Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 69


__ADS_3

**SEBELUM BACA KELANJUTANNYA, MOHON DI LIKE, KOMENT DAN VOTE JUGA.


FOLLOW IG AUTHOR @oktaapia


FACEBOOK Okta Piani


SELAMAT MEMBACA**


Tepat pukul 19.00 WIB, Dira dan dua sahabatnya tengah mengobrol di teras rumah Dira. Mereka membahas cara menghentikan taruhan yang akan dilakukan Panji dan Davin malam ini. Setelah kurang lebih sepuluh menit, mereka berangkat bersama sopir Dira. Begitu sampai, terlihat begitu ramai orang yang sudah menunggu melihat aksi balapan mereka berdua.


"Serius ini tempatnya, Sel?" ucap Dira berbisik.


"Serius, nih kamu lihat yang dikirimin Kak Panji," jawab Sela menunjukkan ponselnya.


Mereka bertiga terus berjalan mencari Panji dan Davin. Tapi, sayangnya tak terlihat batang hidung mereka berdua. Alhasil, Dira dan dua sahabatnya itu duduk disalah satu bangku yang berada di tempat itu.


"Gimana nih, kok gak ada sih mereka," ucap Dira dengan gelisah.


"Sabar, Dira ...," lirih Arsan. "Kali aja masih pemanasan."


Dira dan Sela menepuk pelan pundak Arsan secara bersamaan saat itu.


"Apa sih kalian ni, salah lagi ... salah lagi..." ucap Arsan.


Tiba-tiba terdengar suara sepeda motor yang sedang di gas berulang kali. Mereka bertiga kaget dan langsung berdiri dari bangku itu. Dengan perasaan was-was, Dira segera berlari mencari ke sumber suara. Sela dan Arsan ikut berlari mengejar Dira, karena tempat itu lumayan gelap dan takut terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Dira, tunggu!!" teriak Arsan.


"Dir, sabar dong jangan langsung lari. Aduh, capek tau, Dira ...," lirih Sela.


"Kalau terlambat bisa gawat, sia-sia yang ada ntar," ucap Dira.


Begitu sampai ke sumber suara, terlihat disana begitu ramai orang yang berdiri ingin menyaksikan balapan itu.


"Ternyata, anak sekolahan kita juga banyak yang nonton. Dira, mending kamu cepet datangi mereka berdua," ujar Arsan.


Saat belum terlepas hitungan ke-1, Dira berlari ketengah-tengah lapangan menghentikan niat mereka berdua.

__ADS_1


"Stop!!" teriak Dira.


Semua mata tertuju padanya, Panji dan Davin kaget melihat keberadaan Dira dihadapan mereka saat itu.


"Dira, kok kamu di sini?" tanya Panji.


"Tentu, Dira harus datang untuk menyudahi taruhan kalian," jawabnya.


"Apa-apaan kamu, Dira. Minggir!!" ucap Davin dengan suara lantang.


"Dengar ya, untuk kalian berdua. Aku ini bukan barang yang bisa kalian buat taruhan. Kalau kayak gini, mending aku aja yang jauhin kalian berdua!!" tutur Dira lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Sela dan Arsan melihat aksi Dira dari kejauhan. Lalu, mereka mengejar Dira yang begitu emosi saat itu. Sementara, Panji dan Davin yang masih berada di sana saling bertatap muka.


"Jadi gimana? Masih mau lanjut?" tanya Panji. "Aku nyerah bukan berarti lemah, hanya karna aku gak mau Dira marah soal taruhan ini."


"Ya udah, kita batalin taruhan ini. Selanjutnya, cari cara lain untuk mengganti taruhan yang batal ini," jawab Davin.


Panji segera menyusul Dira. Terlihat dari kejauhan, ia sedang berjalan bersama dua sahabatnya menuju luar lapangan luas itu. Panji pun melajukan sepeda motornya untuk menghampiri Dira. Begitu sampai, Panji menahan wanita mungil itu agar tak lagi marah terhadap dirinya.


"Dira, aku minta maaf. Aku gak akan kayak gini lagi ...," lirih Panji.


"Ya, aku minta maaf, Dira. Aku aja yang terlalu termakan omongan Davin," ujar Panji.


Mereka pun mencari tempat duduk untuk mengobrol. Arsan dan Sela sedang berbisik untuk meninggalkan sahabatnya agar bisa bicara empat mata tanpa ada gangguan.


"Heh, kalian ngapain bisik-bisik?" tanya Dira mengagetkan sahabatnya.


"Dira, kita duluan ya. Ada keperluan mendadak. Bye ...," jawab Sela.


Setelah dua sahabat Dira pergi, Panji tersenyum. Sebuah kesempatan untuk bisa mengobrol serius dengannya. Tak jauh dari posisi mereka yang sedang berdiri, terlihat ada bangku. Mereka segera menuju tempat itu untuk melanjutkan obrolan. Begitu sampai, Dira langsung duduk sambil memainkan ponselnya. Panji duduk disebelah Dira sambil menatap kearahnya.


Duh, di sini sepi. Malah cuma berdua. Ngapain coba duduk di sini.


"Dira, kamu masih marah?" tanya Panji sambil memegang tangan Dira.


Kok mulai gugup lagi ini, aduh Dira ... kenapa saat situasi kayak gini detak jantungmu makin kencang. Atur nafas, rileks, okey jangan gugup.

__ADS_1


"Enggak, Dira gak marah. Cuma kesel aja," jawab Dira.


"Kesel kenapa lagi? Aku kan udah janji gak akan ulangi lagi," ucap Panji. "Kamu orangnya pemberani ya, aku tambah suka sama kamu."


Sempat-sempatnya gombalin orang. Kesempatan ya.


"Dira, gimana hubungan kita?" tanya Panji. "Kita pacaran? Gimana kalau satu sekolah tau kita pacaran?"


"Ya gitulah," jawab Dira singkat.


"Kamu kenapa, Dir? Marah banget kayaknya. Biasanya cerewet, malam ini cuek banget," tutur Panji.


Bukan cuek, Kak. Tapi, Dira lagi mencari cara biar gak canggung gini.


"Dira ...," sapa Panji. "Hei, kamu denger gak?"


"Denger, Dira gak marah kok," jawabnya.


Dira menunduk karena merasa canggung. Saat itu Panji menolehkan wajah Dira ke arahnya. Lalu memegang dagu dan menaikannya agar ia menatap mata Panji. Dira merasa terhipnotis setelah menatap kedua bola mata yang indah itu. Panji mendekatkan wajahnya ke wajah Dira. Semakin lama semakin dekat, membuat jantung Dira semakin berdetak kencang. Ia memejamkan mata dan mengatur nafas agar rasa gugup itu segera pergi. Satu kecupan mendarat di pipi kanannya. Dira membuka kedua mata dan pipinya berubah merah muda. Kemudian Panji mendekat kearah telinganya mengeluarkan kalimat yang semakin membuat Dira tak bisa melupakan kejadian malam ini.


"Aku sayang kamu, sampai kapanpun kamu untukku, aku untuk kamu, Dira," bisik Panji.


Dira diam mematung, malam ini tak seperti biasanya. Bahkan menurutnya, malam ini menjadi yang teristimewa. Jam menunjukkan pukuk 21.00 WIB, Panji pun mengantarkan Dira pulang ke rumahnya. Sesampainya di depan pintu pagar, Panji menarik tangan Dira.


"Dira, aku sayang kamu," ucap Panji.


Dira menoleh kearah Panji, ia memberanikan diri untuk mengeluarkan kalimat yang sama saat itu.


"Dira juga sayang kamu, Kak ...," balas Dira.


Akhirnya, Panji pun pulang. Dira segera masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya. Begitu sampai di kamar, ia merebahkan tubuh di atas kasur. Dibenaknya masih terbayang-bayang kejadian malam itu. Dira memandang langit-langit kamarnya, sambil senyum-senyum tersipu malu lalu memegangi pipi kanan bekas kecupan Panji.


"Serasa mimpi tadi itu, malu tapi bahagia juga. Aaaaa Dira, apa yang terjadi terhadapmu!!" gumam Dira.


Dira membuka ponsel untuk melihat foto pria yang membuatnya berdebar-debar itu.


"Gara-gara kamu nih, Kak. Jantungku hampir copot ...," lirih Dira.

__ADS_1


Jam menunjukkan pukul 22.00 WIB, Dira menarik selimutnya kemudian memejamkan mata untuk tidur.


__ADS_2