Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 37


__ADS_3

Tit... tit...


Terdengar suara klakson dari luar pagar. Dira pun berjalan menuju sumber suara. Arsan dan Sela sembunyi dibalik tembok pagar untuk menemani Dira. Betapa terkejutnya Panji saat melihat Dira dengan gaun merah muda, rambut yang tergerai, wangi parfum yang lembut, dan senyumannya yang membuat jantung Panji berdebar. Dira terlihat gugup, ia sesekali menoleh kearah Sela dan Arsan.


"Coba aja aku yang di sana. Sel, aku cemburu dengan Panji..," lirihnya.


"Arsan, sahabat lebih dari segalanya. Belajarlah untuk menyukai orang lain, Ar. Ayolah kamu bisa," ucap Sela. "Lihatlah, Kak Panji bingung mau ngomong apa dengan Dira. Sama-sama gugup tuh mereka."


Panji terlihat bingung ingin mengeluarkan kalimat dihadapan Dira. Bagaimana tidak, Dira cukup berbeda malam ini. Dira mulai mengatur nafasnya, lalu ia mulai melontarkan kalimat dari mulutnya.


"Kak Panji, kita mau ke mana?" tanya Dira.


"Kamu ikut aja, pasti kamu suka, Dir," jawab Panji. "Buruan naik."


Panji dan Sela pun berjalan menuju restoran mewah. Sela dan Arsan pun membuntui sahabatnya. Sesampainya di sana, Panji menarik tangan Dira, lalu ia menggandeng tangannya. Jantung Dira semakin berdetak kencang, hingga ia bingung dan gugup ingin berkata-kata.


Terlihat tempat dinner bernuasa out door dihiasi lampu kelap-kelip. Dengan satu meja dan dua bangku yang telah disediakan khusus untuk mereka berdua. Ditambah dengan bunga mawar yang ditabur membentuk hati dibagian bangku yang akan mereka duduki, menambah suasana menjadi romantis.


Ini sungguh seperti mimpi, Kak Panji nyiapin ini untukku. Kak Panji akan nembak aku malam ini. Aku bakal jadian, yes!!


"Dira, gimana tempatnya, kamu suka?" tanya Panji. "Maaf ya, kalau kurang bagus dekorasinya. Mendadak soalnya, Dir."

__ADS_1


"Duh, Kak Panji, ini bagus banget. Dira seneng kok," ucap Dira.


Apalagi kalau Kak Panji nembak Dira, lebih seneng Kak.


"Silahkan duduk, Dira. Kamu ingat, dinner pertama kita? Lucu banget tingkah kamu," ujar Panji dengan senyuman.


"Ya ingat dong, Kak...," lirih Dira dengan senyum tipis.


Hembusan angin membuat Dira teringat dikala ia hujan-hujan bersama Panji. Dira tak sengaja melihat kearah Panji, lalu ia menatap tajam kedua bola matanya yang indah itu, Dira semakin berdebar. Seakan hatinya memberontak, untuk segera dibuka oleh cinta Panji malam ini. Panji memberikan setangkai mawar merah ke Dira. Senyuman manis Dira seakan memberi sinyal kepada Panji untuk segera mengungkapkan perasaannya.


"Dira, kamu tampak beda malam ini. Sangat cantik. Kamu tau, berdua bersamamu membuat aku nyaman, Dira," ungkap Panji. "Kuharap malam ini, menjadi momen terindah bagiku dan kamu."


"Duh, kok aku yang berdebar, Ar," ucap Sela ke Arsan. "Romantis banget si Kak Panji."


"Alah kamu ni, Sel. Itu akibat kelamaan jomblo," jawab Arsan.


"Ih, apaan sih Arsan," ujar Sela sambil memukul pelan punggung Arsan. "Lama banget Kak Panji nembak si Dira, aku udah gak sabar lihat ekspresi Dira."


Panji menarik tangan Dira, ia mengambil nafas agar tidak gugup saat ia akan mengungkap perasaannya. Mereka saling bertatapan. Ntah malam ini ataukah kapan Panji berhasil mendapatkan cinta Dira. Semoga saja malam ini tidak ada yang menghalangi.


Aku harus bisa ungkapin malam ini juga. Dira, kamu akan menjadi pacarku mulai malam ini hingga seterusnya. Batin Panji.

__ADS_1


"Sejak awak kita bertemu, aku sangat mengagumimu, Dira. Sikapmu membuatku penasaran...," lirih Panji. "Dira, apakah kamu bahagia malam ini bersamaku?"


"Tentu. Dira sangat bahagia sekali malam ini," jawab Dira.


Ayolah, Kak Panji. Keluarkan kalimat itu.


"Dira, udah lama aku ingin jujur. Sebenarnya, aku itu... aku... aku pengen kamu minum dulu, Dir," ucap Panji.


Kenapa mulutku sulit untuk mengungkapkan perasaan ke Dira. Ayolah, ini kesempatan kamu Panji!! Batin Panji.


"Ya Kak, Dira minum nih," jawab Dira mengambil gelas diatas meja lalu meminumnya. "Ayo lanjutin, Kak."


"Sebenarnya, aku... aku itu... aku udah lama... aku udah... udah ada rasa... suka dengan...."


Ponsel Dira pun berbunyi, Mama menelepon meminta Dira secepatnya untuk pulang. Panji terbengong, sedikit lagi ia hampir mengucapkan kalimat yang sudah lama ia ingin ungkapin ke Dira. Selalu saja ada halangan.


"Kak, Mama nelepon. Ayo, kita pulang...," lirih Dira.


Gagal lagi, aku udah berharap Kak Panji nembak malam ini juga. Kenapa jadi begini.


Panji pun segera mengantakan Dira pulang. Ini malam kedua Panji gagal ungkapin perasaannya ke Dira. Sela dan Arsan pun menyusul pulang.

__ADS_1


__ADS_2