
Alarm berbunyi, Dira segera bangun dari tidurnya dan bergegas untuk bersiap-siap ke sekolah. Begitu siap ia langsung mengambil roti yang sudah Mama siapkan diatas meja dapur, lalu berlari ke teras rumah mencari Pak Udin. Dira tampak buru-buru, tak seperti biasanya.
"Dira, kamu kenapa tergesa-gesa gini?" tanya Mama heran.
"Anu ... itu ... Dira ... Dira ada tugas, Ma. Ya tugas sekolah, Ma. Jadi mesti berangkat pagi-pagi. Dira pergi dulu, Ma," ucap Dira sambil berlari menuju mobil.
"Aneh, gak seperti biasanya tu si Dira ...," lirih Mama.
Di mobil Dira mengambil ponsel dari dalam saku rok seragamnya, lalu ia segera memberitahu Panji untuk datang lebih awal. Begitu sampai di sekolah, Dira turun, ia menoleh ke kanan dan kiri memastikan bahwa Davin belum datang. Dira pun berjalan melewati gerbang sekolah, tiba-tiba saja ada yang mengagetkannya dari belakang. Dira pun menolehkan pandangannya ke belakang, ternyata itu adalah Davin. Wajah Dira tampak masam, ia pun tak mempedulikan Davin, dan terus melanjutkan langkahnya menuju kelas. Davin berlari mengejar Dira, lalu menarik tangannya.
"Dira!!!" teriak Davin. "Apa salahku, Dir? Apa aku gak boleh dekatin kamu? Bukannya kamu dengan Panji tidak ada hubungan apa-apa, beri aku kesempatan, Dir..."
Kesempatan apanya, aku ini suka dengan Kak Panji. Aku yakin kami bisa lebih dari sekedar teman. Walaupun banyak yang menghalangi kami untuk lebih dekat.
Dira tak mengeluarkan sepatah katapun. dikejauhan, Panji melihat Dira dan Davin tengah berduaan. Amarah Panji tambah bergejolak. Saat Dira sudah pergi, Panji pun menghampiri Davin yang sedang menelepon seseorang. Begitu Panji dihadapannya, Davin langsung mematikan telepon itu, Panji merasa curiga dengan tingkah Davin.
__ADS_1
"Hei, pecundang!!" sapa Panji.
"Nanti aku telepon lagi, oke ...," lirih Davin melalui ponselnya. "Ada apa? Tolong gak usah ikut campur urusan orang."
"Aku gak ikut campur urusan kamu, aku minta kamu bersainglah secara sportif untuk dekatin Indira...," jawab Panji.
"Apa aku kurang sportif? Kamu takut kalah saing, ya? Hahaha, udah nyerah aja deh kamu Panji. Dira bakal jadi pacar aku kok, seorang Davin gak mungkin bisa dikalahkan," ucap Davin dengan gaya angkuhnya. "Yang pecundang itu aku apa kamu?"
Panji geram sambil mengepalkan tangannya, ia kesal mendengar ucapan Davin. Lalu Panji pun pergi menyusul Dira ke kelas. Sesampainya di depan kelas, Panji melihat wajah Dira begitu sedih, ia tampak seperti tertekan dengan perjodohan itu. Panji pun masuk untuk menemui Dira.
"Dira, maaf kalau aku masuk ke kelas kamu. Kamu jangan sedih ya, ada aku kok selalu disamping kamu," tutur Panji. Oh ya, aku ke kelas duluan, ya."
Tak lama kemudian, Sela dan Arsan pun datang. Panji pun berpapasan dengan mereka berdua.
"Sel, Ar, aku duluan, ya...," ucap Panji.
__ADS_1
"Dir, ada masalah, ya? Atau kalian lagi berantem?" tanya Arsan.
"Enggak kok, aku sama Kak Panji baik-baik aja," jawab Dira. "Eh, aku mau cerita nih, tapi, pasti kalian gak akan percaya dengan ucapan aku."
"Maksud kamu?" tanya Sela.
"Aku dijodohin sama Papa, dan cowok itu anak Managernya. Dan kalian tau siapa cowok itu?"
"Siapa? Panji? Syukurlah...," lirih Arsan.
"Bukan!!! Cowok itu Davin," ucap Dira dengan wajah sedih.
Sela dan Arsan terkejut mendengar ucapan Dira. Mereka berdua sama sekali tak menyangka. Dira menunduk sambil menopang dagu, kedua sahabatnya bingung apa yang harus mereka lakukan untuk membantu Dira.
"Kalian tau kan, aku tu sukanya sama siapa?" tanya Dira.
__ADS_1
"Ya Panjilah!!! teriak Arsan dan Sela serentak.
"Gak usah teriak gitu juga dong, ntar anak-anak pada denger...," ucap Dira sambil memukul pelan sahabatnya.