
Panji membawa Dira kesuatu tempat yang aneh baginya. Ia heran melihat di depannya ada meja dan dua bangku saja. Panji menyuruhnya duduk dibangku itu. Terlihat di atas meja ada kue tart dan dua cangkir berisi minuman berwarna coklat. Dira heran melihat minuman aneh ini.
"Boleh tau ini minuman apa?" tanya Dira sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.
"Coklat hangat dengan balutan cream keju, cobain deh, Dir," jawab Panji sambil mendorong cangkir berisi minuman itu. "Aku yakin pasti kamu bakalan suka."
"Gak mau," ucap Dira dengan menggelengkan kepalanya.
"Loh, kenapa?" tanya Panji heran. "Ayo, cobain dulu."
"Aku takut gendut, Kak Panji," jawab Dira dengan senyum tipis.
Panji pun tertawa melihat tingkah Dira. Lalu, pelayan restoran pun datang membawakan sebuah amplop dan buket bunga, ntah apa isi amplop itu. Dira begitu penasaran. Panji mengambil buket itu dan memberikan kepada Dira. Sementara amplopnya ia letakkan dihadapan Dira. Dira semakin heran dengan sikap Panji.
"Ini buat kamu, Indira," ujar Panji sambil memberi buket bunga ke Dira. "Apa kamu suka bunga ini?".
__ADS_1
"Enggak Kak Panji, Dira gak suka bunga," tutur Dira memasang wajah cemberut.
"Terus kamu sukanya apa?" tanya Panji heran.
"Dira suka baca novel dan main basket," jawab Dira dengan polosnya. "Oh ya, awal bulan Dira ikut pertandingan basket. Kak Panji harus lihat Dira main, ya".
"Tentu, itu tidak perlu kamu omongin pasti aku temanin kamu, Dira," balas Panji dengan senyuman.
Dira yang masih polos membuat Panji geram ingin mencubitnya. Dira memang belum pernah pacaran, bahkan ini baru pertama kali makan malam dengan seorang cowok. Bagaimana tidak Dira gugup dan malu. Lalu, Dira mengambil kue tart yang sudah tersaji di atas meja itu.
"Kak Panji, kenapa makanannya kue tart?" tanya Dira dengan wajah polosnya. "Kenapa tidak nasi goreng, ayam penyet.."
"Dira mau pesan nasi goreng aja deh, Kak Panji," potong Dira. "Satu lagi es cream."
Melihat sikap Dira yang konyol membuat Panji semakin jatuh hati. Setelah menunggu kira-kira sepuluh menitan, pesanan pun datang. Dira segera melahapnya. Panji pun mengatur nafas, ia mulai menyiapkan kata-kata untuk mengungkapkan perasaannya ke Dira.
__ADS_1
"Indira, kamu serius belum pernah pacaran?" tanya Panji menatap kearahnya.
"Belum Kak Panji, Dira gak tau apa itu pacaran," jawab Dira. "Kak Panji pasti pernah pacaran, kan?".
"Pernah, Dira," jawab Panji tersenyum. "Jatuh cinta pernah?".
"Jelasin dulu definisi jatuh cinta, Kak," tutur Dira membalas senyum.
"Singkatnya gini, kamu pernah merasa deg-degan saat kamu dekat sama seseorang. Ya gak kayak biasanya gitu, Dir. Kamu merasa didekatnya nyaman. Terus kamu suka sama orang itu. Seperti itulah definisi jatuh cinta itu. Sulit dijelaskan, Dira," ungkap Panji sambil menarik tangan Dira.
Jadi itu namanya jatuh cinta, ya. Jadi selama ini aku sering merasa deg-degan didekat Kak Panji, apa mungkin aku jatuh cinta sama Kak Panji? Ya gak mungkinlah. Ada-ada aja kamu Indira.
"Dira pernah ngerasain hal seperti yang Kak Panji jelaskan, tapi ke Mama, Dira sering deg-degan kalau terlambat pulang, Kak," ucap Dira sambil tertawa kecil. "Takut diomelin."
"Dira, kamu gemesin, ya. Cewek seperti kamu inilah idaman para cowok. Kamu cantik, baik, pintar, dan lucu lagi," ungkap Panji serius sambil menyodorkan amplop tadi. "Kamu mau gak jadi... pa... pac..."
__ADS_1
"Kak Panji, ini udah jam 9 malam. Dira bisa kena omel sama Mama nanti," potong Dira sambil berdiri. "Ayo pulang, Kak!"
Panji terdiam, ia hampir saja mengucapkan kalimat yang sudah lama ingin ia ungkapkan. Malam ini harus gagal lagi. Panji pun berdiri dan mengantarkan Dira pulang.