Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 22


__ADS_3

Dira sangat kecewa dengan cara Sela. Dira yang begitu peduli kepadanya ternyata dibohongi demi kepuasan semata. Sela menyesal, ia meminta Arsan untuk membantu membujuk Dira agar mau memaafkan Sela. Arsan pun masih kesal dengan cara yang Sela lakukan. Dira yang rela berkorban untuknya ternyata hanya memanfaatkan keadaan demi mendapatkan sebuah jam tangan mewah.


"Ar, gimana dong, Dira marah sama aku. Bantuin, Arsan, aku nyesel," ucap Sela sambil menggeser bangku ke meja Arsan.


"Kamu sih, Sel. Masa sama sahabat sendiri kamu tega berbohong. Kamu gak lihat tu Dira tulus buat nolongin kamu," jawab Arsan dengan kesal.


"Aku nyesel, serius aku nyesel," ucap Sela dengan menutup wajah dengan kedua tangannya. "Dira, aku gak bisa jauh dari kamu."


"Nanti kita ngobrol sama Dira. Dia lagi pusing banyak masalah hari ini, Sel," ujar Arsan sambil menenangkan Sela. "Udah, kamu sabar dulu, Dira gak mungkin diamin kamu lama-lama."


Bel berbunyi, jam pelajaran pertama pun dimulai. Dira masih kecewa dengan Sela. Ia pun mendiamkan Sela yang berusaha membujuknya. Hari ini mata pelajaran matamatika. Karena Bu Guru ada rapat jadi sekelas diberi tugas. Dira yang biasanya paling cepat mengerjakan, seketika buyar. Ia masih memikirkan kejadian di parkiran tadi.


Ya ampun, perang dunia ketiga beneran terjadi. Duh, kenapa pemikiranku kesitu terus. Kak Panji lagi Kak Panji lagi yang muncul dipikiran. Fokus Dira!! Fokus!!


Sambil mengambil pensil dari dalam lalu mulai mengerjakan soal.


Arsan pun menghampiri Dira untuk mengerjakan tugas bersama. Sela yang ingin bergabung pun menahan dirinya. Karena ia tak mau Dira bertambah kesal nantinya.


"Dira, kamu kok beda banget hari ini," tutur Arsan sambil melihat wajah Dira.


"Beda gimana?"tanya Dira menoleh kearahnya.


"Ya beda aja, kamu cantik banget hari ini, Dir," ucap Arsan. "Coba deh kamu ngaca, pasti kacanya jatuh cinta sama kamu."


"Mulai deh lebay kamu, Ar," ujar Dira sambil mengerjakan tugas. "Jujur ini menurutku aneh, aku terpaksa tadi kayak gini."

__ADS_1


"Dipaksa Panji? Kamu pergi bareng Panji ya?" tanya Arsan penasaran.


"Ya, Arsan. Terpaksa, karena Mama yang nyuruh," jawab Dira.


Arsan pun diam dan melanjutkan untuk mengerjakan tugas. Setelah selasai, Arsan mengajak Dira ke kantin. Dira pun menerima ajakan Arsan dengan syarat Sela tidak ikut. Karena Dira masih kesal dan ingin menjauh dulu dari Sela. Arsan hanya bisa mengikuti kemauan Dira. Lalu, Arsan pun menghampiri Sela.


"Sel, untuk sementara ini kamu ikuti dulu apa mau Dira. Dia pengen tenangin diri," ucap Arsan.


"Ya udah, gak apa-apa, Ar. Yang penting kamu harus bantuin aku mujuk Dira, aku gak tenang kalau harus kayak gini," jawab Sela memohon.


Arsan meninggalkan Sela dan kembali ke meja Dira. Lalu, mereka pun berjalan ke kantin. Ditengah asyik berbincang, tiba-tiba Aurel datang menghampiri mereka. Aurel marah-marah, ia meminta Dira untuk tidak berpenampilan seperti itu. Ia menyuruh Dira memakai kacamata dan mengikat rambutnya seperti biasa.


"Eh, Dira. Mana kacamata kamu, buruan pakai sekarang. Ini juga rambut kamu, buruan ikat," bentak Aurel sambil menarik rambut Dira.


"Jangan kasar dong, kenapa sih kamu, Rel. Dira jelek salah, cantik salah. Maunya apa?" tanya Arsan sambil melepaskan tangan Aurel yang sedang menarik rambut Dira. "Iri banget jadi cewek."


"Dira itu berhati lembut, tidak sombong, dan malah justru lebih cantik dari kamu!!" bentak Arsan ke Aurel.


"Udah yuk Dira, kita tinggalin cewek resek ini," ajak Arsan sambil menarik tangan Dira.


Akhirnya, Dira dan Arsan pun menunju kantin. Arsan menyuruh Dira untuk menunggu dibangku paling ujung. Arsan pergi memesankan makanan. Tiba-tiba muncul Panji, ntah dari mana ia datang. Sering kali Panji muncul secara mendadak dihadapan Dira yang membuatnya kaget. Dira ingin berdiri dan mencari tempat duduk lain, tapi apalah daya, sudah penuh dipadati oleh para siswa. Panji seperti ingin mengungkapkan sesuatu, tetapi karena suasana di kantin begitu riuh. Akhirnya, Panji menundanya dulu dan ia pun pergi.


Kak Panji tadi ngomong apa ya, aku penasaran. Habisnya di sini ribut banget.


Arsan datang membawakan lontong sayur kesukaan Dira bersama minuman es teh yang sangat membuat dahaga lega. Mereka pun segera melahap makanan itu. Arsan yang sudah berteman dengan Dira dari SMP, baru detik ini melihat Dira bertengkar dengan Sela sahabatnya. Arsan mulai bicara soal Sela.

__ADS_1


"Dir, kamu gak mau maafin Sela?" tanya Arsan. "Ya dia emang salah, tapi dia memohon maaf sama kamu, Dir."


"Soal itu aku udah maafin dia, cuma untuk sekarang, aku mau menjauh dulu, Ar. Aku masih kesel aja sama sikapnya," jawab Dira sambil meneguk es teh di atas meja. "Kamu bayangin, kita udah sahabatan dari SMP."


"Ya, aku ngerti, Dir," ucap Arsan. "Kamu gini terus ya, Dir. Aku suka lihat gaya kamu begini. Lihat aja sekelas pada ngomongin kamu itu cantik loh, Dira." Memandangi wajah Dira dengan tersenyum.


"Apaan sih, aku biasa aja. Lebih Cantik Rena dan Kak Aurel," jawab Dira membalas senyum.


"Dir, kamu ada suka gak sama cowok?" tanya Arsan penasaran.


Duh, pertanyaan Arsan. Mungkin sepertinya aku menyukai seseorang. Kadang itu kamu, kadang Kak Panji. Kenapa kalian selalu membuat hati aku bingung. Dalam lamunannya, Dira bingung mau menjawab apa.


"Hei, Dira!!" sapa Arsan mengagetkan Dira dari lamunannya. "Hari Sanjaya bertanya kepadamu."


"Gak tau soal itu, Ar," jawab Dira beralasan. "Yang aku pikir lomba basker awal bulan nanti, kamu harus dukung aku ya."


Setelah mereka selesai makan, lanjut ke perpustakaan. Seperti biasa, Dira selalu rajin membaca novel dijam istirahat. Setiap ada novel terbaru pasti ia pinjam untuk dibaca di rumah. Tiba-tiba tak sengaja bertemu Rena di perpustakaan. Lagi-lagi asal bertemu dengan Arsan, Rena mulai heboh mengeluarkan suara cemprengnya. Rena sibuk menggoda Arsan yang sedang duduk menunggu Dira mencari novel. Rena pun ikut duduk berhadapan dengan Arsan. Arsan sangat risih dengan keberadaan Rena. Ntah kenapa, padahal Rena ini cewek paling cantik di kelas X.


"Ren, ngapain sih di sini?" tanya Arsan.


"Mau nemenin kamu, Arsan," jawab Rena senyum-senyum. "Kapan kita jooging bareng?"


Kebetulan ada Raka, Arsan mencari kesempatan agar bisa pergi dari Rena.


"Kenapa gak sama Raka aja, Ren," ujar Arsan. "Woi, Raka, sini!!!" panggil Arsan.

__ADS_1


Raka pun datang mendekati Rena. Arsan segera beranjak ke arah Dira. Setelah mendapatkan novel baru, mereka pun kembali ke kelas.


__ADS_2