KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN
Bagaimana Dia Bisa Tahu?


__ADS_3

"Loh, kok hp Andri yang berdering?!"


Aku kembali mematikan panggilan dan menelfon lagi. Kuulang-ulang sampai beberapa kali. Dan diikuti dengan nada dering hp Andri yang terus berbunyi. Membuatku jadi berpikir...


"Halo Ndah, ada apa?" terdengar Andri berbicara di telfon tepat saat aku kembali memencet tombol telfon. "Dari tadi mau aku angkat, tapi keburu dimatiin sama kamu."


Aku sedikit menertawai kekonyolanku yang sempat mengira bahwa Andri adalah orang itu.


[ Halo? Halo! Oi! ] suara teriakan dari hpku membuatku tersadar.


Rupanya orang sinting itu sudah mengangkat telfon dariku.


"Ah, iya! Halo!"


[ Kupikir kau ke kafe sendirian. Rupanya kau datang dengan seseorang. Siapa dia? ]


Kalau dia tahu aku datang kesini dengan Andri, berarti dia sudah datang duluan ke kafe ini sebelum aku. Tapi dimana dia?


[ Ah, aku tahu! Dia kan cintamu yang bertepuk sebelah tangan! ] serunya dari seberang sana yang membuat mataku melebar.


"Siapa yang kau bilang bertepuk sebelah tangan?! Kami saling mencintai!"


[ Oh ya? Lalu kenapa kalian putus? ]


Lidahku mendadak kelu mendengar pertanyaannya.


[ Iya, tak usah kau jawab. Aku tahu kok kalau cintamu bertepuk sebelah tangan. ]


"Sudah kubilang aku tak bertepuk sebelah tangan! Kami putus karena dia dijodohkan," ujarku pada akhirnya.


[ Wah, sama kayak kita dong berarti! ]


"Jangan samakan Andri denganmu! Dia itu menerima perjodohan karena demi keluarganya. Sementara kau hanya demi bisnis!"


[ Wah wah.. Sepertinya kau sangat mencintainya ya. Sudah putus pun kau masih membelanya. Sayangnya cuma bertepuk sebelah tangan! ]


"Heegh! Dibilang--"


Sudahlah Tisa. Apa kau lupa kalau sekarang kau sedang bicara dengan orang gila? Dia tak akan paham apa yang kau ucapkan!


Akal sehatku menyuruhku untuk berhenti berdebat.


"Lupakan soal bertepuk sebelah tangan itu. Cepat kemari! Kau membuatku menunggu! Aku juga tak suka menunggu tahu!"


[ Ahaha.. ] dia malah tertawa. [ Sepertinya kita jodoh ya. Buktinya kita punya kesamaan ]


"Cih!" Aku hanya berdecih mendengar kesimpulannya itu.


"Kau ada dimana sih?!" tanyaku kesal sambil tolah-toleh menyapukan pandangan ke seluruh kafe yang memang sedang full karena sedang jam istirahat kantor.


[ Percuma kau tolah-toleh gitu. Kau kan nggak tahu aku. ] Ucapnya dengan terkekeh.


"Jika kau melihatku, kenapa kau tak kesini? Cepatlah ke sini! Bukankah kau yang mengajakku untuk bertemu di kafe ini untuk--"


[ Aku berubah pikiran! ]


Mataku membulat lebar.


"Apa maksudmu?!"

__ADS_1


[ Setelah aku pikir-pikir lagi, kenapa aku harus menuruti keinginanmu untuk membatalkan perjodohan ini? Memangnya imbalan apa yang aku dapat jika menurutimu? ]


"Apa?!"


Gigiku gemeletuk karena geram setelah merasa seperti dipermainkan olehnya.


[ Rugi sekali aku jika menolak perjodohan ini! ] imbuhnya. [ Aku akan kehilangan aset besar yang sangat menjanjikan. Ditambah, aku juga akan kehilangan calon istri yang ternyata lumayan cantik! ]


Mataku mendelik saat mendengar kalimatnya yang terakhir.


[ Harusnya waktu itu aku datang menemuimu. Bukannya malah menyuruh temanku. Harusnya sudah dari dulu aku menyetujui perjodohan ini! Sudah ya aku tutup dul-- ]


"Tunggu dulu!" sergahku. "Lalu bagaimana denganku? Aku nggak setuju dengan perjodohan ini! Aku nggak mau menikah denganmu! Aku hanya mau menikah dengan orang yang aku cintai!"


[ Orang yang kau cintai? Orang mana yang kau maksud? Apa orang yang akan menikah dengan jodohnya itu hm? ]


Aku tahu yang dia bicarakan adalah Andri. Aku menoleh kearah Andri yang sepertinya masih asyik berbicara dengan Indah.


[ Keputusanku sudah bulat! Aku akan tutup telfonnya. By! ]


Klik!


Lagi-lagi telfon dimatikan saat aku belum selesai bicara. Aku hanya bisa menghela nafas panjang.


"Mbak Tisa?"


Aku yang terkejut langsung menoleh saat namaku dipanggil. Seorang laki-laki yang tak kukenal berdiri di sampingku sambil membawa sebuah paper bag.


"Ya, ada apa ya Mas?" tanyaku bingung karena dia tahu namaku.


"Ada titipan untuk Mbak Tisa," ucapnya sambil menyerahkan paper bag tadi kepadaku.


Aku mengernyit bingung. "Maaf Mas. Tapi aku tak merasa pernah memesan barang. Mungkin Mas salah orang."


Sedetik kemudian suara pesan masuk ke hpku. Pesan dari orang sinting.


[ Buka lah. Aku membelinya untukmu! ]


Rupanya paper bag ini dari dia!


Segera aku membuka paper bag yang di dalamnya berisi kotak hitam.


Kukeluarkan kotak hitam itu. Begitu kubuka kotaknya, tampaklah sepasang sepatu wanita warna putih yang sangat cantik.


Meskipun tanpa heels, sepatu itu bahkan terlihat elegan karena hiasan yang seperti permata bertabur di sana.


Kuraba hiasan yang seperti permata itu.


Semoga ini bukan permata sungguhan. Karena kalau benar ini permata sungguhan, aku tak bisa memakainya karena permata ini begitu mahal. Bagaimana mungkin aku memakainya di kaki?! Ah, apa yang sedang aku pikirkan?!


Tring!


Lagi-lagi pesan darinya.


[ Pakailah pas pernikahan kita nanti! ]


Aku mendelik membaca pesan itu.


Belum sempat aku membalas, pesan darinya kembali masuk lagi.

__ADS_1


[ Aku tahu kau tak bisa memakai sepatu yang ada heelsnya. Sepatu ini pasti cocok denganmu! ]


Bagaimana dia bisa tahu kalau aku tak bisa memakai sepatu yang ada heelsnya?!


Tak ingin membuatnya tambah besar kepala, aku pun mengirim pesan kepadanya setelah melihat-lihat bentuk sepatu yang seperti kekecilan untuk kupakai.


[ Sepatu ini terlihat sangat kecil. Tentu saja tak muat di kakiku! ] begitu bunyi pesanku.


"Hmh! Sok tahu sekali dia pakek acara membelikan sepatu segala, padahal dia tak tahu ukuran kakiku!" Aku tersenyum mengejek menatap sepatu di depanku.


Tring!


Pesan darinya kembali masuk.


[ Kenapa kau bisa lupa dengan ukuran kakimu sendiri?! Kau tidak akan tahu itu muat atau tidak jika kau tak pernah mencobanya! Coba pakailah! ]


Kuturuti perintahnya dengan menurunkan satu sepatu dari meja ke lantai, lalu kumasukkan kakiku ke sana.


Mataku membulat saat sepatu ini benar-benar pas di kakiku.


Belum juga rasa terkejutku hilang, hpku berdering. Dia menelfonku.


[ Gimana? Pas sekali kan? ] ucapnya dengan bangga.


"Bagaimana kau bisa--"


[ Sudah kukatakan aku tahu semua tentangmu! ]


Jawabnya lagi-lagi membuatku kalah telak.


Dia tahu semua tentangku. Tapi aku tak tahu apapun tentangnya.


Aku tak tahu rupanya seperti apa. Bahkan aku juga tak tahu namanya!


Dia tak pernah memberitahukan namanya. Aku juga gengsi jika harus menanyakan namanya. Nanti dia malah berpikir kalau aku sudah mulai tertarik dengannya lagi.


"Tapi sayangnya sepatu ini tidak akan pernah aku pakai!" ucapku pada akhirnya.


[ Kenapa? Bukankah ukuran sepatunya sangat cocok? ]


"Aku tidak akan pernah memakainya, karena pernikahan itu tidak akan terjadi!" jawabku dengan menekan setiap kata.


Hening beberapa saat, dia tak menjawabku.


"Sudah kubilang, aku hanya akan menikah karena cinta! Sedangkan aku tak mencintaimu!"


Terdengar suara tawa dari seberang telfon.


[ Omong kosong! Kau akan jatuh cinta padaku jika kau tahu wajahku! ] ucapnya dengan sombong yang membuatku sedikit berdesis.


[ Kau tak percaya? Baiklah. Akan kukirimkan fotoku sekarang juga! ]


Setelah itu dia langsung mematikan panggilan, disusul dengan satu pesan darinya.


Saat aku buka pesannya, terlihat sebuah foto yang masih buram karena belum aku unduh.


Segera aku menekan layar hp untuk mengunduhnya demi menghilangkan rasa penasaran akan rupanya orang sinting itu.


Lama aku menunggu, tapi lingkaran di layar hp terus saja berputar-putar karena masih loading.

__ADS_1


Dan akhirnya setelah beberapa saat..


BERSAMBUNG


__ADS_2