
Kring.. kring..
Alarm berbunyi, Dira terbangun hanya mematikan alarm saja, lalu kembali untuk tidur. Tiba-tiba ia terbangun lagi karena matahari sudah naik mengenai mata yang menyilaukan. Dira terentak kaget melihat jam di atas meja.
"Hah, udah jam 7. Bisa telat ni," tutur Dira kaget.
Dira langsung buru-buru ke sekolah, bahkan untuk sarapan pun tak sempat. Dira diantar oleh Pak Udin sopirnya. Ia menyuruh Pak Udin untuk melajukan mobil yang ia bawa. Setibanya di sekolah, pagar sudah ditutup oleh Pak Satpam. Dira berlari ke arah pagar, ia meminta agar dirinya diperbolehkan masuk. Tanpa sengaja, Panji pun terlambat. Dira terkejut saat melihat Panji disebelahnya.
"Kak Panji, kok tumben telat?" tanya Dira heran. "Terus kok gak kayak biasanya, rapi. Tu lihat rambutnya aja gak disisir."
"Kamu juga, kenapa telat?" Panji bertanya Balik ke Dira sambil merapikan rambutnya. "Kamu begadang tadi malam?" "Pasti kamu mikirkan Panji yang ganteng ini, kan."
"Kak Panji ngaco, Dira gak pernah begadang tau," jawab Dira dengan wajah cemberut.
"Kalian berdua sama-sama telat, malah ribut. Kamu lagi, ketua OSIS malah telat," ucap Pak Satpam.
Lalu, Pak Satpam membukakan pintu pagar. Karena mereka telat, ada sanksi yang harus dijalani. Sejam pelajaran belum diperbolehkan masuk dan harus membersihkan sampah dedaunan yang berserakan. Dira dan Panji segera menuju pohon di depan perpustakaan. Kebetulan hari ini, di sana sampahnya banyak.
__ADS_1
"Dira, kok samaan ya kita telatnya," ujar Panji. "Jangan-jangan...."
"Buruan Kak Panji, bantuin ini," ucap Dira memotong pembicaraan sambil memunguti dedaunan yang berserakan.
Di kelas, Arsan merasa gelisah melihat bangku Dira yang kosong. Ia kepikiran terus, Dira belum juga datang. Lalu, Arsan beralasan untuk buang air kecil, ia penasaran apa yang terjadi dengan Dira. Arsan berjalan ke arah pos satpam, ingin melihat daftar nama siswa yang terlambat. Dan benar, Dira masuk daftar nama itu.
"Pak, mereka dihukum apa?" tanya Arsan.
"Itu, lagi bersihkan sampah yang dibawah pohon besar," jawab Pak Satpam sambil menunjuk kearah pohon. "Pas di depan perpus."
Arsan berjalan ke arah pohon itu, dikejauhan ia melihat Dira bersama Panji tengah membersihkan sampah. Mereka yang sedang asyik bercandaan membuat hati Arsan terbakar api cemburu. Ia memandang kearah Dira dan Arsan penuh dengan amarah dan kekesalan.
Arsan kembali ke kelas, ia merencanakan sesuatu agar Dira membenci Panji. Arsan sudah cukup muak melihat mereka berdua selalu berdekatan. Arsan tidak rela jika cinta pertamanya direbut oleh Panji.
Satu jam pelajaran telah usai, Dira segera berjalan menuju kelasnya. Panji membuntuti Dira, ia heran dengan sikap Panji. Lalu, ia pun berbalik arah.
"Kak Panji kenapa ngikutin Dira?" tanya Dira. "Bukannya harus masuk ke kelas."
__ADS_1
"Aku mau antarin kamu sampai ke kelas, takut kalau kamu kenapa-kenapa," jawab Panji tersenyum.
Ih, Kak Panji bisa aja. Ya ampun, kok aku jadi gugup diperlakuin gini sama Kak Panji. Aku takut jatuh cinta sama kamu.
Lalu, Panji pun mengantarkan Dira sampai di depan kelasnya. Dira pun segera masuk ke dalam untuk mengikuti jam pelajaran. Semua murid di kelas melihat kearah Dira, ya Dira seminggu ini berpenampilan beda dari biasanya. Termasuk Arsan, ia adalah orang yang setiap hari jatuh cinta ketika melihat Dira.
Arsan pun memindahkan bangku yang ia duduki kearah Dira, ia beralasan ingin belajar bersama Dira.
"Dir, ajarin yang ini dong," ucap Arsan sambil menujukan soal yang ada dibuku.
"Eh, kamu kok tumben telat."
"Ya, Ar, ntar aku ajarin," jawab Dira sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya. "Telat bangun, Ar. Mau gimana lagi."
"Tapi kok bareng Panji sih telatnya," ucap Arsan dengan wajah kesal. "Mesra-mesraan lagi, sakit mata lihatnya."
"Mana aku tau, gak ada unsur kesengajaan, Arsan," tutur Dira sambil mengerjakan tugas. "Ciee.. cemburu."
__ADS_1
Arsan menopang dagu dengan kedua tangannya. Dira mencoba sesekali membujuk Arsan agar tidak lagi cemburu.