
Dira baru saja tiba di sekolah, ternyata Davin sudah menunggu di depan kelas. Dira menghentikan langkahnya sejenak, ia membalikkan badannya, Dira tersentak kaget saat Panji berada dibelakangnya. Secara tak sengaja lengan Dira menyentuh tubuh Panji. Panji begitu heran melihat ekspresi Dira seperti menghindari sesuatu.
"Eh, Kak Panji. Maaf Kak, Dira gak sengaja...," lirih Dira.
"Gak apa-apa, Dira. Kamu kenapa kok gak ke kelas?" tanya Panji.
"Ini... ini... ini mau ke kelas kok, Kak. Dira kelupaan, ya Dira kelupaan sesuatu. Tadi mau balik ke Pak Udin, tapi... udah pergi, hehehe," tutur Dira agak gugup.
Panji melirik ke arah kelas Dira, dari kejauhan terlihat seorang lelaki tengah duduk di depan kelas Dira. Panji tak begitu tampak wajah lelaki itu, karena ramai para murid yang berlalu lalang. Panji curiga, ia membuntuti Dira hingga ke depan kelas. Ternyata, lelaki itu adalah Davin. Panji mendadak naik pitam ketika Davin menarik tangan Dira.
"Sialan!! Ngapain si bedebah itu dekatin Indiria," gumam Panji.
Panji yang penuh dengan kekesalan menghampiri mereka.
"Gak usah pegangan tangan juga dong!!" bentak Panji. "Kamu masih aja gangguin Dira ya, Vin."
"Kita ada urusan penting, dan... kamu juga bukan siapa-siapa Dira, kan?" tanya Davin sambil menaikan alisnya.
__ADS_1
"Sepenting itukah sampai harus pegangan tangan? Anak baru udah main nyosor aja!!" ucap Panji dengan nada marah.
"Kak Panji, Dira sama Kak Davin gak ada maksud apa-apa kok, Kak. Kak Panji salah paham," ucap Dira.
"Aku gak suka kamu dekat-dekat Indira, cewek lain banyak kan, jadi tolong jauhi dia," bisik Panji ditelinga Davin.
Semua murid yang berada dekat diposisi mereka bertiga langsung datang dengan rasa penasaran. Semua pada heboh melihat Panji berdebat dengan Davin, anak baru yang dikagumi banyak adik kelas.
"Kak Panji, ya ampun mereka pada rebutan Indira."
Panji pun meninggalkan mereka berdua dengan rasa kekesalan. Begitu Panji pergi, Dira sedikit memarahi Davin.
"Kak Davin, mulai sekarang jauhi Dira, ya. Tolong...," lirih Dira dengan memohon. "Udah cukup Kak Davin permalukan Dira!!"
"Tapi, Dira... Aku gak bermaksud..."
Dira berjalan memasuki kelas dengan wajah kesal. Sela dan Arsan baru saja datang langsung menghampiri Dira.
__ADS_1
"Dira, ada apa?" tanya Sela. "Anak-anak pada nyebut nama kamu di luar."
"Kita telat datang, Dir. Maaf..," sambung Arsan.
"Kak Davin sama Kak Panji barusan ribut depan kelas. Kesel banget hari ini," ucap Dira lalu duduk dibangkunya.
Panji dan Davin sekelas, begitu Davin melangkahkan kakinya menuju pintu kelas, Panji menghadang dengan tangannya. Davin menghentikan langkah kakinya saat itu, ia mencoba menerobos masuk, tetap saja Panji tidak memberikan jalan.
"Udah berapa kali aku ngasih tau kamu, jangan gangguin Indira!! Masih aja kamu deketin dia...," lirih Panji.
"Situ bukan siapa-siapa Dira, kenapa mesti melarangku!!" jawab Davin.
"Mau nyari ribut jangan di sini, ntar kita selesaikan di luar. Jangan jadi pecundang!!" bentak Panji lalu berjalan ke luar meninggalkan Davin.
Jam pelajaran dimulai, Dira mulai tak berkonsentrasi dalam belajar. Ia memikirkan Panji yang kesal dan marah kepadanya.
Duh, Kak Panji bikin Dira kepikiran terus. Pokoknya nanti harus nyamperin ke kelasnya, minta maaf soal tadi. Gara-gara si Davin semuanya jadi kacau.
__ADS_1