
Di sekolah, Panji bersama dua sahabat Dira sedang asyik mengobrol di kantin. Tiba-tiba Davin menghampiri mereka.
"Panji, kamu pasti tau kan siapa yang sengaja menabrak Dira?" tanya Davin.
"Kamu juga pasti tau kan," jawab Panji. "Atau pura-pura gak tau?"
Davin seketika emosi mendengar ucapan Panji saat itu, padahal Davin memang tidak tahu siapa pelakunya. Arsan mecoba menenangkan mereka berdua agar tak semakin ribut. Akhirnya, Davin bisa mengontrol diri, dan ia duduk dibangku itu untuk membicarakan masalah kecelakaan yang menimpa Dira.
"Udah, kamu duduk sini Davin," ucap Arsan. "Kamu serius gak tau siapa pelakunya?"
"Ya seriuslah, kamu pikir aku santai. Tiap hari aku mencari informasi tapi gak pernah dapat pelakunya," jawab Davin. "Malah berita yang dipampang bohongan lagi, kasihan Dira ..."
Arsan pun menjelaskan semua yang terjadi, saat ia mengatak bahwa pelaku yang sebenarnya adalah Papanya sendiri. Davin begitu kaget dan tak percaya dengan tindakan Papanya yang membuat Dira koma.
"Hah? Papaku? Serius Papa yang menyuruh anak buahnya?" ucap Davin bertanya-tanya. "Apa sudah gila Papa melakukan hal begini, ini bukan lelucon!!"
Davin seketika emosinya memuncak, ia mengambil ponsel untuk segera menelepon Papanya. Tapi, Panji menahan agar tak menghubungi terlebih dahulu, karena Panji dan dua sahabat Dira sedang merencanakan sesuatu agar berita itu dirubah menjadi yang sebenarnya.
"Jangan dulu, Vin!!" ucap Panji dengan tegas. "Mending ikuti permainan yang udah kami rencanakan."
"Baiklah, aku ikuti kalian ...," lirih Davin.
Bel pulang berbunyi, semua murid berhamburan keluar dari kelasnya. Ada yang berjalan menuju halte sekolah untuk menunggu jemputan, ada juga yang menuju parkiran untuk mengambil kendaraan yang mereka bawa. Panji baru saja tiba di parkiran, ia menunggu kedatangan Davin, Arsan dan Sela untuk menemui Papa Davin di kantor.
Saat Davin ingin menuju ke parkiran, tiba-tiba saja Aurel berlari mengejar Davin, ia begitu penasaran karena melihatnya duduk bersama Panji dan dua sahabat Dira di kantin tadi.
"Davin!!" teriak Aurel. "Tunggu, Vin!!"
Davin membalikkan badan ke arah sumber suara.
"Eh, kamu. Ada apa, Rel?" tanya Davin.
"Mau kemana kamu, Vin? Oh, ya tumben tadi gabung sama geng Dira dan Panji, biasanya kamu gak suka tu sama mereka," ucap Aurel.
"Aku udah tau siapa pelaku yang menabrak Dira. Papa aku yang melakukannya, tega banget Papa," jawab Davin dengan kesal. "Aku mau nyamperin ke kantor Papa aku, Rel."
"Jadi kamu gak tau, Vin? Ya ampun ...," lirih Aurel. "Terus ngapain coba kamu ke kantor Papa kamu? Itu demi perusahaan dan demi kamu juga, Vin. Bentar lagi kamu dan Dira bakal tunangan."
"Meskipun itu Papa aku, aku gak bisa membela yang salah. Kamu bisa bacakan berita yang dipajang dimading? Terus diartikel? Itu berita palsu, aku gak mau Dira seolah-olah yang disalahkan," ungkap Davin. "Tunangan? Aku udah lupain semua!!"
Davin pun meninggalkan Aurel, ia melanjutkan langkah kaki menuju parkiran. Terlihat Panji, Arsan dan Sela sudah menunggu, Davin pun menghampiri mereka.
__ADS_1
"Yuk, berangkat!!" ajak Davin.
"Lama banget kamu, Vin. Dari tadi kita udah nunggu," ucap Panji.
"Ya, Kak Davin kemana aja?" tanya Sela.
"Ketemu Aurel di jalan, ternyata dia udah tau kejadain yang sebenarnya. Dia kerja sama dengan Papaku," ucap Davin.
"Gak heran, Aurel ngelakuin apa aja demi Panji, hahaha," balas Arsan dengan tertawa.
Mereka pun bergegas menuju kantor Papa Davin. Begitu sampai, Davin langsung menerobos masuk ke dalam ruangan kerja Papanya. Panji, Arsan dan Sela hanya bisa menunggu diluar, karena mereka tidak diperbolehkan maauk. Karyawan kantor hanya bisa diam tak berani mencegat putra semata wayang pewaris perusahaan minyak terbesar.
"Papa!!" teriak Davin.
"Eh, Davin. Tumben kamu ke kantor Papa, ada apa?" tanya Papa.
"Papa jahat banget, Pa!! Kenapa Papa tega lakuin itu demi uang!!" ucap Davin dengan mengeraskan suara.
"Apa maksud kamu? Kamu ngomong jangan sembarangan Davin," jawab Papa.
"Papa yang sengaja mencelakai Dira sampai-sampai dia koma!! Papa sadar itu hampir merengut nyawanya!!" ucap Davin dengan rasa kesal. "Papa gak punya hati, yang Papa pikir cuma uang!!"
"Kamu berani ngomong kasar sama Papa sekarang, ya!!" bentak Pap. "Itu akibat kamu bergaul sama anak brandal."
"Pa, Davin mau Papa klarifikasi semuanya," tutur Davin. "Rubah berita itu dengan kejadian yang asli, karena Dira itu korban tabrak lari, bukan dia yang ingin bunuh diri, berubahlah Pa, jangan ego!!"
Davin pun keluar dari ruangan kerja Papanya. Semua karyawan terfokus kearah Davin, karena baru kali ini melihat putra tunggal pewaris perusahaan ini memberontak dan membela kebenaran. Yang mereka tahu, Davin adalah anak yang selalu nurut dengan ucapan Papanya walaupun itu salah, tapi kali ini berbeda. Karyawan yang berada di sana mengapresisi keberanian Davin.
"Hebat kamu, Davin!!"
"Davin yang dulu telah berubah, semangat!!"
Davin berjalan menuju parkiran untuk menemui teman-temannya yang sudah dari tadi menunggu kabar baik.
"Guys ...," sapa Davin. "Udah beres."
"Gimana, Vin?" tanya Panji.
"Gimana reaksi Papa kamu?" sambung Arsan.
"Wah, Kak Davin keren, Sela gak nyangka ..."
__ADS_1
"Pokoknya, aku udah luapin semua amarah aku ke Papa. Walaupun dia nampar aku dan tetap maksa buat nurutin apa kemauannya, aku udah nolak semuanya," jelas Davin.
Setelah mendengar penjelasan Davin, mereka berniat ke rumah sakit untuk menjenguk Dira. Baru saja mereka hendak menghidupkan sepeda motor, Papa Davin dan Aurel datang menghampiri mereka.
"Oh, jadi ini teman-teman kamu, Davin?" tanya Papa. "Pantas kamu berani bentak Papa, ya."
"Panji ...," sapa Aurel. "Ngapain sih ke sini? Buat apa ikut campur, jangan halangi Davin dan Indira lagi, mereka akan tunangan."
"Stop, Rel!!" bentak Davin. "Aku udah bilang, gak akan ngelanjutin pertunangan itu, aku dan Dira gak ada apa-apa."
"Gila kamu, Vin? Bukannya kamu sendiri yang ngomong?" tanya Aurel.
"Lupakan semuanya!! Kebahagian Indira adalah bersama Panji. Ngerti kamu!!" ucap Davin membentak Aurel.
Akhirnya, mereka pun pergi dari tempat itu menuju rumah sakit. Begitu sampai Mama Dira memberitahu kabar gembira, bahwa puterinya sudah sadar. Alangkah bahagianya mereka berempat mendengar kabar itu.
"Dira sudah sadar, kalian boleh ketemu dia di dalam," ucap Mama Dira.
"Baik, Tante ...," jawab mereka serentak.
Mereka pun masuk ke dalam ruangan Dira untuk menemuinya. Terlihat Dira sedang tertidur pulas.
"Dira, semoga kamu cepat pulih," ucap Davin.
"Dira, aku kangen berantem sama kamu," tutur Sela.
"Dir, aku juga kangen nyubit pipi kamu, kangen ke kantin bareng," sambung Arsan.
Setelah satu persatu mengeluarkan kata-kata, mereka pun berjalan keluar. Saat Panji ingin melangkah, tiba-tiba tangannya ditahan oleh Dira. Panji begitu terkejut, dengan secepat kilat membalikkan badan ke arah Dira yang sedang terbaring lemah diatas kasur.
"Dira ... kamu udah bangun ...," lirih Panji.
Dira tersenyum ke arah Panji yang sedang berdiri dihadapannya.
"Dira, maafin aku lalai jagain kamu," ucap Panji dengan menggenggam erat tangan Dira.
"Kak Panji ... Dira rindu Kakak ...," lirih Dira. "Kak Panji gak salah ..."
"Kamu yang kuat ya, pasti cepat sembuh. Teman-teman kamu pada rindu sama kamu," tutur Panji.
Panji meneteskan air mata, ia begitu sedih dengan keadaan Dira yang begitu lemah. Panji pun memberi kecupan dikening Dira agar ia kuat.
__ADS_1