Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 71


__ADS_3

Begitu sampai di lapangan, terlihat Arsan sudah duduk menunggu kedatangan Dira dan Sela. Mereka pun menghampiri Arsan.


"Arsan, kamu nanti dukung kita ya. Harus paling depan," ucap Sela.


"Pasti dong, apa perlu aka pakai atribut cheerleader? Sambil nyanyi gitu?" tanya Arsan dengan candaan.


"Lebay," ucap Dira dan Sela serentak sambil memukul pelan pundak Arsan.


Saat itu, Panji berjalan menghampiri Dira. Belum sempat ia melontarkan sepenggal kalimat, Dira meninggalkan Panji menuju kearah lapangan.


Fokus Dira, fokus!!


Pertandingan pun dimulai, Panji berpindah ke barisan paling depan untuk mendukung Dira. Disusul oleh Davin yang ikut berpindah ke paling depan juga. Panji menolehkan pandangan ke Davin, ia melihat terus sampai Davin mengeluarkan suara.


"Kenapa? Marah?" tanya Davin sambil menoleh kearah Panji.


Panji kembali melihat ke arah depan untuk menyaksikan pertandingan itu. Davin menyorak menyemangati Dira yang tengah bertanding.


"Dira!! Semangat!! Kamu bisa!!" teriak Davin.


Panji menoleh lagi kearah Davin dengan tatapan sinis sekaligus mengerutkan dahinya. Ia merasa kesal melihat tingkah Davin yang sibuk mencari perhatian ke Dira. Panji tak mau kalah, ia ikut menyemangati Dira.


"Dira!! Semangat Dira!! Aku padamu!!" teriak Panji.


Davin melirik ke arah Panji, sudut mulutnya terangkat.


"Terlalu berlebihan, aku padamu ... aku padamu ...," celoteh Davin.


"Kenapa? Ada masalah?" tanya Panji.


Davin kembali meluruskan pandangannya ke depan. Pertandingan telah usai, tim basket puteri SMA Favorit pun masuk ke babak final. Saat Dira berjalan keluar lapangan, terlihat ada dua pria tampan sedang berdiri dihadapannya sambil melambaikan tangan. Dira sejenak menghentikan langkahnya.


Kenapa harus mereka berdua yang di sana, sama-sama bikin bete.


Dira melangkah menuju Panji, ia memberikan senyuman ke Dira. Begitu hampir sampai, Dira berbelok kearah Davin. Raut wajahnya berubah menjadi masam, Panji menoleh kearah Davin dengan rasa cemburu.


"Dira, kamu keren banget tadi pas masukin bolanya ke ring," ujar Davin. "Apalagi kalau kamu senyum ke aku, bisa-bisa pinsan ditempat, Dir."

__ADS_1


Dira sedikit melirik ke arah Panji, lalu segera menarik tangan Davin untuk meninggalkan tempat itu. Panji menghela nafas melihat Dira yang belum bisa memaafkankannya. Ia pun pergi mencari Sela dan Arsan untuk meminta bantuan. Terlihat dari kejauhan, kedua sahabat Dira sedang mengobrol di depan mading. Panji pun mengagetkan mereka.


"Arsan ... Sela ...," sapa Panji. "Aku boleh gabung?"


"Dih, Kak Panji ngagetin aja," ucap Sela.


"Ayo sini gabung!!" ajak Arsan. "Gimana si Dira? Masih marah?"


"Ya begitu, belum aja jelasin udah marah-marah," jawab Panji.


"Namanya juga cewek, gak mau salah dong. Ngeselin ya, dasar cewek!!" tutur Arsan.


Sela memandangi wajah Arsan dengan tatapan sinis, lalu memukul pundaknya.


"Apa maksud kamu bilangin cewek itu ngeselin, hah? Yang ada cowok tu yang ngeselin, gak bisa ngerti perasaan cewek!!" balas Sela.


Sela dan Arsan berdebat, Panji segera meleraikan mereka berdua. Setelah perdebatan selesai, Panji mengajak mereka berdua ke kantin untuk makan sekaligus mengobrol masalah Dira. Begitu sampai di kantin, terlihat Davin dan Dira sedang makan berdua dibangku tempat biasanya mereka duduk. Arsan dan Sela bertatap muka sambil menaikan kedua alisnya.


"Ngapain si Dira bawak cowok itu ke bangku yang sering kita pakai buat nongkrong," bisik Sela.


"Kita duduk di tempat lain aja, lihatin aja Dira berapa lama betah duduk sama si Davin," sambung Panji.


Panji, Arsan dan Sela pun duduk bersebelahan dengan meja yang menjadi tempat tongkrongan biasa mereka itu. Arsan dan Sela saling bercandaan sambil menyindir Dira.


"Eh, Sel. Gak enak ya tempat nongkrong kita udah diambil alih gitu aja," ucap Arsan dengan mengeraskan suara.


"Bener tuh, pakai bawa-bawa orang baru segala," sambung Sela.


Dira yang mendengar ucapan kedua sahabatnya langsung terdiam. Ia merasa tidak enak terhadap sahabatnya. Dira ingin berdiri dari bangku itu, tapi hatinya masih terluka melihat pemandangan yang tak enak dilihat olehnya tadi.


Aku pengen gabung sama kalian, tapi ada Kak Panji di sana ... Jujur, aku gak betah duduk dihadapan Kak Davin.


Setelah Dira selesai makan, ia pun segera berdiri dan ingin meninggalkan tempat itu. Davin menarik tangan Dira, meminta agar menunggu dirinya yang belum menghabiskan makanan di dalam mangkuknya.


"Tunggu dulu, Dira!!" ujar Davin. "Kenapa harus buru-buru, biar aku habiskan makanan ini baru kita pergi."


"Hmm ... Baiklah ...," lirihnya.

__ADS_1


Dira kembali duduk, Panji tak habis-habisnya melirik Dira. Ia mencoba mencari cara agar bisa menjelaskan kesalahpahaman itu. Dira yang sedang menunduk tampak pria yang masih menjadi pacarnya itu duduk di bangku sebelah beberapa kali melihat ke arahnya. Ia berusaha menahan agar tak menoleh, tapi matanya seperti ada magnet yang menarik untuk mengarahkan pandangan ke Panji. Tak sengaja mereka saling bertatapan, Dira langsung kembali menunduk dan sesekali ia memejamkan kedua matanya.


Kenapa pakai lihat Kak Panji segala sih, pokoknya aku tu masih marah!! Masih kesal!! Dan juga cem ... bu ... ru ...!!"


Davin pun telah menghabiskan makannya, mereka segera beranjak dari bangku itu untuk segera menonton pertandingan yang lainnya. Saat Dira berjalan melewati Panji, ia berdiri lalu menarik tangan Dira. Seketika Dira berhenti, sejenak memejamkan mata.


"Dira, apa kamu gak mau dengarin penjelasan aku lagi?" tanya Panji. "Itu cuma salah paham."


Davin berjalan mendekati Panji lalu melepaskan tangan Dira dari gengaman Panji.


"Dira sayang, ayo pergi. Ntar malam kita jalan, ya," ucap Davin.


Dira menghela nafas, ia membalikkan badan ke arah Panji beberapa detik lalu melanjutkan langkah kakinya berjalan menuju lapangan futsal bersama Davin.


"Apa maksud si Davin barusan, pecundang itu mengambil kesempatan!!" ucap Panji dengan emosi.


"Sabar dulu, Kak. Itu taktik licik dia aja," ujar Sela.


"Si Dira bisa-bisanya nurut sama tu cowok, apa dia udah gak nganggap kita ini sahabatnya lagi ...," lirih Arsan.


Mereka bertiga pun bergegas meninggalkan kantin untuk membuntuti Dira dan Davin. Panji saat itu tampak begitu kesal, melihat wanita yang sudah menjadi pacarnya berduaan dengan pria licik itu. Saat mereka duduk di bangku yang berhadapan dengan lapangan futsal, terlihat Nadin sedang berjalan lewat dihadapan mereka. Panji spontan langsung menghadang Nadin.


"Eh, kamu Panji. Ada apa nih?" tanyanya heran.


"Semua gara-gara kamu Nadin, kamu harus menjelaskan yang sebenarnya ke Indira!!" bentak Panji.


"Kamu kok jadi emosian gini sih semenjak putus," ucap Nadin.


Sela dan Arsan termenung saling bertatap muka.


"Jadi kamu mantan si Panji?" tanya Arsan.


"Bener, kita pacaran udah 2 tahun. Tapi mendadak berhenti ditengah jalan, nah dia pernah bilang gak bisa melupain aku. Sekarang malah jadi ..."


"Stop!! Itu dulu, semenjak aku kenal Indira semuanya berubah total. Dan ngapain kamu hadir disaat aku menemukan orang yang jauh lebih baik," potong Panji.


Panji terus memaksa Nadin untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Tapi ...

__ADS_1


__ADS_2