Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 63


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 19.00 WIB, Dira segera bersiap-siap untuk bertemu dengan Panji. Selang beberapa menit, terdengar suara ketukan pintu. Dira segera berjalan untuk membuka pintu. Ternyata Sela dan Arsan yang datang.


"Eh, kalian rupanya. Kak Panji kok belum nongol ya ...," ucap Dira sambil melihat jam diponselnya. "Kalian nunggu di dalam aja."


"Kali aja lagi dijalan, Dir. Udah siap-siap sono," balas Sela. "Kita duduk diluar aja, Dir. Enakan anginnya nih..."


Dira pun kembali masuk menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Malam ini Dira mencoba memakai softlens khusus untuk mata minus yang dibelikan oleh Mama. Awalnya Dira takut, karena sebelumnya ia tidak pernah memakai benda kecil itu. Dengan perlahan ia memasukkan softlens ke bola matanya. Begitu ia membuka mata, semua terlihat jelas.


"Rasanya seperti terlahir kembali, semuanya jelas terlihat tanpa kacamata. Terbaiklah Mama pokoknya," gumam Dira sambil senyum-senyum didepan kaca.


Dira berjalan keluar dari kamarnya, terlihat Mama sedang berjalan menuju dapur, Dira segera menyusul ke dapur juga.


"Mama ...!!!" teriak Dira.


"Ada apa, Dira?" tanya Mama. "Cantiknya anak Mama ni, mau ke mana kamu?"


"Makasih ya, Ma. Softlens yang Mama kasih tadi udah Dira pakai, enak banget tanpa kacamata, Ma," jawab Dira. "Mau jalan dong, hehehe ..."


"Pasti janjian dengan Panji, ya? Mama dukung kamu dengan Panji, Dira ...," bisik Mama.


Dira pun memeluk Mama dengan erat. Setelah selesai mengobrol, Dira bergegas menuju teras rumahnya. Ternyata Panji sudah tiba, mereka pun segera melanjutkan perjalanan menuju kafe yang letaknya tak jauh dari rumah Dira. Akhirnya mereka sampai di tujuan, saat Dira turun dari sepeda motor yang lumayan tinggi itu, hampir saja ia terjatuh karena sendal yang Dira pakai sedikit licin. Panji pun dengan cepat memegang tangannya. Mereka saling bertatapan, sampai-sampai Panji tak mengedipkan mata melihat Dira yang begitu cantik tanpa memakai kacamatanya malam ini.


Hehehe, udah kayak sinetron aja ini pakek acara kepeleset segala.


"Dira, kamu gak apa-apa, kan?" tanya Panji khawatir.


"Enggak kok, Dira gak apa-apa," jawabnya. "Kak Panji ngelihat Dira segitunya kali, emang ada yang aneh, ya dari Dira?"


"Ada, kamu cantik banget malam ini, Dir. Emang cocok kamu jadi pacar aku ...," lirih Panji.

__ADS_1


"Apaan sih kamu, Kak. Bukannya kita beneran pacaran? Atau Kak Panji isengin Dira ya semalam?" tanya Dira sambil memukul pelan pundak Panji.


Sela dan Arsan melihat tingkah konyol sahabatnya sambil menggelengkan kepala. Mereka merasa bahagia melihat Dira akhirnya bisa bersama dengan pria yang ia sukai. Mereka pun masuk ke dalam kafe itu, tanpa sadar ternyata ada mata-mata Davin di sana.


"Eh, kalian mau makan apa? Aku saranin kalian cobain ini deh, paling enak laris di kafe ini," ucap Dira sambil menunjukkan menu favoritnya.


"Boleh juga tu, Dir. Aku mau ini juga deh," ujar Sela. "Kamu apa, Ar?"


"Sama kayak kalian aja, aku gak milih-milih, semua aku makan penting perut kenyang, hahaha," jawab Arsan sambil tertawa.


"Dasar Arsan, kalau makanan mana pernah nolak tu," balas Dira.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, tiba-tiba Panji terfokus pada satu pria yang duduk di meja yang berhadapan dengan mereka. Karena gerak-geriknya sangat mencurigakan, Panji tetap memantau dari bangkunya. Saat Pria itu berjalan menuju dapur, Panji langsung berdiri dari bangku yang ia duduki, Dira dan dua sahabatnya heran dengan sikap Panji.


"Kak Panji, ada apa? Ada masalah, ya?" tanya Dira.


Panji pun berjalan meninggalkan Dira dan dua sahabatnya. Ia mengendap-endap berjalan ke arah dapur. Dilihatnya pria itu meminta pelayan kafe untuk meletakkan sepucuk surat disamping makanan itu. Panji mengeluarkan ponselnya lalu merekam aksi pria itu, saat rekaman baru sekitar sepuluh detik, pria itu berbalik badan ke arahnya. Panji langsung mematikan rekaman itu lalu berlari menuju meja tadi.


"Kenapa sih, Kak? Kok lari-lari?" tanya Dira.


"Ada mata-mata, maksudnya ada yang sedang ngintai kita," jawab Panji sambil mengatur nafas.


"Duduk dulu, Kak ...," sambung Sela.


"Emang siapa, bro? Aku tadi gak ngelihat ada yang ngintai kita," ucap Arsan.


"Itu orang sepertinya suruhan si Davin, dia tadi ke dapur terus kasih surat gitu ke pelayannya, nanti kita bakal tau isi suratnya apa," jawab Panji.


Dalam waktu lima menit, pesanan mereka datang. Dan benar, ada sepucuk surat didalam amplop berwarna putih. Mereka penasaran dengan isi surat itu, akhirnya Panji membuka surat itu dan membacanya.

__ADS_1


"Apa-apaan ni si Davin!!! Biar aku bacain ya isinya," ucap Panji dengan kesal. "Jangan main-main denganku, jika kalian tak ingin diganggu. Indira calon tunanganku, secepatnya aku bakalan minta Papanya untuk melaksanakan acara pertunangan itu."


"Hah? Dira gak mau tunangan dengan Davin, Kak ...," lirih Dira sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Sabar, Dira. Kita cari solusinya ...," ucap Sela.


Panji tampak kesal saat membaca surat itu, amarahnya memuncak. Rasanya kepalan tangannya ingin ia daratkan kewajah Davin. Arsan mendengar ucapan Panji saat membaca isi surat itupun berfikir mencari cara agar Davin tak lagi terus memaksa Dira.


"Kita harus merencanakan sesuatu, kasihan Dira dipaksa terus. Baiknya kamu tenangin diri kamu, Dir. Jangan terlalu dipikirkan, kamu juga harus berontak ke Papa kamu, harus yakin kamu bisa ...," lirih Arsan.


Dira menganggukkan kepalanya. Jam menunjukkan pukul 21.00 WIB, mereka pun bergegas untuk pulang. Sebelum Arsan dan Sela pergi, mereka menyemangati Dira yang terlihat lesu dengan surat yang dibaca oleh Panji tadi.


"Senyum dong, Dir. Kamu harus kuat dan yakin bisa bersama Kak Panji," ucap Sela.


"Ya, nih aku senyum ... Aku sayang kalian ...," lirih Dira sambil memeluk kedua sahabatnya.


Panji pun mengantarkan Dira pulang ke rumahnya. Begitu sampai di depan pagar rumah, Dira menggenggam erat tangan Panji.


"Kak Panji ... Dira gak mau pertunangan ini terjadi ...," lirih Dira dengan mata berkaca-kaca.


"Tentu itu tidak akan terjadi, Dira sayang. Gak akan ada yang bisa memisahkan kita berdua," ucap Panji lalu memeluk tubuh Dira dan mencium keningnya.


Aku tak ingin jauh dari cinta pertamaku, aku tak ingin perjodohan ini berlanjut. Aku sayang dia ...


"Percayalah, Dira ... aku selalu bersamamu, aku sayang kamu ...," bisik Panji ditelinganya.


"Dira juga sayang Kak Panji, karena Kakak cinta pertama Dira, Kak Panji orang pertama yang membuat Dira bisa merasakan jatuh cinta," ucap Dira sambil tersenyum.


Setelah mereka saling mengungkapkan rasa sayang, Dira pun masuk ke dalam rumah. Lalu menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaian dan segera melanjutkkan tidur.

__ADS_1


__ADS_2