
Pagi yang cerah tapi tak secerah hati Dira. Bagaimana tidak, hari ini ia harus pergi sekolah bersama dengan Davin. Dira segera bergegas ke kamar mandi, setelah itu ia pun mengganti pakaiannya dengan segam sekolah. Lalu menuju dapur untuk sarapan. Mama menghampiri Dira, wajah Dira tampak cemberut membuat rasa penasaran Mama begitu tinggi.
"Dira, kenapa wajah kamu masam begitu?" tanya Mama sambil menarik kursi yang ada dimeja dapur untuk diduduki.
"Kesel, Ma. Kapan sih Papa gak maksa Dira terus, bosan diatur-atur...," lirih Dira.
"Kamu harus buktiin ke Papa, kalau pilihan kamu itu lebih baik, jangan nyerah sayang," ucap Mama dengan senyuman.
Dira membalas senyuman ke Mama. Tiba-tiba terdengar suara klakson sepeda motor dari luar pagar, Dira pun bergegas menuju keluar.
Pasti itu si Davin, nasibmu Dira apes banget.
Ternyata dugaan Dira betul, Davinlah yang membunyikan klakson motor tadi. Dengan wajah yang masih cemberut Dira menaiki motor itu. Davin memandangi wajah Dira dengan penuh perasaan. Tapi sayangnya Dira tak mempedulikannya. Motor baru saja dinyalakan, Davin pun memulai obrolan.
"Dira, nanti aku traktir kamu, ya. Terserah mau makan apa," ucap Davin.
"Ya ...," jawab Dira dengan cuek.
Andai dia Kak Panji, mungkin aku bakal ketawa-ketawa dijalanan. Rasanya gak nyaman deket Kak Davin. Aku rindu banget ke sekolah bareng Kak Panji.
Davin terdiam mendengar jawaban Dira. Ia bingung menghadapi sikap dingin itu. Davin pun mencari pembahasan lain agar wanita yang ia bonceng itu mau tersenyum saat berdua dengannya.
"Dir, kamu suka baca novel, kan?" tanya Davin. "Ntar pas jam istirahat kita ke perpus, ya..."
Gak akan mempan cara kamu, Kak Davin. Mau niru Kak Panji gak akan bisa. Kamu itu berbeda jauh darinya. Aku gak akan pernah bisa jatuh hati sama kamu.
"Terserah," balas Dira.
"Dira, bukannya kita udah buat kesepakatan semalam. Kok kamu dingin gini sama aku," ucap Davin sedikit kesal.
"Bukannya kesepakatan kita cuma pergi bareng? Kemana-mana bareng, bener gak?" tanya Dira dengan nada marah.
"Ya, tapi gak gini ju ....," ucap Davin.
__ADS_1
"Jangan menambah-nambah, aku udah menuruti kemauan kamu. Sekarang aku yang minta kamu buat jaga lisan dihadapan semua murid. Jangan nyebarin berita kalau kita dekat," potong Dira.
Davin lagi-lagi terdiam dengan ucapan Dira. Ia tak bisa berkata-kata menjawab permintaan Dira. Ia cuma mampu menaggukkan kepalanya. Begitu sampai di depan halte, Dira meminta Davin untuk memberhentikan sepeda motornya.
"Stop ... Stop ...!!!" teriak Dira.
"Apa apa, Dir?" tanya Davin heran. "Bukannya ini halte sekolah bukan parkiran."
"Ya, Dira turun di sini aja. Nanti Arsan yang jemput," jawab Dira.
Akhirnya, Dira pun turun dari motor. Saat Davin sudah pergi, Dira segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku rok seragam. Ia menelepon Arsan untuk segera menjemputnya di halte sekolah. Sembari menunggu Arsan, Dira mengirimi pesan via whatsapp ke Panji.
[Dira : Kak Panji, nanti kita jumpa di parkiran, ya.]
[Panji : Oke, Dira. Aku jalan ke parkiran ni.]
Setelah menunggu tiga menit, Arsan pun tiba di halte. Dira segera menaiki sepeda motor yang di kendarai Arsan. Dengan rasa penasaran Arsan pun menanyakan apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Davin.
"Sengaja aku minta turun di sini, Ar. Nanti anak-anak pada ngira aku ada apa-apa lagi sama si Davin, ya gak mau dong aku, Ar...," jawab Dira.
Sesampainya di parkiran, Dira melihat Panji yang sedang duduk di motornya. Dira pun berjalan menghampiri Panji.
"Kak, maaf ya gak bisa pergi ke sekolah bareng hari ini. Dira gak nyaman banget dengan Kak Davin...," lirihnya.
"Gak apa, Dir. Sabar aja, dalam waktu beberapa hari lagi kita akan pergi bareng lagi ke sekolah," ucap Panji sambil menarik tangan Dira lalu memberikan senyuman.
Tanpa sadar, Aurel melihat Dira dan Panji yang tengah berpegangan tangan. Aurel sangat kesal, amarahnya mulai memuncak. Ia pun mengambil foto mereka yang sedang berpegangan tangan pada saat itu. Dira pun menuju kelas, dikejauhan Dira melihat Davin sedang berdiri di depan pintu kelasnya. Dengan terpaksa ia harus menghampiri Davin.
"Kenapa di sini, Kak Davin?" tanya Dira "Bukannya ini kelas X bukan kelas XII."
"Aku cuma mastiin aja kamu sama siapa, baguslah kalau cuma sendiri. Arsan mana? Katanya kamu bareng dia," ucap Davin.
"Arsan masih dibelakang, tadi ngobrol sama temennya ya udah Dira duluan aja ke kelas," jawab Dira. "Kak, Dira masuk dulu ya, bye."
__ADS_1
Davin pun pergi ke kelasnya, tiba-tiba ia melihat Panji sedang berbincang dengan Arsan. Disitu membuat Davin curiga dengan perkataan Dira tadi. Ia pun menghampiri Panji dan Arsan saat itu.
"Panji, kamu jaga jarak ya sama Indira. Aku ingatin secara baik-baik hari ini," tutur Davin sambil menaikan kedua alisnya.
"Heh, pecundang. Emang kenapa kalau aku masih dekatin Dira? Dira juga terpaksa kok nerima kamu, harusnya kamu tau diri," ucap Panji.
"Kamu mau tau aku siapanya? Aku bukan hanya pacarnya tapi calon tunangannya!!!" bentak Davin.
"Jangan ngaku-ngaku kamu!!!" bentak Arsan balik.
"Siapa yang ngaku-ngaku? Udah ya, terima saja kenyataannya bahwa Dira milikku," ujar Davin lalu berjalan meninggalkan mereka berdua.
Panji tak percaya mendengar ucapan Davin saat itu. Kepalan tangannya ia tahan agar tak mengenai wajah Davin. Arsan pun menenangkan Panji agar amarahnya mereda.
"Udah, sabar bro. Dia itu licik, paling itu akal-akalan dia doang, biar kamu nyerang dia. Kayak gak tau Davin aja," ucap Arsan.
"Okelah bro, aku lanjut ke kelas kalau gitu. Nanti kita ketemu di kantin," balas Panji.
Arsan pun menuju kelas, ia penasaran dengan ucapan Davin yang katanya calon tunangan Dira. Begitu sampai kelas, Arsan langsung berlari menuju bangku Dira. Sela yang saat itu duduk disebelah Dira tampak heran dengan sikap Arsan.
"Kamu kenapa, Ar? Habis dikejar setan?" tanya Sela.
"Ah, apa kamu ni, Sel. Ini masalah serius," jawab Arsan.
"Apa apa, Ar? Masalah serius gimana?" tanya Dira lagi.
"Kamu calon tunangannya Davin ya? Jangan bilang bener ya, Dira...," lirih Arsan.
"Gilak kamu, Ar. Sejak kapan? Ngaco banget nih, awas ya nyebarin gosip," ujar Dira. "Aku bukan pacar ataupun calon tunangan segala macam pokoknya, bukan!!!"
"Syukurlah, Dira. Panji emosi banget tadi pas Davin ngomongin itu didepan kami berdua," ucap Arsan.
Bel masuk berbunyi, Sela dan Arsan kembali ke bangkunya untuk mengikuti pelajaran. Dira masih kesal mendengar apa yang Arsan ceritakan tadi.
__ADS_1