
Pagi ini, Dira masuk sekolah seperti biasanya. Semua murid tampak kaget melihat kedatangannya ke sekolah dengan berbalut perban dikepalanya. Salah satunya Rena, ia begitu penasaran dan langsung menghampiri Dira.
"Eh, Dira ...," sapa Rena.
"Ya, Ren? Kenapa?" tanya Dira sambil memberikan senyuman.
"Kamu udah sembuh? Dira, ini apa dikepala kamu? Kamu sakit apa? Gini-gini aku bisa khawatir juga loh," ucap Rena sedikit menggerutu.
"Aku gak apa-apa kok, Ren. Cuma luka dikit, hehehe ...," jawab Dira dengan tertawa kecil.
Tak lama kemudian, Panji datang menghampiri Dira yang sedang asyik mengobrol bersama Rena. Disusul oleh Arsan dan Sela yang baru saja sampai langsung menuju kearah Dira.
"Dira ...," sapa Arsan dan Sela secara bersamaan.
"Eh, kalian. Emang kayaknya kalian berdua cocok deh," jawab Dira.
"Apaan sih, mana mungkin aku mau sama si brandalan ini, Dir," ucap Sela sambil memukul pelan pundak Arsan.
"Aaww ... apa sih, Sela. Baru juga datang udah ditimpuk aja," balas Arsan dengan wajah kesal.
"Habisnya si Dira bilangin kita cocok," ucap Sela memukul sekali lagi.
"Eh, kamu cewek mukul udah kayak anak cowok aja deh, Sel. Sakit tau," jawab Arsan.
"Udah, jangan berantem," sahut Panji. "Benar yang Dira omongin, kalian cocok tau gak, hahaha."
Setelah perdebatan Arsan dan Sela tak kunjung selesai, bel masuk pun berbunyi. Panji berjalan menuju kelas sambil memberikan senyuman ke Dira. Dira pun membalas senyuman itu. Ia dan dua sahabatnya masuk ke dalam kelas. Terlihat teman sekelasnya menyambut kedatangan Dira yang sudah hampir dua minggu tidak masuk ke sekolah.
"Dira, lekas sembuh ya ..."
"Dira, kita semua rindu sama kamu ..."
"Kita satu kelas minta maaf jika pernah nyakitin kamu ..."
"Udah, teman-teman gak usah minta maaf. Kalian gak salah kok, aku juga rindu kalian semua," jawab Dira dengan melebarkan senyuman dibibirnya.
Dira berjalan kearah bangku tempat duduknya. Bu Guru pun masuk dan memberikan tugas.
"Baiklah, Ibuk berikan kalian tugas. Buka halaman 150, kerjakan dari nomor 1 sampai 20, ya. Ibuk ada urusan, jadi Ibuk tinggal dulu. Minggu depan kita sudah ujian semester 2," jelas Bu Guru.
"Baik, Buk ...," ucap para murid serentak.
Semua murid pun mulai mengerjakan tugas. Dira termenung, tiba-tiba saja merasa pusing sambil memegang kepalanya. Arsan yang melihat tingkah Dira begitu panik dan langsung menghampirinya.
__ADS_1
"Dir, Dira, kamu kenapa?" tanya Arsan.
"Gak apa-apa, Ar. Cuma sedikit pusing, pengen ingat sesuatu tapi susah, jadinya pusing," jawab Dira sambil memegang kepalanya.
"Jangan dipaksakan, Dira ...," lirih Arsan.
Sela pun ikut mengahampiri mereka berdua.
"Dira, kamu kalau masih sakit jangan dipaksakan ke sekolah. Kita gak mau kamu kenapa-kenapa ...," lirih Sela.
"Enggak, Sel. Aku gak apa-apa, cuma pengan mengingat sesuatu tapi sulit," jawab Dira.
Bel istirahat berbunyi, Dira dan dua sahabatnya berniat berjalan menuju kantin. Baru saja menapaki kaki keluar kelas, tampak Panji dan Davin sedang menunggu di depan kelas. Akhirnya, mereka pun bersamaan menuju kantin.
"Dira, kamu udah bisa mengingat? Sedikit aja," ucap Davin.
"Dira berusaha mengingat semuanya, Kak. Tapi selalu pusing," jawab Dira.
"Jangan paksakan, Vin. Lambat laun, Dira pasti ingat kembali," ucap Panji.
Setelah tiba di kantin, terlihat Aurel sedang menunggu di bangku tempat mereka biasa duduk.
"Eh, Dira. Kamu gak usah berakting kenapa, sih," ucap Aurel sambil mendorong tubuh Dira.
"Sok-sokan lupa ingatan segala, supaya apa? Supaya dapat perhatian dari Panji? Bukannya kamu bakal tunangan sama Davin, jadi udah terima aja!!" bentak Aurel.
Seketika kepala Dira mulai pusing lagi saat mendengar ucapan Aurel. Panji, Davin dan dua sahabat Dira begitu marah melihat Dira mulai kesakitan saat itu.
"Bisa gak kamu jangan mencampuri urusan Dira!!" bentak Arsan.
"Dira tidak sedang berakting asal kamu tau, ya!! Jaga ucapan kamu, Rel," ucap Panji.
"Harusnya kamu tidak bicara gitu didepan Dira, ini bisa membahayakan dirinya jika harus memaksakan dia untuk mengingat, tolong jangan bikin Dira tambah sakit, Rel ...," lirih Davin.
"Dira, kamu minum dulu," ucap Sela sambil menuangkan air ke gelas.
"Sampai kapan pun, aku gak akan pernah biarkan Dira dan Panji bersama. Camkan itu!!" ucap Aurel dengan mengeraskan suaranya.
Setelah beberapa menit, akhirnya Dira pun membaik. Tapi, tetap saja ingatannya belum sepenuhnya pulih. Panji membawakan semangkok mie ayam kesukannya, lalu menyuapkan ke Dira.
"Kamu makan dulu ya, Dir ...," ucap Panji.
"Kak, makasih ya ...," lirih Dira. "Terus bantu Dira agar bisa mengingat semuanya."
__ADS_1
"Dira, aku bakalan tetap berusaha sekuat tenaga," balas Panji sambil tersenyum.
Bel masuk berbunyi, mereka kembali ke kelas masing-masing. Baru saja Dira hendak menuju ke kelas, tiba-tiba ia kembali teringat perkataan Aurel saat di kantin.
"Duh, mulai sakit lagi ...," lirih Dira.
"Dir, kamu gak apa-apa?" tanya Sela.
"Kamu istirahat aja deh, ya. Aku antar ke UKS," ucap Arsan.
"Gak usah, aku gak apa kok. Maksud Kak Aurel tadi apa? Kenapa aku bisa tunangan dengan Kak Davin? Aku gak ngerti," tutur Dira.
"Gak usah dipikir, Dira. Aurel itu sengaja bikin kamu tambah sakit," jawab Sela.
"Lupain ya, Dir. Fokus untuk kesembuhan kamu ...," lirih Arsan sambil mengelus kepala Dira.
Mereka pun menuju kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Bel pulang berbunyi, Dira sedang sibuk membereskan buku-buku yang ada diatas meja. Tiba-tiba, terdengar suara keributan di depan kelas. Semua murid di dalam kelas berlari keluar menuju sumber suara. Dira, Arsan dan Sela pun ikut melihat ada apa diluar sana. Ternyata, perdebatan antara Davin dan Aurel.
"Asal kamu tau ya, Vin. Semua ini demi kamu bisa bersama dengan Dira!!" bentak Aurel.
"Aku gak butuh bantuan kamu!! Kebahagiaan Dira bukan aku, tapi Panji," balas Davin.
"Gilak kamu, ya. Gak tau terima kasih, malah mau hancurin semuanya!! Puas kamu!!" ucap Aurel dengan nada tinggi sambil mendorong tubuh Davin lalu pergi meninggalkan tempat itu.
"Ada apa ini?" tanya Arsan. "Kenapa, Vin?"
"Tuh, si Aurel pakai ngancam segala. Dia kira dia itu siapa," jawab Davin dengan wajah kesal.
Tak lama kemudian, Panji pun datang. Melihat kerumunan, ia langsung mempercepat langkah kakinya.
"Kenapa ini?" tanya Panji.
"Biasa, Aurel sama Davin ribut," jawab Arsan.
Tiba-tiba saja, Dira jatuh pinsan. Panji segera menggotong menuju ruang UKS. Lalu ia menelepon sopir yang biasa menjemput Dira sekolah. Begitu sampai ruang UKS, Sela mengambilkan segelas air putih hangat untuk sahabatnya itu. Sekitar lima menit Dira pinsan, akhirnya ia sadar dan duduk. Dira kaget melihat Panji, Arsan dan Sela dihadapannya.
"Kenapa aku disini?" tanya Dira heran.
"Dira, kamu jangan terlalu memikirkan itu. Kamu fokus untuk kesembuhan kamu dulu," ucap Panji.
"Bener, Dir. Jangan dipikirkan semua perkataan tadi, jangan paksa untuk mengingatnya sekarang juga," sambung Arsan.
"Dira, kamu gak boleh sakit lagi. Kamu harus bisa sembuh," ucap Sela sambil memeluk Dira.
__ADS_1