Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 80


__ADS_3

Pagi ini terlihat mendung, sama seperti suasana hati Panji yang terlihat murung. Ia masih tak percaya, bahwa Dira bisa terbaring lemah di rumah sakit. Panji bangkit dari tempat tidurnya, ia berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah selesaiz ia menuju dapur untuk sarapan. Mama Panji hari ini ada di rumah, tak seperti biasanya, sibuk dengan urusan kerjaan di kantor. Kadang juga ke luar kota, sehingga Panji tidak dekat dengan kedua orang tuanya. Mama menyuguhkan sepiring nasi goreng buatannya ke Panji.


"Panji, coba kamu cicip masakan Mama," ucap Mama.


"Tumben Mama di rumah, udah cuti ya?" tanya Panji dengan wajah datar.


"Mama sengaja milih libur, biar bisa nemanin kamu, Panji," jawab Mama.


Panji pun menyantap sarapan yang sudah Mama masak untuknya. Setelah selesai, Panji berjalan ke ruang tengah. Sambil menyalakan televisi, ia membuka ponselnya. Tak lama kemudian, ada panggilan masuk dari Dira. Panji begitu kaget dengan secepat kilat ia mengangkat telepon itu.


"Hallo, Dira ... Indira ...," sapa Panji dari ponselnya.


"Hallo, ini Mama Dira, Panji. Mama mau ngabari, Dira hari ini udah boleh pulang ke rumah," jawab Mama lewat telepon.


"Alhamdulillah, syukur kalau gitu, Tante ..."


"Tapi ..."


"Tapi kenapa, Tante?" tanya Panji.


"Dira agak sedikit lupa ingatan, Panji. Semenjak kepalanya terbentur memori ingatan Dira jadi berkurang ...," jawab Mama Dira.


Panji terdiam mendengar ucapan dari Mama Dira. Antara percaya dan tidak percaya semua jadi hancur.


"Nanti Panji ke rumah, ya Tante ..."


Telepon pun dimatikan oleh Mama Dira. Panji langsung beranjak dari sofa menuju kamar untuk mengganti pakaian. Setelah selesai, ia mengabari Arsan dan Sela bahwa Dira sudah diperbolehkan pulang. Lalu, Panji pun segera menuju ke rumah Dira.


"Aku tak tau Dira ingat sepenuhnya tentang aku apa tidak, yang terpenting aku berusaha untuk memulihkan kembali ingatannya," gumam Panji.


Setibanya di rumah Dira, Panji menunggu di depan pagar rumahnya yang masih tergembok. Setelah hampir lima menit menunggu, Arsan dan Sela pun datang menghampirinya.


"Kak, udah lama di sini?" tanya Sela.


"Baru 5 menit kok, Sel," jawab Panji.


"Dira masih di jalan, tadi barusan aku telepon Mamanya," sambung Arsan.


Setelah hampir sepuluh menit menunggu, terlihat mobil yang biasa menjemput dan mengantarkan Dira sekolah tiba di depan mereka bertiga.


"Itu Dira udah sampai ...," lirih Sela.


Pintu mobik dibuka, Dira berjalan dengan tubuh yang masih lemah. Panji pun mendekat ke arah Dira untuk membantu mengiring Dira masuk ke dalam rumahnya. Panji tersenyum, Dira pun membalas senyuman kearahnya.

__ADS_1


"Makasih ya, Kak Panji ...," lirih Dira.


"Kamu ingat aku?" tanya Panji dengan wajah sedikit sedih.


"Hahaha, ya masih lah, Kak Panji kan senior Dira di sekolah," jawab Dira dengan tertawa.


"Cuma itu, Dir? Kamu gak ingat aku ini siapa kamu?" tanya Panji sekali lagi.


"Hmm ... kita udah lama dekat ya kan kak? Ya, kita adalah teman dekat," tutur Dira dengan riang.


Jadi ingatan Dira cuma segitu yang dia ingat, aku akan tetap berusaha Dira. Aku gak mau kamu jauh dari aku ...


"Ya udah, perlahan kamu juga akan ingat kok, kita ini lebih dari teman ...," lirih Panji dengan senyuman.


Dira terdiam, lalu memegang kepalanya karena ia merasa sedikit sakit jika ia berusaha mengingat sesuatu.


"Kamu kenapa, Dira?" tanya Panji khawatir.


"Kepala Dira sakit Kak. Dira coba untuk mengingat semua ucapan Kak Panji, tapi Dira sulit mengingatnya ...," jawab Dira.


"Jangan dipaksakan, kamu itu baru aja siuman, Dira ...," lirih Panji. "Aku gak mau ya kamu sakit lagi, gak mau!!"


Sementara, Arsan dan Sela mengobrol dengan Mama Dira di ruang tamu.


"Tau apa, Tante? Yang Sela tau, Dira udah dibolehin pulang," jawab Sela


"Ya, Tante. Kita taunya itu doang," sambung Arsan.


"Ada satu hal yang mungkin kalian tidak percaya. Dira sedikit kehilangan ingatan," ucap Mama Dira dengan perasaan sedih.


"Hah?!" Sela dan Arsan terkejut.


Mendengar ucapan itu, Arsan dan Sela menuju kamar Dira. Terlihat Panji sedang duduk dibangku yang berada disudut kamar kekasih hatinya sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Arsan menghampirinya, lalu menyentuh bahu Panji.


"Panji, aku tau ini berat buatmu. Kita akan berusaha bantuin kamu, agar Dira bisa ingat lagi ...," lirih Arsan.


"Gak apa, Ar. Jangan paksakan Dira, itu akan melukainya," jawab Panji.


Sela mendekat kearah Dira yang sedang tertidur pulas. Ia merasa sedih mendengar cerita bahwa sahabatnya mengalami hilang ingatan.


"Dira, aku harap kamu segera pulih. Aku harap kamu bisa ingat semuanya lagi ...," ucap Sela sambil meneteskan air mata.


Setelah menjenguk Dira di rumahnya. Mereka berempat pun menemui Mama Dira yang sedang menyiapkan makan siang.

__ADS_1


"Panji, Arsan, Sela ... makan dulu!!" perintah Mama Dira.


"Ya, Tante," jawab mereka serentak.


Tiba-tiba ponsel Panji berbunyi, ternyata Davin menelepon. Ia pun dengan sangat cepat menjawab telepon itu.


"Hallo, Vin ...," sapa Panji lewat ponselnya.


"Hallo, Panji. Gimana, Dira udah pulih?" tanya Davin.


"Udah, Dira juga udah pulang ke rumah. Kamu ke sinilah, jengukin Dira," jawab Panji. "Jangan lupa bawa cemilan 1 kantong gede buat kita-kita, hahaha."


Telepon dimatikan Panji. Sekitar sepuluh menit, Davin pun tiba di rumah Dira dengan membawakan cemilan sesuai permintaan Panji.


"Yaelah, beneran dibawa. Aku bercanda doang, Davin ...," lirih Panji.


"Gak apa, Bro. Buat kita makan sama-sama. Eh, Dira dimana?" tanya Davin.


"Di kamar, sono tengokin dulu," jawab Panji.


Davin berjalan menuju kamar Dira sambil membawa kue kesukaannya. Terlihat Dira masih tertidur pulas, Davin meletakkan kue itu diatas meja kamarnya.


"Dira, lekas sembuh ya. Aku kangen senyuman kamu, Panji juga kangen dengan kebersamaan denganmu Dira ...," lirih Davin.


Davin pun keluar dari kamar, lalu menuju ruang tengah untuk mengobrol bersama teman-temannya.


"Vin, kamu belum tau kan?" tanya Panji.


"Belum," jawabnya. "Emang ada apa sih?"


"Itu Kak, Dira sedikit kehilangan ingatan," ucap Sela


"Serius?" tanya Davin dengan kaget.


"Ya, serius ...," sambung Arsan.


"Dira gak ingat kalau aku sama dia itu pacaran, dia gak ingat kebersamaan kita berdua, gak ingat sama sekali ...," lirih Panji drngan mata berkaca-kaca.


Davin masih tak menyangka dengan kejadian yang telah dilakukan oleh Papanya membuat Dira hilang ingatan. Davin merasa bersalah sampai meneteskan air mata.


"Maafin aku, Panji. Aku akan berusaha bantuin kamu untuk tetap bersama dengan Dira, aku janji. Percaya sama aku, Dira secepatnya bakalan ingat," ucap Davin.


Mereka pun saling berpelukan untuk sama-sama berjuang agar Dira kembali ingat semuanya.

__ADS_1


__ADS_2