis. Apalagi kalau senyum, jadi kemanisan dong!" ucap Andri tanpa menoleh ke arahku.
Aargh! Kenapa nih mulut kedut-kedut mau senyum sih?!
"Sa, aku tahu kamu itu sebenarnya ada sedikit rasa suka sama aku!"
Jiahh! PD banget nih orang!
"Nggak usah kepedean!" ketusku.
"Aku nggak tahu kenapa kamu nolak aku. Tapi cepat atau lambat, aku akan mengubah keputusanmu itu!"
Duhh.. Kenapa suasananya jadi aneh gini sih?!
"Sa--"
"Stop ya Ndri!" potongku. "Aku mau tidur sebentar sebelum sampai ke kantor!" ucapku berasalan.
"Yahh.. Jangan tidur dong Sa. Temenin aku ngobrol."
Aku tak menggubris ucapan Andri dan tetap memejamkan mata pura-pura tidur.
"Sa."
Aku tak menyahuti panggilan Andri.
"Sa."
Aku tetap tak menyahuti panggilan Andri. Empat kali dia memanggilku. Sampai akhirnya dia menyerah dan tidak memanggilku lagi karena mengira aku sudah terlelap tidur.
"Mimpiin aku ya Sa!" ucap Andri. Aku hanya mendengus kecil karena sedang pura-pura tidur.
Mobil terus melaju dalam keheningan.
Sampai akhirnya kurasakan laju mobil melambat dan akhirnya berhenti.
Dari berisiknya suara klakson mobil dan motor, sepertinya kami terjebak macet.
Haah.. Ternyata pura-pura tidur itu capek juga ya.
Sudah lima belas menit suara klakson di luar mobil terus saja berisik, yang artinya macet masih panjang.
"Haaah.." terdengar Andri menghela nafas panjang.
Sepuluh menit terlewati sudah. Tapi kami masih juga berada di kemacetan.
Tririring!
Hpku berbunyi. Sepertinya seseorang menelfonku. Aku yang sedang pura-pura tidur tak bisa mengangkatnya.
__ADS_1
Apa aku akting sudah bangun aja ya?
Hpku terus saja berdering. Tiba-tiba terasa sebuah tangan mengambil tas yang ada di pangkuanku.
"Aku bantu angkat telfonnya ya Sa. Takutnya penting," ujar Andri.
"Halo?" sepertinya Andri mengangkat telfon di hpku.
[ Siapa ini? Kenapa yang ngangkat cowok?! ]
Gawat! Itu suara Ayah!
Sepertinya Andri menekan tombol speaker, karena aku dengan jelas bisa mendengar suara Ayah.
"Maaf Om, saya cuma bantu angkat telfonnya--"
[ Mana Tisa?! ] tanya Ayah memotong ucapan Andri.
"Tisa-nya lagi tidur Om--"
[ Apa?!! Tidur?! Kamu jangan macam-macam sama anak saya ya!! ]
Aduh! Mampus aku. Kayaknya Ayah salah paham!
"Nggak Om! Om salah paham! Tisa memang tidur di samping saya. Tapi saya--"
[ Apa?!! Berani-beraninya kamu terang-terangan bilang tidur sama anak saya!! ]
Aargh! Penjelasan Andri malah bikin Ayah tambah salah paham!!
"Bukan Om! Maksud saya bukan begitu. Om salah pa--"
[ Diam kamu! Jangan bicara lagi!! Bangunin Tisa sekarang!! ] nada bicara Ayah sudah tak bersahabat lagi.
Andri masih terdiam tak menjawab Ayah.
[ Halo!! Awas kalau kamu sampai macam-macam sama anak saya!! Cepet bangunin Tisa sekar-- ]
"Yaah.. HP-nya mati!"
Aku langsung membuka mataku mendengar perkataan Andri.
Tidakk!! Aku bahkan belum menjelaskan kesalahpahamannya!
"Tisa! Kamu udah bangun!" ucap Andri yang menoleh ke arahku. "Tadi Ayah kamu nelfon. Aku angkat, tapi dia malah salah paham."
Aku segera meraih hpku yang sedang Andri sodorkan.
"Kenapa kamu nggak bangunin aku?!" sahutku sambil mencoba menghidupkan hpku kembali. Tapi tidak bisa karena begitu aku hidupkan, hpku mati kembali karena baterainya nol persen.
"Awalnya aku mau bangunin kamu. Tapi aku nggak tega, karena kamu tidurnya pulas banget sampai nggak denger hpmu berbunyi."
Aku hanya bisa mengusap wajahku mendengar tuturan Andri.
Ya, benar! Ini salahku! Salahku karena
pura-pura tidur!
"Terus, Ayah kamu nyuruh aku buat bangunin kamu. Tapi hp kamu malah mati duluan sebelum aku sempat bangunin kamu."
Aargh! Aku harus cepet meluruskan kesalahpahaman ini ke Ayah!
"Kamu bawa charger nggak?" tanyaku ke Andri yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Andri.
Lagi-lagi aku mengusap wajahku frustrasi.
Ck! Ini salahku, salahku!!
"Maaf ya Sa. Gara-gara aku ngangkat telfonnya, Ayah kamu jadi salah paham. Dia ngira kamu tidur sama aku," tutur Andri dengan wajah bersalahnya.
__ADS_1
Aku tahu Ndri! Aku juga denger tadi!!
BERSAMBUNG