
Jam pelajaran berakhir, semua murid berhamburan keluar kelas untuk pulang. Tapi tidak bagi Dira dan tim basketnya. Mereka harus latihan, karena bulan depan akan ada pertandingan olahraga antar sekolah. Arsan begitu setia menunggu kedua sahabatnya yang akan berlatih basket.
"Arsan, hari ini aku sama Sela bakal latihan basket, jadi pulangnya agak lama. Kamu duluan aja, Ar," ucap Dira.
"Ya, gak apa-apa. Aku mau nemenin kalian, kok. Siapa tau ketemu jodoh, kan. Hahahaha," jawab Arsan dengan tertawa.
"Halah, kamu ni, Ar. Jangan terlalu dilihatkan jomblo akutnya, nanti jadi obat nyamuk Dira sama Kak Panji baru tau," cetus Sela sambil memukul pelan pundak Arsan.
Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak, saling ejek mengejek. Tiba-tiba Panji datang menghampiri Dira sambil membawakan cemilan untuk Dira. Arsan sesekali menggoda Dira, membuat Panji merasa cemburu.
"Eh, Dir. Davin mana? Bukannya dia mau lihat kamu latihan basket, ya," ucap Arsan.
Panji yang mendengar ucapan Arsan, wajahnya berubah menjadi datar. Dia menggeser tubuhnya kearah Dira. Dari sudut matanya, Panji dapat melihat Dira sedang memberi kode ke Arsan untuk tidak menyebut Davin. Lalu, Panji menarik tangan Dira untuk berpindah dari tempat ia berdiri.
"Yang dibilang Arsan itu bener, Dir?" tanya Panji dengan rasa penasaran. "Kan udah dibilang, jangan deket-dekat anak baru itu."
__ADS_1
"Kak Panji yang bawel, Arsan cuma bercanda doang," jawab Dira. "Kak Panji cemburu, ya?"
"Eng... Enggak. Ya udah, ini aku bawain cemilan. Makan yang banyak biar kuat latihannya," ucap Panji sambil mengalihkan pembicaraan.
Setelah perdebatan antara Dira dan Panji berlangsung cukup lama, akhirnya mereka pun melanjutkan untuk segera ke lapangan basket. Tanpa disadari, ternyata ada Davin juga yang sedang duduk menyaksikan tim basket puteri yang sedang latihan. Panji sedikit risau, ia berusaha agar Dira tak melihatnya.
"Duh, ada anak baru lagi. Ngapain dia di situ, merusak suasana aja," gumam Panji.
"Kenapa, Kak? Ada masalah?" tanya Dira.
Ada-ada aja nih Kak Panji, tumben nyuruh aku fokus. Emang ada apa sih. Heran banget lihat tingkahnya.
Dira pun berjalan ke tengah lapangan untuk memulai latihan. Alena datang menghampiri Dira yang sedang menggiring bola basket untuk dilemparkan ke dalam ring.
"Indira!!" teriak Alena.
__ADS_1
Dira pun mengehentikan gerakannya, dan membalikkan badannya kearah Alena.
"Ada apa, Kak?" tanya Dira.
"Kamu tetap jadi kapten tim basket kita, ya. Gantian, Dir," jawab Alena dengan senyuman. "Kamu lebih hebat dan lebih pantas menjadi kapten."
"Tapi...."
Alena pun pergi untuk melanjutkan latihan basket. Dira bingung ditengah lapangan, mau tak mau dia tetap harus menjadi kapten untuk kedua kalinya. Dira mulai memperlihatkan gerakan lincahnya memasukkan bola basket ke dalam ring. Membuat Panji dan Davin terkagum hingga mereka berdua bersorak dengan begitu semangat. Sampai-sampai mereka berdebat karena hal sepele. Arsan melihat tingkah Panji dan Davin hanya bisa mengelus dada.
"Eh, kamu anak baru ikut-ikutan nyorak Dira segala. Awas berani macam-macam!!" bentak Panji dengan wajah kesalnya.
"Emang kamu siapanya Indira?" tanya Davin dengan tersenyum.
Panji terdiam membisu saat Davin menanyakan hal itu. Panji bertekad akan secepatnya menyatakan perasaannya ke Dira.
__ADS_1