
Begitu sampai rumah, tanpa basa-basi Dira langsung menuju kamar. Lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur, Dira menatap langit-langit kamarnya. Lagi-lagi ia masih kepikiran dengan ucapan Davin di halte tadi.
Kalau gak karena Papa, aku gak akan mau nerima ajakan si Davin itu. Lebay banget caranya.
"Eh, tadi Kak Panji bilang suka sama aku, kan di gerbang kantin. Ya ampun, aku segitu jahatnya abaikan Kak Panji di sekolah hanya gara-gara cowok lebay itu...," lirih Dira.
Dira mengambil ponselnya, lalu membuka whatsapp untuk mengirimi pesan ke Panji. Belum saja ia mengetik, Panji sudah mengirim pesan duluan. Dira senyum-senyum membaca pesan itu.
Apa sih, kok jadi salah tingkah gini. Sadar Dira sadar, bangun dari mimpimu.
Jam menunjukkan pukul 19.00 WIB, Dira berjalan menuju teras rumahnya untuk mencari udara segar. Tiba-tiba, terdengar suara klakson sepeda motor dari luar pagar. Dira segera membuka pintu pagar, ternyata Panji yang datang.
"Hei, Dira ...," sapa Panji. "Kamu sibuk gak?"
"Eh, Kak Panji. Kok gak ngabari dulu kalau mau ke rumah, gak kok Dira gak sibuk," jawab Dira.
"Hehehe, maaf. Mendadak lebih enak deh kayaknya, biar kamu terkejut," ucap Panji. "Kalau gak sibuk, yuk jalan cari angin."
Dira pun mengangguk. Ia segera masuk untuk bersiap-siap. Setelah selesai, Dira pun menghampiri Panji yang sudah menunggu di teras rumah.
"Ke mana rencananya, Kak?" tanya Dira.
"Ke kafe biasa," ucap mereka berdua serentak.
"Pemikiran kita sama, fix kita jodoh," gumam Panji.
Ya Kak, kita emang jodoh. Hehehe
Mereka pun berangkat ke kafe itu. Diperjalanan, Dira mengingat semua momen bersama Panji. Ia pun senyum-senyum sendiri. Tanpa sengaja mereka melewati pameran novel yang sedang berlangsung di lapangan terbuka itu. Panji pun memanggil Dira, tapi ia tak menjawab.
"Dir, Dira...," sapa Panji.
__ADS_1
"Dira!!!" teriak Panji sambil menarik tangan Dira.
"Ya, Dira juga suka kok...," ucap Dira dengan kaget.
"Suka apanya?" tanya Panji heran. "Kamu mau lihat pameran novel gak?"
"Ya... itu maksud Dira, Kak," jawab Dira. "Dira kebetulan suka novel. Jadi, ayo kita ke pameran itu."
Panji pun heran melihat sikap Dira sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Panji memarkirkan kendaraannya, lalu mereka masuk ke dalam untuk melihat pameran novel. Dira melihat satu per satu, begitu terlihat novel kesukaannya, ia langsung menggenggam tangan Panji dan menarik tangannya untuk jalan lebih cepat agar mendapatkan buku novel yang bertanda tangankan si penulis. Panji terdiam, ia merasa canggung saat Dira menggenggam tangan itu. Akhirnya Dira mendapatkan buku novel yang selama ini ia cari. Dira baru tersadar bahwa ia menggandeng tangan Panji dari awal masuk. Dira pun melepaskan dengan raut wajah malu dan mengalihkan pembicaraan.
"Kak, kayaknya itu seru deh," ucap Dira menunjuk ke arah pasar malam.
"Yuk, ke sana. Berani gak ke rumah hantu?" tanya Panji.
"Ih, gak ah takut. Ntar Dira gak bisa tidur," jawab Dira. "Yang lain aja deh, Kak..."
"Ya udah, yuk," ujar Panji sambil mengulurkan tangannya ke Dira.
"Gandengan dong, gimana sih kamu Dira...," balas Panji lalu menarik tangan Dira.
Jantung Dira saat itu berdetak kencang, ia gugup, malu juga grogi. Apalagi waktu Panji menatap mata Dira, membuatnya semakin canggung. Panji pun menggandeng tangannya, lalu mereka berjalan menuju pasar malam itu. Dira hanya menunduk, karena ia begitu gugup saat berdekatan dengan pria yang ia sukai.
"Dira, jangan lihat bawah terus dong, di sini ada orang loh...," ucap Panji.
Dira pun kaget, spontan mengalihkan pandangannya ke arah Panji. Dengan wajah yang tampak begitu malu.
"Dira ngelihat jalan loh, Kak. Siapa tau ada uang jatuh," jawab Dira dengan beralasan.
"Ada-ada aja kamu ni," ucap Panji.
Begitu sampai di pasar malam itu, mereka mencoba wahana bermain yang tersedia. Setelah tiga puluh menit bermain, Dira pun penasaran dengan ucapan Panji sewaktu di gerbang kantin semalam.
__ADS_1
"Kak Panji ingat gak sih pas di gerbang kantin?" tanyanya.
"Ingat dong, bukannya aku ada ungkapin ke kamu, Dir...," jawab Panji.
"Masa sih? Emang Kak Panji ungkapin apaan? Dira gak denger loh. Hehehe," ucap Dira sambil tertawa kecil.
Dira denger kok, Kak. Pengen denger yang lebih jelas aja. Maafin Dira ngerjain kamu, Kak.
"Jadi aku harus ulangi lagi, Dir? Di sini?" tanya Panji.
Dira menganggukkan kepala sambil melontarkan senyuman. Panji mengatur nafas, ia menarik tangan Dira lalu menatap kedua mata wanita yang bertubuh mungil itu.
"Dira, aku suka sama kamu ... Maaf aku telat ungkapin perasaan ini, aku harap kamu tetap selalu didekatku...," ungkap Panji dengan tatapan yang begitu serius.
"Kak Panji gak bohong? Serius? Emang apa yang spesial dari Dira? Bukannya Kak Aurel jauh lebih cantik...," lirihnya.
"Kamu ya kamu, Aurel ya Aurel. Kamu gak bisa disamain dengan dia. Kamu lebih istimewa dari siapapun, kamu itu baik, pintar lagi, bawel juga," ucap Panji sambil mencubit kedua pipi Dira.
"Ngeselin ih ... Kak Panji, Dira sebenarnya juga suka sama Kakak. Tapi Dira malu, ini baru pertama kalinya Dira suka sama cowok. Maafin Dira ya, Kak...," jawab Dira lalu memeluk Panji.
Akhirnya, mereka berdua saling mengungkapkan perasaan satu sama lain. Mereka pun menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Tapi, mereka membuat perjanjian untuk merahasiakan hubungan itu dari siapapun. Panji pun juga menjelaskan tentang rencana yang akan dibuat oleh Davin. Dira begitu kaget mendengarnya. Panji meminta Dira untuk menjaga jarak dengan pria licik itu.
"Kamu harus jaga jarak dengan dia, Dir. Tapi, jangan sampai ketahuan, pokoknya kamu pandai-pandai beralasan...," lirih Panji.
"Ya Kak, malah besok mesti pergi bareng Davin lagi, jujur Dira gak mood sama sekali dekat sama Davin, Kak," ujar Dira. "Eh, ayo kita ke kafe, bukannya tadi janjinya ke sana, perut Dira juga udah bunyi nih, hehehe."
Mereka pun melanjutkan ke kafe untuk melanjutkan obrolan. Setelah sampai, Dira pun menggandeng tangan Panji tanpa rasa canggung lagi. Panji tersipu malu saat itu. Mereka melanjutkan untuk masuk ke dalam kafe untuk mencari tempat duduk.
"Kamu mau makan apa, Dir?" tanya Panji.
"Kayak biasa aja, Kak," jawab Dira.
__ADS_1
Sembari menunggu pesanan datang, Panji mengeluarkan ponselnya. Ia menyalakan rekaman suara yang didapat saat Davin dan Aurel berbincang tentang jebakan yang mereka siapkan besok. Tak lama kemudian, pesanan pun datang. Mereka menyantap hidangan itu, setelah semua habis, Panji mengantarkan Dira pulang. Sampai di depan pintu pagar, Panji memberi kecupan dikening Dira dan tak lupa mengingatkan untuk rencana besok.