
Bel istirahat berbunyi, tiba-tiba ponsel Dira bergetar. Ia langsung mengambil ponsel itu dari saku rok seragamnya. Ternyata ada pesan via whatsapp dari Panji.
[Panji : Dira, aku tunggu di kantin, ya. Love you Dira❤]
Dira senyum-senyum saat membaca pesan itu, ia menutup ponselnya dan segera menyusun buku pelajarannya ke dalam tas. Setelah itu ia berjalan ke luar kelas tanpa mengajak kedua sahabatnya. Dira yang baru saja melangkahkan kaki melewati kelasnya, tiba-tiba dihadang oleh Davin.
Duh, Davin lagi ... Davin lagi ... padahal udah berusaha secepat mungkin biar gak jumpa ni orang. Apes banget kamu Dira ...
"Kamu mau ke mana?" tanya Davin.
"Ma ... Mau ... Mau ke kamar mandi, Kak. Ya ke kamar mandi, hehehe," jawab Dira terbata-bata.
"Yakin? Bukannya mau ke kantin buat nemui Panji ...," bisik Davin ditelinga Dira.
Eh, kok dia tau sih. Hebat ya, banyak mata-mata.
"Enggak ... Kak Davin sok tau, kan Dira udah janji semalam, gimana sih Kak Davin. Yuk, ke kantin!!!" ajak Dira sambil melontarkan senyum.
Mereka berdua pun berjalan menuju kantin. Ditengah perjalanan, Dira sembunyi-sembunyi mengeluarkan ponsel untuk mengabari Panji. Sesekali Davin melirik ke arah Dira, kebetulan tali sepatu Dira lepas, ia berhenti dan meminta Davin untuk jalan terlebih dahulu.
"Kak Davin duluan aja, ntar Dira bakal nyusul. Tali sepatu Dira lepas," ucap Dira.
"Oke, awas!!! jangan lama-lama," balas Davin.
Kesempatan ni, bisa kabari Kak Panji. Huh, dasar cowok resek. Ngeselin, kenapa harus kenal sama tu orang.
Dira mengeluarkan ponselnya untuk kesekian kalinya, lalu mengirimkan pesan via whatsapp ke Panji.
[Dira : Kak Panji, Dira kepergok Kak Davin ni, jadi terpaksa sama dia ke kantin, Kak Panji jangan marah ya...]
[Panji : Aku gak marah kok Dira, aku tau posisi kamu sekarang gimana. Aku selalu ada buat kamu.]
Davin pun berbalik arah untuk menghampiri Dira yang dari tadi belum siap mengikat tali sepatunya, Dira dengan sigap menaruh kembali ponselnya ke dalam saku rok seragamnya.
"Kamu ngikat tali sepatu apa buat sepatu sih?" tanya Davin. "Lima menit aku nungguin kamu, Dira. Buruan!!!"
"Ya ... Ya ... Maaf Kak Davin, tadi kelilit talinya, jadi terpaksa benerin dulu," jawab Dira.
__ADS_1
Dira dan Davin pun melanjutkan ke kantin, sementara kedua sahabatnya sibuk mencari Dira.
"Sel, Dira ke mana?" tanya Arsan. "Kok ngilang tiba-tiba tu anak."
"Eh, aku baru sadar dari tadi Dira gak ada ternyata. Palingan jumpa sama Kak Panji tu dia," jawab Sela. "Eh, atau dia dipaksa Davin kali, Ar. Gimana dong..."
"Coba hubungi Panji, Sel. Kali aja dia tau," ucap Arsan.
Sela pun mengirim pesan via whatsapp ke Panji.
[Sela : Kak Panji, Dira ada sama Kakak?]
[Panji : Dira lagi sama Davin, Sel. Udah kalian tenang aja, Dira bakal aku awasin. Kalian ke kantin gih, sini temenin aku awasi Dira.]
Sela pun menujukkan pesan whatsapp itu ke Arsan, dengan secepat kilat Arsan menarik tangan Sela untuk segera menuju kantin. Sela tersentak kaget saat Arsan menarik secara mendadak.
"Arsan, kamu ni bikin aku kaget aja tau gak!!!" bentak Sela.
"Ssttt, jangan bawel. Buruan ke kantin, kamu gak khawatir apa sama Dira? Cepet dikit kenapa, Sel jalannya," ucap Arsan.
Begitu sampai di kantin, mereka berdua duduk disebelah Panji. Arsan dan Sela melihat wajah Panji tampak lesu. Sela pun mengagetkannya.
"Apa Sela? Lagi bad mood ni, lihat tu sahabat kalian lagi berduaan sama cowok pecundang itu...," lirih Panji.
"Kak Panji jangan patah semangat dong, kita bakal ngerjain si Davin hari ini. Tenang aja Kak," ucap Sela.
"Bener tu, bukannya semalam Davin mau jebak kamu. Kita lihat aja permainan Davin sama Aurel itu," sambung Arsan.
Panji, Arsan dan Sela memperhatikan Dira yang sedang berbincang dengan Davin. Sesekali Davin memegang tangan Dira, tapi wanita mungil itu melepaskan dari sentuhan tangan Davin. Panji yang melihatnya tertawa girang.
"Gimana gak nolak, makanya jangan suka maksa. Dira kok dipaksa, sekali dia berontak bakal dihajar tu si Davin. Hahaha," gumam Panji sambil tertawa.
"Kenapa bro?" tanya Arsan penasaran.
"Tuh lihat si Dira, emang pinter tu anak. Davinnya aja yang kegatelan, pakai acara megang tangan Dira segala," ucap Panji sambil menunjuk ke arah bangku Dira dan Davin.
Panji pun bergegas ke perpustakaan, ia sengaja lewat dihadapan Dira untuk memberi kode agar ia segera menyusul ke perpustakaan. Davin begitu curiga saat Dira mengalihkan pandangan ke arah ketua OSIS itu. Dengan rasa cemburu, Davin berdiri dan mengancam Panji yang sengaja memunculkan diri dihadapannya.
__ADS_1
"Bukannya aku udah ngasih tau ya, masih juga mau merebut Dira dari aku, kelihatan siapa yang pecundang sekarang. Udah kalah ngaku kalah aja kenapa sih," tutur Davin.
"Jaga omongan kamu ya, emangnya ini jalan punya kamu? Ini jalan umum, orang bebas mau lewat mana aja. Kayaknya kamu deh yang bakalan kalah," balas Panji lalu membalikkan badannya. "Pecudang!!!"
Panji melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan, Arsan dan Sela pun membuntutinya dari arah belakang. Dira berpura-pura tidak tahu agar Davin tidak mencurigainya. Sesekali ia mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain.
"Kak Davin, mau nyambung kuliah mana rencanannya?" tanya Dira.
"Rencana sih kuliah di Universitas luar kota, tapi belum tau pasti sih," jawab Davin. "Kenapa, Dir?"
"Gak ada, Kak. Dira cuma pengen tau aja, siapa tau Dira bisa nyusul Kak Davin kan," ujar Dira.
"Bisa aja kamu, Dira," balas Davin sambil mengelus kepala Dira.
Dira mencari alasan agar bisa bebas dari Davin. Kebetulan Rena sedang berjalan dihadapan mereka. Dira pun memberhentikan langkah Rena, lalu memintanya untuk duduk menemani Davin yang masih melanjutkan makan.
"Rena ...," sapa Dira.
"Eh, kamu Dira. Ada apa? Tumben kamu nyapa aku," ucap Rena.
"Kamu duduk sini dulu, ya. Temenin Kak Davin, pokoknya ajak dia ngobrol. Okey," bisik Dira. "Aku ke kamar mandi dulu."
"Okey...," balas Rena.
"Kak Davin, Dira ke kamar mandi dulu, ya...," ujar Dira.
Davin cuma membalas dengan anggukkan kepala. Dira berlari menuju perpustakaan untuk menemui Panji. Begitu sampai, Dira melihat Panji dan dua sahabatnya duduk di bangku pojokan. Ia pun menghampiri mereka bertiga yang tengah berbincang.
"Kak Panji ... Arsan ... Sela ... Maaf ya semuanya, gara-gara aku jadi ribet gini ...," lirih Dira dengan wajah sedih.
"Udah, gak apa-apa Dira sayang," jawab Panji dengan senyuman.
"Kita kan sahabat kamu, Dira. Susah senang selalu sama-sama," ucap Sela.
"Apalagi kalau masalah ginian, kita mah gak keberatan nolongin kamu. Aku kan sayang kamu, Dira," sambung Arsan dengan candaan.
"Arsan!!!" teriak Panji.
__ADS_1
Mereka pun tertawa melihat Panji yang merasa sedikit cemburu ketika Arsan mengeluarkan kalimat itu.