
Hari ini pertandingan basket antar sekolah. Dira dan Sela bersiap-siap untuk ke lapangan. Sebelum pertandingan dimulai, tim sekolah Dira melakukan pemanasan terlebih dahulu. Tiba-tiba Tya datang, Tya adalah siswa kelas XII sekaligus tim basket Dira. Ia datang memberi kabar, bahwa Alena, kapten basket puteri berhalangan hadir, dengan terpaksa Dira menggantikan posisi itu. Dira bingung, karena ini pertama kalinya memegang posisi sebagai kapten.
"Hei guys, kapten tim basket kita berhalangam hadir," ujar Tya. "Dira, kamu yang ganti posisi kapten basket."
"Apa? Dira yang jadi kapten Kak?," tanya Dira dengan wajah bingung. "Dira belum pernah diposisi itu, Dira takut, Kak Tya."
"Kak Alena yang menitipkan pesan, bahwa kamu yang dipilih sebagai gantinya, Dira," jawab Tya sambil memegang pundak Dira. "Eh, kamu itu jago, Dir. Pantes banget jadi pengganti Kak Alena."
"Wah, hebat banget kamu, Dir," tutur Sela. "Bisa jadi kapten basket hari ini, aku yakin kamu bisa Dira."
Arsan menghampiri Dira, ia memberikan minuman untuk Dira yang baru saja selesai latihan. Arsan mengucapkan selamat kepada Dira, karena hari ini Dira menjadi kapten basket puteri di sekolahnya. Lalu, Arsan pun berjalan kearah bangku yang sudah tersedia di lapangan basket tersebut. Tanpa sadar, Panji pun duduk bersebelahan dengan Arsan. Panji kaget dengan keberadaan Arsan yang duduk disebelahnya.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Panji mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Ya mau dukung pujaan hati dong, tu lihat Dira jadi kapten basket," jawab Arsan sambil membuka tutup botol air mineral lalu ia minum.
"Mimpi aja lu ya, Arsan. Sejak kapan kalian jadian. Hahaha," ucap Panji dengan menertawai Arsan. "Udah cocok banget Dira jadi pengganti Alena."
Panji mengarahkan pandangannya ke Dira yang sedang berdiri ditengah-tengah lapangan. Arsan pun menyuruhnya untuk pindah dari bangku itu. Posisi mereka di depan menghalangi penonton dibelakang, yang dari awal mereka duduk tak berhenti berdiri dan berdebat dihadapan mereka.
"Hei, kalian menghalangi aja. Kita juga mau nonton!!" bentak Raka.
"Minggir!!" teriak semua orang yang duduk dibelakang Arsan dan Panji.
"Kalian ribut mulu, udah kayak cewek berantem berebut cowok tau gak," ucap Reno.
"Mereka kebalik, berantem rebutin Indira," tutur Raka.
__ADS_1
"Indira? Yang jadi kapten basket itu kan?" tanya Reno.
Pertandingan pun berlangsung. Dira begitu lincah memasukkan bola ke ring. Baru lima menit waktu berjalan, Dira sudah memasukan lima bola ke ring lawan. Panji dan Arsan bersorak menyemangati Dira. Mereka berdua tak henti-hentinya berdebat soal Dira, bagaikan kucing dan tikus. Akhirnya, pertandingan dimenangkan oleh tim Dira. Dira dan tim pun berpelukan ditengah lapangan.
Setelah selesai, Dira menghampiri Panji dan Arsan yang menunggunya dibangku paling depan. Saat Dira tengah asyik bergurau dengan Panji, tiba-tiba datang seorang cewek, Namanya Nadin. Ia begitu cantik, tinggi, putih dan memiliki bola mata yang berwarna coklat. Ternyata, Nadin adalah mantan Panji.
"Hei, kamu Panji, kan?" tanya Nadin penasaran. "Kamu apa kabar Panji, ya ampun kamu beda banget sekarang."
"Ya, aku Panji. Kamu Nadin, kan?. Ternyata kamu masih ingat aku, ya," ujar Panji sambil melontarkan senyuman. "Kok kamu bisa di sini? Bukannya kamu sekolah di luar negeri."
Dira hanya bengong melihat mereka berdua bercengkrama. Lama-lama Dira merasa terabaikan, dan mulai timbul rasa cemburu saat Panji dan Nadin asyik ngobrol berdua. Dira akhirnya menarik tangan Arsan untuk pergi dari bangku itu.
Setelah lama mengobrol dengan Nadin, Panji baru sadar Dira sudah dari tadi pergi. Panji pun mencari Dira ke parkiran, ternyata Dira pulang bersama Arsan. Panji merasa bersalah telah mengabaikan Dira. Panji pun segera menuju ke rumahnya untuk meminta maaf. Akhirnya, Panji sampai di dapan rumah Dira. Sudah satu jam Panji menunggu tak kunjung datang. Alhasil, Panji pun bergegas pulang. Tak lama kemudian, Dira sampai di rumah diantar oleh Arsan.
__ADS_1