
Kring.. kring..
Ponsel Dira berbunyi, Dira yang tengah tidur terbangun. Ia melihat dengan mata sebelah yang masih tertutup.
"Pan... Hah, Kak Panji nelepon..."
Dira langsung terduduk, ia pun mengangkat telepon itu dengan sedikit canggung. Panji akan menjemputnya sebentar lagi, Dira pun segera bersiap-siap dengan secepat kilat. Hari ini, Dira tak seperti biasanya, ia begitu bersemangat menerima tawaran Panji yang akan mengantarkannya ke sekolah.
Eh, kok aku jadi bahagia gini ya. Padahal biasanya aku selalu nolak. Jangan-jangan ....., ah sudahlah yang penting hari ini berduaan sama Kak Panji.
Dira berdiri di depan cermin sambil tersenyum bahagia. Dira memakai parfum tidak seperti biasanya, ia semprot ke semua sisi. Mulai dari atas sampai bawah hingga aromanya tercium sampai ke ruang tengah. Mama heran, dan mencari asal bau yang begitu harum itu. Dira pun membuka pintu kamar, dan terkejut melihat Mama di depan pintu.
"Mama!!" teriak Dira. "Mama ngapain di sini?"
"Mama sedang mencari bau wangi ini, Dira," Mama mencium kebaju seragam yang Dira pakai. "Ya ampun, kamu mandi parfum? Mama lagi asyik nonton di ruangan tengah sampai kecium ni bau."
"Maaf, Ma. Ini untuk pemikat cowok ganteng di sekolah. Hahaha," jawab Dira sambil tertawa. "Dira pergi dulu, ya, Ma. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Dira berjalan menuju teras rumah, ia membaca novel kesukaannya sembari menunggu Panji datang. Sekitar lima menit Dira duduk di bangku depan rumahnya, terdengar suara klakson sepeda motor dari luar pagar. Dira pun berjalan ke arah pagar dan membuka pintu. Dira menghentikan langkahnya, ia menatap kearah Panji dengan takjub, bola matanya yang berwarna cokelat, tatapannya yang begitu tajam membuat jantung Dira berdebar-debar. Panji tersenyum dengan menampakkan lesung pipinya, menambah Dira semakin gugup untuk mendekat. Dira termenung mengkhayal jauh bersama Panji.
__ADS_1
Duh, pangeranku udah datang. Mama kamu ngidam apa sih Kak Panji, bisa cakep gitu.
Panji melihat Dira yang melamun langsung mengagetkannya.
"Dira..." bisik Panji ditelinga Dira. "Jangan melamun aja, buruan naik. Ntar kita telat lagi."
"Eh, maaf, Kak Panji. Dira kepikiran ulangan semalam."
Akhirnya, Dira dan Panji pun berangkat ke sekolah. Diperjalanan, Dira ingin sekali menanyakan sesuatu yang membuat Dira penasaran dari awal mengenali Panji. Tapi, mulut Dira tak bisa untuk mengungkapkannya, seperti tertahan oleh tiupan angin yang begitu kencang. Dira berusaha untuk bisa mengeluarkan kalimat itu.
"Kak... Kak Panji!!" teriak Dira.
"Ada apa, Dir?" tanya Panji sedikit panik. "Kamu kenapa?"
Dira pun tertawa melihat kepanikan Panji. Begitu sampai di parkiran, Dira turun dari motor yang lumayan tinggi itu dengan bantuan genggaman tangan Panji, tanpa sengaja Aurel melihat Dira dan Panji berduaan. Aurel cemburu dengan kedekatan mereka yang semakin hari semakin akrab. Saat Panji berjalan menuju kelasnya, Dira masih berdiri diperempatan menuju kelas.
"Dira!!" Teriak Aurel dari kejauhan sambil berjalan mendekati Dira.
"Duh, Kak Aurel. Cabut, ah..." lirih Dira.
Dira pun melajukan langkahnya, ia menghindari agar tak terjadi keributan. Sesampainya di kelas, Arsan langsung menghampir Dira sambil menarik tangannya. Dira terlihat bingung dengan sikap Arsan.
__ADS_1
"Dir.. Dira..."
"Aku ingin jujur sama kamu, tolong jangan marah dan benci aku.."
"Kamu kenapa, Arsan?" tanya Dira dengan wajah bingung. "Kamu sakit? Yuk, aku antarkan ke UKS." Dira memegang pipi Arsan dengan wajah paniknya.
"Aku gak sakit, Dir. Aku tu ... aku sebenarnya.. sebenarnya...."
Sela yang melihat Arsan bersikeras ingin mengungkapkan perasaannya ke Dira langsung membatalkan niat Arsan. Sela menarik tangan Dira dan membawanya keluar kelas.
"Kamu tunggu di sini bentar, ya. Ada sesuatu yang akan aku ceritakan ke kamu." Sela lalu masuk ke dalam kelas menghampiri Arsan.
"Kenapa kamu bawa Dira, Sel?" tanya Arsan. "Aku pengen jujur ke dia Sela, aku gak tahan harus gini terus. Tolong, Sel, izinkan aku ungkapin sekarang...."
"Arsan, dengerin aku!!" bentak Sela. "Kamu sabar dulu, ntar pulang sekolah kita bicarakan ini. Oke, aku keluar dulu nemui Dira."
Sela pun menghampiri Dira yang duduk diluar kelas, Dira begitu heran melihat sikap Arsan dan juga Sela. Akhirnya, Sela mulai membocorkan rahasia yang selama ini ia dan Arsan jaga sejak SMP. Sela menceritakan dari awal, Dira menyimak dengan serius.
"Jadi, sebenarnya Arsan itu udah lama suka dengan kamu Indira," tutur Sela.
"Maksud kamu? Aku gak ngerti, Sel. Kita kan sahabatan dari SMP. Terus, suka gimana?"
__ADS_1
"Dira, Arsan sayang sama kamu lebih dari sekedar sahabat. Dia pengen kamu jadi pacarnya, ngertikan Dira sayang?" Kamu jangan marah, lebih baik aku buka sekarang biar semua jelas."
Akhirnya, Sela menjelaskan semua tentang perasaan Arsan selama ini ke Dira. Sela meminta maaf karena ia merahasiakan hal ini. Dira langsung terdiam saat semua terungkap, ia bingung dengan perasaannya. Dia sayang ke Arsan tapi hanya sekedar sahabat, lain halnya ke Panji. Dira memutuskan untuk bertemu Arsan sepulang sekolah nanti.