Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 75


__ADS_3

Keesokkan harinya di sekolah, tepatnya di parkiran. Panji baru saja tiba, dan mendengar omongan para murid yang ada di sana bahwa Dira adalah tunangannya Davin, seketika rasa penasarannya meningkat. Ia mendekati salah satu adik kelasnya yang sedang membicarakan kekasihnya.


"Maksud kalian apa? Dira kenapa?"


"Dira sudah bertunangan dengan Kak Davin. Kita lihat di mading foto mereka berdua, Kak ..."


Seketika Panji langsung pergi menuju mading untuk melihat secara langsung. Begitu sampai di mading, semua murid berkerumunan melihat foto mereka berdua.


"Minggir!!" bentak Panji.


Semua murid yang ada disana pun bergeser dan memberi jalan Panji. Ia membaca kalimat yang tertulis difoto itu. "Engagement Indira & Davin Wijaya"


"Apa-apa si Davin, ini cuma berita bohong!! Kalian jangan percaya sama foto ini, ini pembodohan!!" teriak Panji.


Semua murid terdiam, lalu segera meninggalkan area mading. Panji merasa kesal dengan cara Davin yang begitu kelewatan. Tiba-tiba, Sela dan Arsan datang menghampiri Panji. Mereka begitu penasaran dengan berita heboh saat di kelas.


"Kak, ada apa sih?" tanya Sela.


"Di kelas pada heboh Dira sama Davin," sambung Arsan.


"Kalian lihat aja itu," jawab Panji sambil menunjuk kearah mading.


Sela dan Arsan melihat dengan dekat foto itu, dan saat membaca kalimat yang tertulis difoto itu mereka marah dan serasa tidak percaya.


"Apa ini benar? Aku masih gak percaya dengan tulisan aneh ini," ucap Arsan.


"Jelas ini hanya tipu muslihatnya si Davin, dia merencanakan ini karna semalam kebohongannya sudah terungkap," jelas Panji.


"Hah? Kebohongan?" tanya Sela dan Arsan serentak.


Panji menghela nafas, ia masih kesal dengan kejadian ini. Saat itu Davin baru saja datang, ia hendak menuju ke kelas. Panji menghampiri dan menghadangnya. Davin memandang sini lalu tersenyum tipis.


"Bagaimana, udah lihat pengumuman di mading?" tanya Davin.


"Kamu pikir bisa menipu semua orang, norak cara kamu, Davin!!" jawab Panji dengan mengeraskan suara.


"Setidaknya Dira menjadi milikku, Panji ...," lirih Davin.

__ADS_1


"Licik sekali cara kamu, kita lihat aja siapa yang akan menang," ucap Panji lalu berjalan menuju kelas.


Bel masuk berbunyi, Dira hampir saja terlambat. Begitu ia masuk ke dalam kelas, semua murid satu kelasnya mengucapkan selamat atas pertunangannya bersama Davin. Dira begitu heran, karena ia tidak melaksanakan acara apapun dengan pria itu.


"Dira ... selamat ya."


"Dira, semoga sampai ke jenjang serius, ya ..."


"Selamat ya, udah tunangan dengan Kak Davin, Dira ..."


Ada apa ini? Tunangan? Maksudnya apa coba? Sejak kapan aku bertunangan dengan Davin ...


Dira berjalan menuju tempat duduknya, sejenak ia memahami perkataan teman-temannya tadi. Tapi, tetap saja ia tak mengerti dari mana mereka mengetahui rencana pertunangan itu. Sela dan Arsan pun menghampirinya yang tengah melamun.


"Dira, tentang tunangan itu bohongan, kan?" tanya Sela.


"Tunangan apa sih? Serius aku bingung dari tadi, aku gak ada tunangan sama Davin kok," jawab Dira sambil menutup wajah dengan kedua tangan.


Guru pun sudah masuk ke kelas, Sela dan Arsan kembali ke tempat duduknya. Jam pelajaran dimulai, Dira mengambil ponsel dari dalam saku rok seragam untuk mengirim pesan via whatsapp ke Panji. Ia membuat janji akan bertemu setelah satu jam pelajaran nanti. Dira pun melanjutkkan untuk mengikuti pelajaran itu. Satu jam berlalu, Dira beranjak dari bangkunya, lalu berjalan ke depan untuk meminta izin bahwa ia akan ke kamar mandi. Setelah mendapat izin, Dira berjalan menuju mading. Ternyata Panji sudah dari tadi menunggunya disana.


"Kak Panji, maaf Dira telat," ucap Dira.


Dira membaca kalimat yang tertulis difoto mereka berdua. Wajah Dira berubah masam dan kesal. Ia masih tak menyangka, Davin nekat melakukan hal bodoh itu.


"Ini gak benar, apa-apa sih Kak Davin!!" ucap Dira dengan nada marah.


"Bentar lagi dia yang akan malu atas perbuatannya itu, Dira ...," lirih Panji.


"Tapi, Dira kesal Kak ..."


Setelah melihat foto dimading itu, mereka pun kembali ke kelas. Bel istirahat berbunyi, Dira bergegas ingin menemui Davin ke kelasnya. Sela dan Arsan pun mengikuti Dira. Begitu sampai di depan kelas Davin, mereka menunggu sampai pria itu keluar dari kelas. Tak lama kemudian, Davin keluar bersama dua wanita yang merupakan teman sekelasnya.


"Eh, Dira ...," sapa Davin dengan senyuman.


"Gak usah sok manis gitu kamu, Kak," jawab Dira.


"Kamu cemburu ya?" tanya Davin. "Itu temen doang, hati aku cuma ada kamu."

__ADS_1


"Bodo amat, mau temen atau siapalah. Udah ikut Dira sekarang!!" bentak Dira.


Dira menarik paksa Davin kearah mading. Davin hanya senyum-senyum saat Dira membawanya ke tempat itu.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Dira.


"Kamu pasti seneng kan dengan foto kita disitu," jawab Davin.


"Seneng? Gilak! Pokoknya Dira minta Kak Davin bersihkan nama Dira saat ini juga!!" ucap Dira dengan nada marah.


"Emang nama kamu tercoreng? Harusnya kamu senang, orang pada tau hubungan kita yang sebenarnya, kita kan emang akan bertunangan ...," lirih Davin.


"Pokoknya cabut tu foto dari mading, malu-maluin tau gak!!" bentak Dira lalu pergi menuju kantin bersama dua sahabatnya. "Sela, Arsan, yuk ke kantin!!"


Setibanya di kantin, mereka bertiga duduk dibangku biasa. Terdengar obrolan murid yang membicarakan tentang Dira. Ia menahan amarahnya saat itu.


"Eh, itu kan Dira yang dulu pas MOS dikerjain Kak Aurel, padahal ya dia anak baru tapi udah berani aja dekatin Kak Panji."


"Bener tu, gak malu apa ya. Sekarang malah mau tunangan lagi sama Kak Davin, gak beres tu anak."


Dira berusaha agar emosinya tidak memuncak, tapi mendengar kalimat itu ia tak bisa tinggal diam. Dira pun berdiri dari bangkunya dan berjalan menghampiri senior kelas XII yang dari tadi tak habis mengata-ngatai Dira. Dengan begitu kesal juga marah, Dira menghentakkan meja mereka.


"Apa maksud kalian ngomong aku cewek gak beres? Emang kalian tau apa tentang aku?" tanya Dira dengan nada marah.


"Loh, kok marah? Berarti emang bener dong kamu itu cewek gak tau malu," jawab salah satu murid yang membicarakan Dira tadi. "Semua cowok tenar dideketin, mau kamu apa sih?"


"Jaga omongan kamu ya!! Jangan seenak kalian mentang senior, kalian gak tau kebenarannya seperti apa jangan buat fitnah!!" bentak Dira.


"Kamu gak suka? Makanya jangan terlalu tebar pesona, dulunya cupu sekarang kok centil gini gaya kamu, dasar caper!!" ucapnya.


Setelah adu mulut, murid itu menyiramkan air putih dari gelas yang ada di meja kantin ke wajah Dira. Dengan rasa marah yang makin meningkat, Dira membalas menyiramkan air itu kembali. Hampir saja mereka saling jambak-menjambak, Panji datang melerai mereka berdua yang tengah ribut.


"Hei, stop!!" teriak Panji. "Ada apa ini?"


"Ini dia duluan yang mulai, ngata-ngatain Dira caper, nebar pesona, gak bereslah. Dira gak suka difitnah, Kak ..." lirih Dira.


"Kalian salah paham dengan foto yang di mading. Itu hanya tipu daya Davin agar Dira digosipin di sekolah. Jangan sampai aku denger kalian ngatain Dira kayak gitu lagi, awas!!" bentak Panji.

__ADS_1


Panji pun membawa Dira pergi dari kantin menuju perpustakaan. Panji tetap membantu membersihkan nama Dira dari fitnah yang telah dibuat Davin.


__ADS_2