
Bel pulang berbunyi, Dira segera membereskan buku pelajaran yang masih berserakan di atas mejanya. Sela menuju pintu keluar, ia melihat Panji sudah menunggu dibangku yang berada di depan kelas. Sela pun berjalan ke arah Panji.
"Kak Panji...!!" sapa Sela. "Udah lama, Kak?"
"Eh, Sela. Belum lama banget, kok," jawab Panji. "Kenapa tuh, Sel?"
"Mendingan, Kak Panji samperin Dira ke dalam kelas. Dia lagi beresin buku tuh," ucap Sela.
"Emang boleh? Ntar Dira ngambek...," lirih Panji.
Sela pun memaksa Panji untuk menemui Dira di dalam kelasnya. Panji melangkahkan kaki menuju bangku Dira. Begitu sampai, Dira kaget melihat panji berada di depannya. Murid yang ada di dalam kelas mengerumuni mereka berdua. Bagaimana tidak, semua wanita jatuh hati pada ketampanan Panji yang merupakan seorang ketua OSIS sekaligus tim futsal terpopuler di sekolah itu. Teriakan para wanita itu membuat Dira cemburu.
Bete banget deh, lihat tuh cewek-cewek centil pada godain Kak Panji.
"Kak Panji...."
"Wah, ada Kak Panji."
"Kak Panji ngapain ke dalam? Lihat tuh cewek-cewek kelas Dira pada dekatin Kakak semua...," lirih Dira dengan wajah cemberut.
"Kamu udah siap? Dari tadi aku udah nunggu di luar, kamunya lama banget. Ya nyusulin kamu aja ke dalam," ucap Panji.
__ADS_1
Dira pun menyandang tas ranselnya. Segera ia menuju keluar bersama Panji. Di luar kelas, Dira menoleh ke kanan dan kiri mencari dua sahabatnya yang dari tadi tidak kelihatan batang hidungnya.
"Kamu nyari Sela sama Arsan, ya?" tanya Panji.
"Ya Kak, ada lihat mereka gak? Pergi gak ngasih kabar tuh mereka...," lirih Dira.
"Mereka nungguin di parkiran, Dir. Yuk ke sana nyusul mereka," jawab Panji.
Setiba di parkiran, terlihat Sela dan Arsan sedang serius berbincang. Dira penasaran langsung berlari menghampiri dua sahabatnya itu.
"Hei, kalian pada ngomongin apa sih?" tanya Dira dengan penasaran.
Yang Arsan bilang ada benernya juga, aku gampang cemburan. Kalau ada cewek lain yang deketin dia pasti kesel. Tapi, apa boleh buat, aku bukan pacar Kak Panji.
"Apa sih kamu, Ar. Kalau ngomong suka ngaco...," lirih Dira.
Panji pun menghidupkan sepeda motornya. Lalu, berjalan mendekati Dira dan menyuruhnya untuk naik. Arsan dan Sela pun membuntuti sahabatnya itu. Saat Dira dan Panji keluar dari gerbang sekolah. Davin menghentikan kendaraan yang dikendarai Panji. Ia meminta Panji untuk segera ke halte. Panji dan Dira begitu panik. Arsan dan Sela pun merasa curiga, lalu ikut menuju halte.
"Ada apa sih?" tanya Panji ke Davin.
"Udah ikut aja ke halte," jawab Davin.
__ADS_1
Begitu sampai di halte.
"Itu Aurel pinsan, dari tadi manggil nama kamu, Panji," ucap Davin.
"Panji... Panji...," lirih Aurel.
"Kamu kenapa, Rel? Sakit? Kalau sakit mending gak usah sekolah dulu, deh," ujar Panji. "Nomor Mama kamu mana? Biar aku telepon aja."
"Gak... aku maunya pulang diantarin kamu...," lirih Aurel.
Arsan dan Sela yang melihat kelakuan Aurel menggelengkan kepalanya. Begitu liciknya Aurel demi mendapatkan Panji.
"Ya udah, Kak Panji antarin Kak Aurel aja, ya. Dira gak apa-apa kok, Kak," ucap Dira.
"Gak bisa gitu dong, Dir," tutur Panji dengan sedikit kesal. "Aku kan...."
"Udah, Dira biar aku yang antar pulang," potong Davin. "Kamu tenang aja Panji, Dira aman sama aku."
Sial, kenapa jadi begini. Aku udah merencanain akan nembak Dira. Aarrgghh!! batin Panji.
Akhirnya, Dira pulang bersama Davin. Arsan dan Sela pun menyusul Dira dari belakang.
__ADS_1