
Setelah mengecek data seluruh murid SMA Favorit, tidak ada yang mencurigakan. Panji sempat putus asa karena tidak berhasil menemukan bukti pelaku.
"Yang benci Dira cuma Aurel sama Rena, tapi keduanya gak ada tanda-tanda punya mobil jadul atau koleksi segala macam dari keluarga mereka," gumam Panji.
Tiba-tiba ponsel Panji berbunyi, ia langsung mengambilnya dari bawah bantal. Ternyata Arsan mengabari bahwa ia menemukan bukti di tempat kejadian berupa potongan foto. Jam menunjukkan pukul 22.00 WIB, Panji pun melanjutkan untuk tidur.
Keesokan harinya di sekolah, Panji baru saja tiba di parkiran motor. Tiba-tiba, Aurel menghampirinya sambil membawakan sarapan.
"Pagi Panji ...," sapa Aurel.
"Pagi ...," sahut Panji.
"Panji, aku bawain sarapan buat kamu," ucap Aurel sambil menyodorkan kotak berisi kue.
"Makasih, Rel. Aku udah sarapan kok," jawab Panji lalu berjalan meninggalkan tempat itu.
"Sialan, selalu aja aku gagal mencuri perhatiannya. Padahal Dira juga gak ada di sekolah, tetap aja gagal," gumam Aurel.
Aurel pun ikut pergi meninggalkan area parkiran. Panji mencari Arsan ke kelasnya untuk membahas bukti yang ia temukan. Tanpa sengaja, Panji melihat Davin bersama Aurel sedang berbincang dibelakang tembok kelas XII. Panji berniat ingin menguping pembicaraan mereka. Tapi, tiba-tiba saja Arsan datang mengagetkannya, hingga lupa akan niatnya itu.
"Hei, bro!!" ucap Arsan sambil memukul pundak Panji.
"Eh, ni anak ngagetin aja. Baru mau ke kelas kamu, Ar," jawab Panji dengan wajah kaget.
"Kayaknya nanggung deh bahas sekarang, gimana nanti aja pas istirahat?" tanya Arsan.
"Boleh juga. Yaudah, aku ke kelas duluan, ya ..." jawab Panji lalu berjalan menuju kelas.
Arsan pun menuju ke kelasnya, ia menghampiri Sela yang sedang sibuk bermain ponsel. Dilihatnya Sela asyik senyum-senyum sendiri sambil menatap kelayar ponselnya. Arsan diam-diam mengintip percakapan whatsapp Sela.
"Sela, aku senang mengenal kamu. Semoga ada kecocokan diantara kita, ya ...," ucap Arsan membaca isi percakapan whatsapp Sela. "Wah, ni anak udah dapat ikan ternyata."
"Ih, Arsan iseng banget jadi orang. Awas kamu ya," tutur Sela sambil menutup ponselnya.
Bel masuk berbunyi, semua murid duduk dibangkunya masing-masing. Bu Guru pun tiba di kelas. Saat pelajaran dimulai, Sela membuka ponsel, dengan iseng membaca artikel kecelakaan Dira yang di masukkan ke berita sekolah. Sela kaget, karena berita itu tidak benar dan dibuat palsu dari kejadian aslinya.
"Eh, gilak!!" teriak Sela.
Semua murid memandang kearahnya yang baru saja berteriak.
__ADS_1
"Siapa yang gilak?" tanya Bu Guru.
"Aaaa ... Arsan yang gilak, Buk," jawab Sela.
"Loh, kok aku, Sel?" tanya Arsan bingung. "Awas kamu ya, Sel ..."
Bel istirahat berbunyi, Arsan segera menghampiri Sela dengan sedikit kesal karena tadi mengatakannya gila. Sela menjelaskan sedikit tentang Dira sahabatnya yang baru mengalami kecelakaan. Sela menunjukkan artikel yang dimasukkan oleh pihak sekolah ke Arsan.
"Jadi alasannya tadi tu ini, Ar. Aku kaget serius, masa si Dira yang disalahkan ...," lirih Sela.
"Menurut kamu siapa pelakunya, Sel?" tanya Arsan. "Aku mencium bau-bau mencurigakan."
"Kalau gak Davin ya Aurel ...," bisik Sela.
Mereka berdua pun berjalan menuju kelas Panji. Baru saja keluar kelas, Panji sudah duduk di depan kelas menunggu Arsan dan Sela.
"Kak Panji ... ini lihat cepetan!!" teriak Sela dengan panik.
"Udah Sel, udah tau kok berita kecelakaan Dira yang dipalsukan ...," lirih Panji.
Mereka pun berjalan menuju kantin, baru saja menginjakkan kaki di gerbang mading, terlihat ramai para murid disana. Panji begitu penasaran, lalu menerobos untuk membaca berita mading hari ini. Ternyata berita kecelakaan Dira yang dipampang dipapan mading. Panji kesal dengan berita palsu itu.
"Bubar yuk!!"
"Bubar ... bubar ..."
"Apa sih Panji."
"Belain cewek itu terus."
Desas-desus murid yang tidak mempercayai omongan Panji yang meyakinkan semua murid yang membaca berita itu.
"Ah, gilak yang mampang berita palsu ini. Kita harus bertindak, gak bisa dibiarin!!" ucap Panji dengan rasa kesal.
"Bener, Kak. Seakan-akan Dira yang salah," sambung Sela.
"Jadi semalam aku nemuin potongan foto ini," tutur Arsan menunjukkan sebuah potongan foto berukuran 3×4.
"Kayaknya ini laki-laki, dari postur tubuhnya ...," lirih Panji.
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan ke kantin untuk mengisi perut sambil membahas tentang foto itu. Tanpa sengaja di gerbang kantin berpapasan dengan Davin, Panji spontan menghadangnya. Karena ia curiga berita itu Davin yang mengubahnya.
"Eh, pasti kamu kan yang ngubah berita aslinya?" tanya Panji dengan sedikit marah.
"Jangan asal nuduh, aku gak tau masalah berita apa yang kamu maksud!!" bentak Davin.
"Heh, berlagak bodoh segala!!" ucap Panji dengan emosi.
Panji mengepal tangannya dan ingin mendaratkan ke wajah Davin, tapi ditahan oleh Arsan. Sela meminta Davin untuk segera pergi agar situasi tidak semakin panas. Panji menghela nafas, emosinya tidak lagi bisa terkendali saat itu. Akhirnya, mereka pun menuju ke bangku favorit mereka lalu memesan makanan. Sembari menunggu pesanan datang, mereka kembali kepembahasan awal mengenai foto itu.
"Jadi gimana nih soal foto tadi?" tanya Arsan.
"Kita mesti selidiki nih, soalnya wajahnya kepotong sebelah jadi gak kelihatan," jawab Sela.
"Gimana nanti pulang sekolah kita ngumpul bahas ini?" tanya Panji. "Ngumpul di rumah aku aja kita."
"Boleh juga, Sela ikut aja sih ...," jawab Sela.
Bel pulang berbunyi. Panji, Arsan dan Sela bergegas menuju ke rumah Panji. Diperjalanan, secara tak sengaja Arsan melihat mobil jadul yang menabrak Dira sedang terparkir di depan rumah makan. Arsan penasaran, lalu menepikan sepeda motornya kepinggir jalan.
"Ada apa, Ar?" tanya Sela.
"Lihat nih, ini kan mobil yang nabrak Dira," jawab Arsan.
"Eh, kayaknya bener, Ar ...," lirih Sela
"Bukan kayaknya lagi, Sela. Tapi ini emang beneran," balas Arsan.
Panji pun ikut menepikan sepeda motornya. Ia lalu turun menghampiri Arsan dan Sela yang lagi mengobrol serius.
"Apa apa?" tanya Panji.
"Ini mobil yang nabrak Dira, Panji," jawab Arsan.
"Kita ikuti aja mobil ini nanti kalau pemiliknya udah keluar dari rumah makan. Kita sembunyi, ntar dia curiga sama kita," ucap Panji.
Setelah hampir setengah jam, pemilik mobil pun keluar dari rumah makan itu. Mobil itu pun segera dinyalakan oleh sipemilik. Mereka bertiga mengikuti mobil itu dari belakang. Sampailah ditujuan, ternyata mobil itu berhenti di depan rumah besar. Mereka bertiga terlihat heran dengan rumah itu. Tiba-tiba terlihat Papa Davin bersama dengan Papa Aurel yang baru saja datang memasuki rumah besar itu.
Aneh, kenapa ada Papa Aurel juga disana. Apa mereka komplotan? Batin Panji.
__ADS_1