Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 30


__ADS_3

Kring.. kring..


Alarm membangunkan Dira dari mimpi indahnya. Suara ayam berkokok dan kicauan burung menambah keributan agar Dira segera beranjak dari kasurnya. Mata Dira terbelalak melihat kearah jam di atas meja, jam menujukan pukul 04.45 WIB. Dira segera bangkit lalu mengerjakan salat subuh. Selepas itu, Dira menarik selimutnya, lalu kembali untuk tidur. Tiba-tiba Dira tersontak kaget mendengar ponselnya berbunyi keras di bawah bantal.


"Siapa sih yang menelepon pagi-pagi gini," lirih Dira mengambil ponsel di bawah bantal.


Dira melihat ponselnya dengan mata yang masih terpicing. Ponsel pun terjatuh menimpa wajahnya, membuat Dira langsung membuka mata.


"Aduh..... sakit!!" teriak Dira.


Ha? Kak Panji nelepon lima kali, Arsan nelepon delapan kali. Mereka pada kenapa, sih. Pagi-pagi bikin aku kesel.


Dira pun akhirnya beranjak dari kasur dan berjalan ke kamar mandi untuk segera bersiap-siap ke sekolah. Karena hari ini ada acara pentas seni, Dira dipilih sebagai panitia dan harus hadir lebih cepat. Dira menuju dapur untuk sarapan. Lalu berpamitan dengan Mama dan Papa. Saat Dira ingin naik ke dalam mobil, tiba-tiba terdengar bunyi klakson sepeda motor dan suara ribut-ribut dari luar pagar. Dira bergegas keluar untuk melihat. Ternyata Arsan dan Panji yang membunyikan klakson itu. Mereka tengah berdebat, ntah apa yang mereka ributkan, Dira pun menghampiri mereka yang asyik berdebat.


"Kak Panji, Arsan!!" teriak Dira sambil berjalan kearah mereka. "Ngapain pagi-pagi ribut di sini, kayak gak ada tempat lain."


"Eh, Dir. Yuk pergi bareng!!" ajak Panji dengan menarik tangan Dira.

__ADS_1


"Jangan, Dir!! Mendingan sama Arsan aja, yuk!!" sahut Arsan melepaskan tangan Dira dari Panji.


Mereka pun lanjut berdebat, Dira yang ditengah-tengah mereka kebingungan, akhirnya memilih untuk pergi diantar Pak Udin sopir pribadi Papanya. Setelah lima menit Dira pergi, Panji dan Arsan baru sadar mereka ditinggal oleh Dira.


"Eh, Dira mana?" tanya Panji sambil menoleh kekanan dan kiri mencari Dira. "Gara-gara kamu ni, Arsan." Memukul pelan punggung Arsan dengan buku tulis yang ia pegang.


"Enak aja, gara-gara kamulah Panji. Senior gak mau mengalah," jawab Arsan dengan menarik buku yang Panji pegang untuk membalas pukulan.


Akhirnya mereka berdua bergegas pergi ke sekolah mengejar Dira. Saat Dira sampai di depan pagar sekolah, Arsan dan Panji memberhentikan sepeda motornya lalu mengajak Dira untuk naik. Dira bengong melihat kelakuan mereka berdua, sambil menggelengkan kepala dan meneruskan langkah kaki untuk masuk menuju kelas.


Dira pun sampai di kelas langsung mencari Sela, lalu mengajak Sela untuk segera ke meja panitia. Panji dan Arsan masih saja berdebat merebutkan Dira yang tidak mempedulikan mereka. Raka pun menghampiri mereka.


"Kalian pada kenapa?" tanya Raka dengan heran. "Baru sampai udah ribut kayak induk ayam kehilangan anak."


"Indira!!" teriak Panji dan Arsan serentak.


"Aku Raka, bukan Indira!!" bentak Raka sambil berjalan ketengah-tengah Panji dan Arsan lalu menepuk jidat mereka berdua. "Nih, biar gak ribut aja kalian." Raka berlari ke lapangan untuk mengatur kursi tamu.

__ADS_1


Panji segera menuju panggung, ia sebagai host diacara pentas seni sekolah. Sedangkah Arsan menuju meja panitia tempat Dira dan Sela. Tak heran, Arsan selalu membuntuti Dira. Acara pun berlangsung. Banyak tamu-tamu dari sekolah lain yang datang, termasuk Nadin.


"Eh, itu Nadin mantan Panji, kan?" tanya Arsan ke Dira.


"Gak tau, bodo amat, Ar," jawab Dira mengalihkan pandangannya. "Eh, kalian kenapa sih pagi-pagi udah datang ke rumah? Bisa samaan pula, kalian janjian?". Dira tertawa kecil.


"Ih, gak kok, Dir. Panji aja tu yang ikut-ikut. Nguping rencanaku kali dia tuh," balas Arsan.


"Alasan kamu lagi, Ar. Bilang aja mau dekat-dekat Indira. Modus segala!!" sahut Sela dengan nada sedikit keras.


Dira pun tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Arsan yang tertunduk malu. Ditengah asyik bercanda, Dira tak sengaja melihat Panji sedang berduaan dengan Nadin. Dira yang tadinya heboh, tiba-tiba diam tak bersuara. Sela dan Arsan bingung. Lalu, ikut melihat ke arah panggung.


"Yaelah, Dira diam karena cemburu,Ar," ucap Sela ke Arsan. "Ngeliat Kak Panji sama Nadin berduaan."


"Enggak, ih apaan. Cemburu? Suka aja enggak ngaco kamu, Sel," sahut Dira sambil menggelengkan kepala.


Ya, aku cemburu, Sel. Ntah kenapa aku bisa cemburu ke Nadin yang begitu akrab dengan Kak Panji. Padahal aku bukan siapa-siapa, apa mungkin aku ada rasa suka sama Kak Panji? Ya gak pantas aja kayaknya. Seorang ketua OSIS, terkenal di sekolah punya cewek cupu seperti Indira ini, gak mungkin!!

__ADS_1


__ADS_2