
Suara kicauan burung membangunkan Dira dari tidurnya. Ia menyeret selimut dan bangkit dari kasur yang empuk itu. Lalu ia berjalan menuju kamar mandi untuk segera bersiap-siap ke sekolah. Hari ini Dira bangun lebih awal dari biasanya, ntah kenapa ia begitu canggung. Dira berinisiatif mencari tahu lewat google soal tips agar tidak gugup saat berhadapan dengan cowok yang disuka. Dira membaca seluruh artikel itu, dan akan diperagakan saat bertemu Panji.
"Semoga ini membantuku, hehehe," gumam Dira.
Terdengar suara klakson sepeda motor dari arah luar pagar. Dira segera mengambil tas lalu menyandangnya. Ia berjalan kearah pagar sambil mengatur nafas agar tidak canggung dihadapan Panji. Saat ia membuka pintu pagar, terlihat Panji memegang sebuah kotak berwarna merah hati. Dira terfokus pada kotak itu.
"Dira, makin hari kamu makin cantik...," ucap Panji sambil memberikan senyuman.
"Hehehe, biasa aja kok, Kak. Dira gak cantik," jawab Dira dengan sedikit malu.
"Oh ya, ini buat kamu, Dir," ujar Panji sambil menyodorkan kotak berwarna merah hati itu. "Semoga kamu suka isinya."
"Apa ini?" tanya Dira. "Kak, jangan sering beri Dira hadiah, ya. Dira merasa gak enak sama Kak Panji..."
"Nanti kamu buka aja isinya. Gak kok, aku beri kamu dengan ketulusan dan ikhlas. Walaupun kamu tidak menyukai aku, Dir...," lirih Panji.
Kata siapa Dira gak suka, Kak. Malah Dira suka banget dengan Kak Panji. Tapi, Dira harus curhat ke sahabat Dira dulu. Yang jelas, Kak Panji adalah cinta pertama Dira.
Dira hanya membalas senyuman. Ia lalu mengambil kotak itu dan meletakkannya di dalam tas. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju sekolah. Seketika rasa canggung Dira mulai muncul.
__ADS_1
"Dira, kamu pegangan!! Aku bakal ngebut nih," perintah Panji.
"Ba... Baik Kak...," jawab Dira sedikit gugup.
Dira mulai meletakkan kedua tangannya kepinggang Panji, dengan sedikit gemetar. Panji pun melajukan sepeda motornya, spontan Dira memeluk erat tubuh Panji.
Kak Panji sengaja nih, tapi gak apa-apa juga sih. Hehehe.
Setibanya di parkiran, Dira turun dari sepeda motor itu. Lalu berjalan beberapa langkah sembari menunggu Panji memarkirkan kendaraannya. Setelah selesai, Panji menghampiri Dira dan mereka berjalan bersama menuju kelas Dira.
"Kak, udah sampai sini aja Kak Panji antarin Dira. Nanti gak enak diomongin sama anak kelas Dira, Kak...," lirih Dira. "Makasih banyak ya kado tadi, Kak."
"Oke, Dira. Sama-sama, semoga kamu suka," balas Panji tersenyum. "Aku ke kelas dulu, ya."
Saat Dira meletakkan tasnya dibangku, Sela dan Arsan berlari menghampiri Dira dengan begitu semangat.
"Dira...!!!" teriak kedua sahabatnya.
"Eh, Sela... Arsan...," ucap Dira. "Ada apa teriak-teriak?"
__ADS_1
"Gimana semalam, Dir,Kamu udah jadian dengan Panji?" tanya Sela dengan rasa penasaran.
"Pasti udah dong," sambung Arsan. "Berkat kita berdua semalam bantuin ka..."
Belum selesai Arsan berbicara, Sela menginjak kakinya agar tak meneruskan ucapan itu. Sela pura-pura tertawa untuk mengalihkan pembicaraan.
"Hahaha, lucu ya kan, Ar. Semalam kita nonton orang pacaran, Dir. Lucu banget...," lirih Sela.
Dira bingung dengan tingkah mereka berdua yang sedikit mencurigakan.
"Eh, aku mau curhat nih ke kalian. Soalnya kalian berdua kan pakar cinta," tutur Dira.
"Boleh... boleh... curhat aja," jawab Arsan dengan menaikan kedua alis tebalnya.
"Ini soal Panji, guys... Jadi ini harus rahasia, jangan sampai bocor. Bisa perang nanti aku dengan Kak Aurel...," lirih Dira. "Nanti jam istirahat kita ke perpustakaan, oke."
Arsan dan Sela menganggukkan kepala. Lalu berjalan menuju bangku mereka, dengan berbisik-bisik.
"Jangan sampai ketahuan Dira kalau semalam kita juga di sana. Ah, kamu gak bisa jaga rahasia deh, Ar...," bisik Sela.
__ADS_1
"Ya... Maaf deh, aku gak sengaja, Sel. Terlalu semangat," balas Arsan.
Dira masih memandang curiga terhadap kedua sahabatnya itu.