Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 38


__ADS_3

Hari ini, Dira berangkat sekolah di antar oleh sopir pribadi Papanya. Begitu sampai kelas, Dira langsung menghampiri Sela dengan wajah yang sedikit kesal.


"Kenapa mukamu kusut gitu, Dir?" tanya Sela. "Oh, jangan-jangan kamu kesal, ya, semalam Kak Panji gak jadi nembak kamu."


"Sstt.. jangan kenceng-kenceng ngomongnya, Sel. Ih, kamu bikin tambah bete...," lirih Dira.


"Udah, besok coba lagi, Dira," ucap Sela. "Kamu beneran naksir Kak Panji?"


"Gak tau deh,Sel," jawab Dira sambil memegang kepalanya dan berjalan ke bangku tempat ia duduk.


Para murid di kelas sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ada yang tertawa ria, ada yang membaca buku pelajaran, dan ada juga yang menonton film dari laptop. Dira hanya termenung mengingat kejadian tadi malam.


Padahal, aku berharap bakalan jadian dengan Kak Panji.


Kenapa harus gagal lagi. Padahal udah seneng banget.


"Kak Panji...!!" Dira berteriak membuat semua murid yang ada di kelas melihat kearahnya.

__ADS_1


Dira langsung mematung saat semuanya menatap kearahnya, ia lalu menoleh kekanan, kiri, dan belakang sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. Jam pelajaran pun dimulai, hari ini Pak Guru melaksanakan ulangan dadakan, membuat semua murid terkejut dan menolaknya.


"Baiklah, hari ini kita akan adakan ulangan matematika mendadak, ya anak-anak," ucap Pak Guru.


"Kok mendadak, Pak?" tanya Arsan. "Kita semua kan belum pada belajar."


"Bapak beri waktu tiga puluh menit kalian untuk belajar," jawab Pak Guru.


Saat semua murid pada sibuk belajar, tiba-tiba ada pengumuman bahwa siswa kelas X sampai kelas XII disuruh berkumpul di hall. Murid kelas X.1 bersorak gembira, karena ulangan dibatalkan.


"Ngapain kita disuruh ke hall, Dir?" tanya Arsan.


Seluruh siswa berkumpul di hall, Panji selaku ketua OSIS memberitahu bahwa akan diadakan acara pertandingan semua cabang olahraga antar sekolah. Dira yang mendengar kabar itu pun terlihat bahagia, spontan Dira memeluk Sela.


"Akhirnya, kita bakal ikutan lomba lagi, Sel...," lirih Dira. "Kita harus menang."


"Pasti dong, kita kan tim yang kompak," ucap Sela.

__ADS_1


Setelah pengumuman selesai, semua murid bubar kembali ke kelas mereka masing-masing. Saat Dira berjalan menuju kelas, tiba-tiba ada yang menarik tangannya. Dira yang tengah asyik berbincang dengan Sela tersontak kaget lalu membalikkan badannya. Ternyata Panji ingin berbicara empat mata dengan Dira.


"Indira, bisa kita ngobrol sebentar? Ada hal penting," bisik Panji ditelinga Dira.


Dira menganggukkan kepalanya. Lalu mereka pun berjalan kearah perpustakaan. Dira berjalan sedikit lambat, tak sengaja ada seorang lelaki menabrak Dira, hingga ia terjatuh. Lelaki itu tampak asing dan ia mengulurkan tangannya untuk membantu Dira berdiri. Panji menoleh kebelakang, ia melihat Dira terjatuh langsung menghampirinya.


"Maaf, ya. Saya tidak sengaja menabrak kamu," ucapnya.


"Eh, hati-hati dong. Punya mata dipakai, jalan seluas ini!!" bentak Panji ke lelaki itu. "Kamu gak apa-apa, Dir?"


"Udah, Kak. Dira gak apa-apa. Yuk, lanjut jalan..," lirih Dira.


Saat Dira melanjutkan langkahnya, ia masih penasaran dengan lelaki itu. Dira menoleh kebelakang melihat kearah lelaki yang baru saja menabraknya itu.


Kayaknya bukan murid di sekolah ini, deh. Gak pernah ngeliat soalnya. Udah ah, lupain.


Sesampainya di perpustakaan, Panji terlihat khawatir dengan Dira. Ia melihat tangan Dira sedikit lecet, lalu menarik tangannya untuk diobati.

__ADS_1


"Lihat tuh tangan kamu, luka," ucap Panji sedikit panik. "Sini aku obatin, kebetulan ada obat merah nih."


"Udah Kak, gak apa-apa. Luka dikit doang, lebay deh Kak Panji...," lirih Dira.


__ADS_2