Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 76


__ADS_3

Bel pulang berbunyi, Dira berjalan menuju halte sekolah. Sembari menunggu jemputan, ia berjalan menuju tempat pedagang minuman yang berada di depan halte itu. Baru beberapa langkah, tiba-tiba ada mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Dira tak melihatnya, hingga mobil yang melaju itu menabrak dan tubuhnya terpental. Seketika semua orang yang berada disana berkerumunan menggotong Dira ke mobil salah satu guru lalu membawanya ke rumah sakit. Panji yang berada di parkiran mendengar keributan dari arah luar pagar sekolah, dengan rasa penasaran ia menghampiri salah satu murid yang satu kelas dengan Dira.


"Maaf, ada apa ribut-ribut di halte?" tanya Panji.


"Itu, Indira kecelakaan. Dia ditabrak mobil, terus mobilnya kabur gitu aja," jawabnya sedikit panik.


Panji kaget mendengar berita itu, ia langsung menuju halte untuk menanyai informasi yang lebih lengkap. Dari kejauhan terlihat Sela dan Arsan berdiri di depan halte. Panji sedikit melajukan sepeda motornya kearah mereka.


"Sel, Ar, udah tau berita Dira?" tanya Panji.


"Udah," jawab mereka serentak.


"Yuk, Kak, susul ke rumah sakit. Kita nungguin Kak Panji dari tadi," sambung Sela.


Mereka pun bergegas menuju rumah sakit. Setibanya di sana, mereka berlari masuk untuk menanyai ruangan Dira ke salah satu petugas. Tak lama kemudian, keluarga Dira datang dengan penuh kepanikan.


"Kalian teman sekolah Indira?" tanya Papa dengan suara pelan.


"Bener, Om ...," jawab mereka serentak.


"Kenapa Dira bisa kecelakaan? Saya shock mendengar kabar dari pihak sekolah," ucap Papa dengan nada sedih. "Tak kuat rasanya melihat putriku harus terbaring disana."


"Semoga Dira tidak kenapa-kenapa," sambung Mama.


Setelah hampir tiga puluh menit menunggu, Dokter keluar dari ruangan itu. Ia memberitahu bahwa Dira mengalami luka cukup parah dibagian kepala akibat terbentur. Sehingga mengakibatkan pendaraan disekitar kepala dan kondisinya sedang koma. Mendengar kabar itu, Mama dan Papa Dira tak kuat menahan tangis. Panji berusaha menguatkan.


"Om ... Tante ... Dira pasti cepat pulih, percayalah ...," lirih Panji.


"Terima kasih Panji," sahut Mama Dira.


Panji dan dua sahabat Dira berjalan menuju parkiran rumah sakit. Saat itu Panji merasa ada yang janggal dengan ketidak hadiran Davin.


"Eh, ngomong-ngomong Davin kok gak ada, ya," ucap Panji.

__ADS_1


"Nah, itu yang dari tadi Sela pikirkan, Kak ...," jawab Sela. "Biasanya, dia heboh duluan."


"Atau ini ada sangkut pautnya dengan Davin," sambung Arsan. "Soalnya, aku udah nanyain sama orang-orang yang berada di lokasi kejadian mobil yang nabrak itu mobil jadul, terus gak ada plat BM. Warna mobilnya juga udah kusam. Jadi susah memcari infonya."


Mobil jadul? Oke, aku catat itu. Batin Panji.


Setelah membahas masalah mobil yang menabrak Dira, Panji bergegas ke ruangan Dira untuk melihat kondisinya.


"Dira, aku akan berusaha sekuat tenaga mencari siapa dalang dari ini semua. Aku sayang kamu ...," lirih Panji lalu mencium kening Dira.


Panji pun keluar dari ruangan itu, lalu kembali menuju parkiran untuk mengambil sepeda motornya. Terlihat Davin baru saja tiba yang masih memakai seragam sekolah. Panji melirik ke arahnya dengan rasa penuh kecurigaan.


"Wah, datang juga si pecundang ternyata. Biasanya nomor satu nih kalau soal Dira, tumben belakangan nongol," cetus Panji.


"Apa urusan kamu? Ya jelas aku telat karna ada hal yang harus aku kerjakan tadi," jawab Davin dengan rasa kesal.


Panji menghidupkan sepeda motornya lalu meninggalkan tempat itu. Diperjalanan pulang, Panji tak sengaja melihat Aurel bersama seorang pria. Saat itu Aurel tengah memberikan amplop kepada pria itu. Disitu membuat Panji semakin curiga dengan kecelakaan yang menimpa Dira.


"Apa Aurel pelakunya?" gumam Panji bertanya-tanya.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Panji.


"Aku mau nanyain kondisi pacar kamu si Dira," jawab Nadin. "Gimana dia?"


"Dira koma, aku nyesal udah biarin dia sendirian ke halte ...," lirih Panji sambil menutup wajah dengan kedua tangan.


"Serius? Jadi yang nabrak udah tanggung jawab?" tanya Nadin. "Nanti malam antarin aku buat jenguk Dira ya, Panji."


"Pelakunya kabur, identitasnya belum diketahui. Menurut pemikiran aku ini ada hubungannya dengan kerjasama perusahaan orang tua Davin dengan Dira yang batal," ucap Panji.


Setelah lama mengobrol dengan Nadin, Panji pun masuk ke dalam rumah. Jam menujukkan pukul 19.00 WIB, Panji bersiap-siap untuk ke rumah sakit bersama Nadin.


Davin yang masih berada di rumah sakit begitu cemas dengan keadaan Dira. Ia masuk ke ruangan untuk melihat keadaan wanita yang ia sukai itu. Davin juga meletakkan sepucuk surat dibawah bantal Dira.

__ADS_1


"Dira, mulai hari ini aku berusaha untuk tidak menyukaimu. Walaupun berat aku tetap berusaha ...," lirih Davin. "Lihat kamu terbaring lemah gini aku jadi sedih, siapa yang tega melakukan ini, kenapa dia kabur gitu aja, Dira ..."


Setelah Davin meletakkan surat itu, ia keluar dari ruangan itu. Tiba-tiba, Panji dan Nadin datang. Mereka saling bertatap sinis satu sama lain.


"Buat apa kamu jenguk Indira? Bukannya kamu yang mencelakainya?" tanya Panji.


"Apa maksud tuduhanmu? Jangan asal ngomong!!" jawab Davin dengan suara keras. "Gak mungkin sejahat itu aku mencelakai wanita yang aku sayang selama ini walaupun dia lebih memilih kamu Panji."


Apa betul bukan Davin yang melakukan ini, lantas siapa? Batin Panji.


Panji pun masuk ke ruangan itu bersama Nadin. Saat Panji ingin pergi, ia melihat ada sepucuk surat dibawah bantal. Panji penasaran lalu membaca isi surat itu.


Jadi kalau bukan Davin, terus siapa pelakunya? Kenapa setega itu jahat ke Dira ...


"Panji, ada apa?" tanya Nadin.


"Tidak apa-apa, ayo aku antar pulang," jawab Panji lalu berusaha melupakan yang sedang dipikirkannya.


Panji pun mengantarkan Nadin. diperjalanan pulang, Nadin sedikit penasaran dengan surat yang Panji baca tadi.


"Panji, tadi itu surat apa yang kamu baca?" tanya Nadin.


"Surat dari Davin, dugaan aku salah. Bukan Davin pelakunya ...," jawab Panji..


Setiba di rumah Nadin, Panji meminta bantuan untuk mencaritahu si pelaku yang sudah menabrak Dira ke Nadin. Panji menyebutkan ciri-ciri mobil yang dikendarai waktu itu.


"Pokoknya kamu cari infonya ya, Din ...," lirih Panji. "Aku beneran buntu, sekarang cuma Aurel yang sedang aku curigai."


"Siap, aku bakal bantu kamu kok," jawab Nadin.


Panji pun bergegas pulang sambil memikirkan cara agar bisa membuka siapa pelaku tersebut. Begitu sampai di rumah, Panji langsung menuju ke kamarnya. Lalu membuka laptop untuk mencaritahu informasi lewat data semua murid SMA Favorit, Panji mengecek satu per satu.


"Muridnya sebanyak itu, mana mungkin kuat aku membaca biodata mereka satu per satu," gumamnya.

__ADS_1


Panji mengirmkan file ke Sela, Arsan dan juga Nadin untuk membantunya.


__ADS_2