
Dira, Sela dan Arsan berjalan menuju perpustakaan. Arsan secara tak sengaja melihat Aurel tengah berbincang bersama Davin. Ntah apa yang mereka bahas. Arsan pun curiga terhadap mereka, lalu mengambil foto Aurel dan Davin sebagai bukti.
Sepertinya Aurel dan Davin merencanakan sesuatu. Baiknya, aku beritahu Sela soal ini.
Setibanya di perpustakaan, mereka mencari buku diperlukan untuk mengerjakan tugas sekolah. Sela ingin mengikuti arah Dira, tiba-tiba Arsan menarik Sela untuk ikut bersamanya.
"Sel, ikut aku. Ada hal penting...," lirih Arsan.
Sela pun menganggukkan kepala. Mereka mencari tempat paling sudut agar tak terdengar oleh Dira.
"Kenapa sih, Ar?" tanya Sela penasaran.
"Kamu tadi ada lihat Aurel sama Davin, gak? Mereka lagi bahas hal serius, terus si Aurel kayak beri amplop gitu ke Davin," ucap Arsan sambil menunjukkan foto digaleri ponselnya.
"Eh, serius? Jangan-jangan mereka komplotan. Aurel ngejar si Panji, Davin ngejar Dira. Ya, bener nih. Aduh, bahaya ini, Ar. Gimana dong...," lirih Sela.
Arsan dan Sela pun berdiskusi mencari cara agar Dira tidak kemakan jebakan dari Aurel dan Davin. Tak sengaja Dira berjalan menyusuri tempat mereka berdua.
"Rencana kita jangan sampai gagal," ucap Sela. "Ini demi kebaikan...."
__ADS_1
"Arsan... Sela...,"sapa Dira memotong pembicaraan mereka. "Rencana apa yang kalian maksud?"
"Ini.. ini... aaa.. apa... itu, Dir...," jawab Sela terbata-taba.
"Rencana tugas sekolah, Dira. Kami mau cari tema dari di buku ini," balas Arsan sambil menunjukkan buku yang ia pegang.
"Oh.. Kirain apa...," lirih Dira. "Aku tunggu dimeja depan, ya. Bye..."
Dira pun pergi menuju meja depan. Sela dan Arsan tampak lega. Karena hampir saja ketahuan oleh Dira.
"Hampir...," ucap Arsan dan Sela serentak.
"Dira...," sapa Panji. "Ntar pulang bareng, ya."
"Baik, Kak Panji," jawab Dira.
"Dir, kita ke kelas duluan, ya," ucap Sela.
Dira pun mengangguk. Panji merasa lega ketika dua sahabatnya itu pergi meninggalkan Dira berduaan dengannya. Kesempatan bagi Panji untuk pendekatan lebih jauh ke Dira.
__ADS_1
"Dir, kamu risih ya kalau aku deketin kamu?" tanya Panji.
"Enggak, kenapa Kak Panji nanyain hal itu? Dira seneng kok, ngerasa dijagain aja gitu," jawab Dira sambil tersenyum.
"Udah dibilang jangan senyum, kamu terlalu manis kalau senyum gitu...," lirih Panji sambil mencubit pipi Dira.
Aurel yang sedang berjalan menuju kelas, tak sengaja melihat Dira dan Panji lagi-lagi berduaan di depan matanya. Tiba-tiba Davin melihat Aurel yang tampak kesal, lalu menghampirinya dan ikut menyaksikan kemesraan Dira dan Panji.
"Oh... jadi kamu lagi perhatikan mereka...," lirih Davin.
"Eh, kamu rupanya Davin. Coba kamu lihat, mereka akrab banget. Gimana aku gak cemburu, aku udah lama deket Panji tapi gak pernah akrab begitu," ucap Aurel dengan wajah kesal.
"Sabar, mungkin aja kamu bukan tipenya dia," jawab Davin secara spontan.
"Apa? Bukan tipe dia? Hei, lebih cantikan aku juga dari Indira itu," balas Aurel. "Kamu gak ngerasa kesel gitu lihat Dira?"
"Kesel, kita akan mulai permainannya hari ini juga....," lirih Davin sambil senyum tipis.
Davin dan Aurel pun berjalan meninggalkan tempat itu menuju kelas mereka.
__ADS_1