Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 7


__ADS_3

Alarm berbunyi membangunkan Dira dari tidurnya. Dira pun duduk sambil melihat jam. Ternyata, jam menujukan pukul 07.00 WIB. Dira pun bangkit dan segera mandi. Setelah selesai, ia pun mencari Mamanya ke dapur. Mama hari ini akan meninggalkanku sendirian, karena ada urusan. Libur panjang membuat Dira bosan, tiba-tiba ia kepikiran untuk mengajak Sela ke rumahnya.


"Suntuk banget di rumah sendirian. Oh ya, telepon Sela aja deh, siapa tau dia mau main ke rumah," ucap Dira.


Lalu, Dira pun menelepon Sela, ia menyuruh Sela datang ke rumah untuk menemaninya. Sela pun menyetujui ajakan Dira. Tak lama kemudian, Sela pun datang. Mereka menuju taman belakang rumah untuk bersantai.


"Besar banget rumah kamu Dira," ungkap Sela dengan takjub.


"Itu makanya, aku suntuk gak ada kawan, Sel. Makanya ngajakin kamu kesini biar ada kawan ngobrol," ucap Dira.


"Oh, ya. Gimana si Arsan?" tanya Sela. "Kalian udah jadian? Pasti udah kan, ayo ngaku, Dir."


"Apaan sih. Gak, aku gak pacaran. Ngaco kamu," jawab Dira.


Sela masih saja menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali, Sela tidak percaya dengan apa yang Dira omongkan. Dira pun bergegas ke dapur membuatkan minuman untuk Sela. Setelah sekian lama berbincang. Tiba-tiba ponsel Dira berbunyi.


"Eh, ada SMS nih. Ha? Dari Arasan, Sel," ucap Dira terkejut.


"Mana.. mana.. coba aku lihat, Dir," balas Sela.


Dira pun menunjukkan pesan itu kepada Sela. Arsan mengajak Dira ketemuan di SMA favorit. Dira awalnya tidak mau, karena dia malu untuk bertemu dengan lelaki. Sela pun iseng menjawab pesan dari Arsan.


"Sini, Dir. Aku aja yang balas. Pokoknya kamu harus mau, siapa tau dia nembak kamu," ucap Sela.


"Ih, apaan tembak-tembak. Emang mainan," jawab Dira.


"Udah sini, biar aku jawab, Dir" ujar Sela sambil menarik ponsel Dira. "Nah, udah terkirim. Tinggal nunggu balasan dari si Arsan."


"Ih, aku gak mau kalau cuma berdua aja. Pokoknya kamu harus ikut sama aku, Sel. Kan kamu yang balas tu," ungkap Dira sedikit kesal.

__ADS_1


"Oke, tenang aja Dira. Aku bersamamu," balas Sela dengan senyuman.


Setelah itu, mereka pun segera bersiap-siap untuk pergi ke SMA favorit mereka. Kebetulan, mereka bertiga ini memang berniat ingin masuk ke SMA yang sama.


"Buruan, Dir. Ganti baju yang paling bagus," ucap Sela. "Biar aku bantu pilih ya."


"Terserah kamu deh, aku pasrah. Aku kok deg-degan, Sel," ucap Dira.


"Nah, ini aja. Buruan ganti, pakai parfum yang banyak ya biar nempel tu si Arsan, hahaha," ucap Sela sambil tertawa.


Dira pun segera mengganti pakaiannya. Setelah semua siap, lalu Dira mencari Pak Udin, ia meminta Pak Udin mengantarkannya ke tujuan. Perjalanan yang kami tempuh hanya 10 menit. Akhirnya sampai di SMA favorit itu. Dira dan Sela pun turun dari mobil.


"Pak, tunggu di warung dulu ya, nanti Dira telepon kalau sudah selesai," ucap Dira.


"Baik, Non Dira...," jawab Pak Udin.


"Eh, ada Sela juga rupanya," ucap Arsan. "Udah lama kalian di sini?"


"Ya dong, kalau Dira kenapa-napa aku kan bisa nonjok kamu, Ar," balas Sela.


"Belum lama kok, baru juga nyampai kita berdua," jawab Dira. "Ngapain sih pakai ketemuan segala, ada hal penting ya?"


"Ya, Dira. Ada yang mau aku sampaikan ke kamu," ujar Arsan. "Sela, kamu tutup telinga dong..."


"Yaudah, buruan. Mau ngomong apa?" tanya Dira penasaran.


Kok aku jadi deg degan gini sih. Ya ampun, sampai keringat dingin.


"Aku... aku..."

__ADS_1


"Aku apa Arsan?" tanya Dira.


"Ih, cepetan kenapa, Ar. Lama banget, perlu aku bantu jelasin nih," sambung Sela.


"Aku sebenarnya su..." belum selesai Arsan bicara, tiba-tiba ponsel Dira berbunyi, ternyata Mama Dira menelepon memintanya untuk segera pulang. Dira pun langsung menelepon Pak Udin untuk menjemputnya dan mengantarkan pulang ke rumah.


Wajah Arsan berubah menjadi merengut. Padahal ia ingin mengungkapkannya secepat mungkin. Dira kembali memasukkan ponsel ke saku celana. Mobil pun tiba di depan halte Dira berdiri, sejenak menghampiri Arsan yang masih duduk.


"Lain waktu aja ya, Arsan kita sambung lagi. Maaf banget, mendadak nih Mamaku nelepon suruh pulang...," lirih Dira ke Arsan. "Yuk, Sel pulang...!!" Dira berjalan kearah mobil, membuka pintunya lalu ia pun masuk. Sela masih berada diluar berbincang dengan Arsan.


"Itu makanya, jangan kelamaan," jawab Sela. "Nembak Dira aja kok payah banget kamu, Ar. Tinggal ngomong gi...."


"Halah, udah udah. Besok aku ke rumahnya, Sel. Bantuin dong, kamu mah gitu sesama teman...," lirih Arsan memotong pembicaraan Sela.


Sela pun menanggukkan kepala. Sekitar lima menit Dira menunggu di mobil, ia pun membuka kaca mobil lalu memanggil Sela untuk segera naik.


"Sel, ayo buruan. Mama udah nelepon terus, nih...," ujar Dira.


Sela pun berjalan kearah mobil lalu segera masuk. Akhirnya Dira dan Sela pun pulang ke rumah, karena Mama Dira sudah menunggunya. Di mobil, Dira sedikit curhat ke Sela tentang Arsan.


"Sel, menurut kamu kalau punya sahabat cowok itu asyik, gak?" tanya Dira dengan begitu serius. "Kamu lihat gak, kedekatan aku dengan Arsan makin hari makin akrab, Sel. Dia baik banget. Kayaknya lebih enakan punya sahabat cowok. Kamu seneng gak, kalau Arsan jadi sahabat kita?"


"Menurutku sih asyik aja, Dir. Selama dia baik ke kita, tapi kebanyakan sih kalau sahabatan dengan cowok pasti ada rasa suka...," lirih Sela dengan raut wajah cemberut. "Itu sih tergantung si Arsan, Dir. Aku sih welcome aja."


"Oh ya? Kamu pernah ngalamin, Sel? Ceritain dong... aku jadi penasaran," ucap Dira memohon.


"Pernah, waktu aku kelas VII sebelum aku pindah ke SMP Cemara. Pernah naksir sama sahabatku dari SD, semenjak itu persahabatan kami jadi renggang," tutur Sela.


Dira kembali mengingat mulai awal berkenalan dengan Arsan hingga detik ini. Semua memori kebersamaan dengan Arsan begitu sama persis dengan yang Sela omongkan. Dira kembali mendengar cerita Sela dan berusaha memahami. Ia merasa keakrabannya dengan Arsan sudah seperti sahabat. Dan Dira tak ingin mengalami apa yang Sela cerita barusan. Tapi, Dira merasa bahwa tak ada rasa suka saat bersama Arsan. Dira lebih menganggap Arsan sahabat barunya. Mobil pun melaju, tak lama kemudian sampai di depan teras rumah. Dira segera turun dan mencoba melupakan apa yang sedang ia pikiran itu. Dira membuka pintu lalu masuk untuk memenemui Mama.

__ADS_1


__ADS_2