
Bel berbunyi, sudah waktunya untuk pulang. Para siswa ada yang sibuk berjalan ke parkiran untuk mengambil kendaraannya, ada yang berjalan ke halte untuk menunggu angkot dan jemputan. Lain halnya dengan Dira, ia menunggu semua siswa pulang karena ingin menyelesaikan masalahnya dengan Arsan. Saat Panji datang menghampiri Dira, ia meminta waktu sepulu menit dan menyuruh Panji untuk menunggunya di halte.
"Arsan, Sela, sini duduk..." perintah Dira dengan senyum manisnya.
"Arsan, kamu mau ngomong apa?" Ayo cepat ungkapin sekarang," ucap Sela ke Arsan.
"Dir, sebelumnya aku minta maaf ya. Karena ini udah lama banget, dari kita masih duduk dibangku SMP. Aku yang salah udah memendam cukup lama,Dir. Aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu lebih dari sekedar sahabat.." lirih Arsan dengan menatap wajah Dira.
"Arsan, aku udah tau kok perasaan kamu dari Sela," jawab Dira tersenyum. "Tapi maaf, aku gak bisa nerima kamu, Ar. Tolong kamu juga jangan marah, jangan benci sama aku. Aku jelasin semuanya."
Arsan menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia seakan tahu jawaban dari Dira. Arsan begitu menyesal telah jujur hari ini. Tapi, hatinya tetasa lega, tak ada lagi beban tertahan dihati Arsan walaupun hasil akhirnya adalah kekecewaan.
"Arsan, aku tau kamu kecewa. Tapi asal kamu tau, cinta seorang sahabat itu lebih berarti. Aku gak mau, kalau pacaran nanti sewaktu hubungan kita putus, kita jadi musuhan, saling benci cuma gara-gara cinta. Kita udah cukup lama sahabatan, Ar. Aku sayang sama kamu Arsan," ungkap Dira sambil memegang tangan Arsan.
Arsan berdiri dari bangku itu, lalu pergi meninggalkan Dira dan Sela. Ia ingin melepaskan rasa kekecewaannya dengan menjauhi Dira sejenak. Arsan begitu sedih, ia salah menepatkan perasaannya selama ini.
__ADS_1
Dira dan Sela pun bergegas menuju halte. Terlihat dari jauh, Ayah Sela sudah menunggu di halte itu. Sama halnya dengan Panji yang dari tadi menunggu Dira. Sela pun pulang, Dira mendekati Panji, dilihatnya wajah Panji sedikit masam akibat terlalu lama menunggu.
"Menunggu adalah hal yang membosankan..." lirih Panji.
"Maaf, Kak Panji. Tadi ada urusan sebentar, jangan cemberut dong," ucap Dira spontan memegang wajah Panji.
Panji langsung menatap mata Dira, tatapannya begitu tajam membuat Dira tak sanggup melihat tatapannya. Dira langsung melepaskan tangan dari pipi Panji yang membuat Panji tak habis-habisnya memberi tatapan tajam itu. Jantung Dira semakin bedetak lebih kencang. Ia alihkan ke pembicaraan lain.
Duh, kan mulai jantung aku berdebar lagi. Ya ampun, aku gak bisa natap mata Kak Panji lama-lama.
"Kak Panji, ayo kita pulang sekarang!!" ajak Dira sambil menaiki sepeda motor yang dikendarai Panji.
Kak Panji baik banget, sih. Aku makin jatuh cinta sama kamu, Kak.
Sudah satu jam menunggu, hujan tak juga reda. Dira memutuskan untuk pulang dalam situasi hujan lebat. Sebelumnya, Panji melarang, tapi Dira tetap ngotot ingin pulang juga.
__ADS_1
"Ayolah Kak, kita pulang aja. Kalau nunggu reda bisa sampai malam loh, ntar Mama khawatir," ucap Dira dengan mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Panji.
"Tapi janji, sampai rumah kamu harus minum jahe hangat, ya. Biar badan kamu hangat," jawab Panji. "Aku gak mau kamu sakit, Dira."
Dira pun mengangguk sambil tersenyum. Panji membalas dengan senyuman manisnya yang membuat semua orang jatuh cinta jika melihat senyuman itu. Panji menutupi tubuh mungil Dira dengan jaket kulitnya agar tetesan hujan tak membasahi tubuh Dira. Panji meminta Dira untuk memeluk erat pinggangnya agar bisa ia lajukan kendaraan yang ia bawa. Dira semakin yakin, bahwa ini adalah cinta pertamanya. Ia benar-benar merasakan jatuh cinta yang sebenarnya. Dira tak ingin melepaskan pelukan yang membuatnya begitu nyaman. Begitu sampai di depan pagar rumah Dira, ia turun dan membukakan pagar itu. Lalu menyuruh Panji untuk masuk.
"Kak Panji masuk dan tunggu di sini dulu, Dira mau buatin jahe hangat yang kayak Kak Panji bilang tadi," ucap Dira sambil melepaskan jaket kulit yang ia pakai.
Dira pun berjalan ke dapur menyiapkan jahe hangat untuk Panji. Mama melihat Dira dengan keadaan yang basah kuyup langsung meminta Dira untuk mengganti pakaiannya. Dira sedikit menjelaskan, bahwa ia pulang bersama Panji dalam keadaan basah. Lalu, Mama menyuruh Dira mengambilkan pakaian Papa agar Panji bisa mengganti seragamnya yang basah. Mama pun melanjutkan membuat jahe hangat itu. Dira pun pergi mengganti seragamnya dan mencari pakaian Papa. Lalu, ia berjalan ke ruang tamu menghampiri Panji.
"Kak Panji, ganti baju dulu, nanti Kak Panji sakit. Ini bajunya, Kak," ujar Dira sambil menyodorkab baju Papa ke Panji. "Yuk, Dira tunjukkan kamar mandinya."
"Makasih, ya Dira," jawab Panji dengan senyuman.
Dira kembali ke dapur membawa dua gelas jahe hangat. Lalu ia letakkan di meja ruang tamu. Sembari menunggu Panji selesai, Dira memainkan ponselnya, tiba-tiba ia teringat Arsan.
__ADS_1
Arsan, maafin aku udah bikin kamu kecewa. Tapi, ini demi persahabatan kita, Ar.
Setelah Panji selesai mengganti bajunya, ia kembali ke ruang tamu dan segera meminum jahe hangat itu sambil berbincang masalah ekskul. Setelah hujan reda, Panji pun melanjutkan untuk pulang.