Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 35


__ADS_3

Bel istirahat pun berbunyi, Dira dan Sela bergegas ke kantin. Hari ini tanpa Arsan, ya tanpa dia. Arsan masih menyimpan rasa kecewa yang mendalam terhadap Dira. Begitu sampai di kantin, Dira dan Sela memilih bangku paling pojok. Terlihat ada seorang lelaki memakai jaket hodie dengan topi yang menyatu dijaketnya, ia duduk membelakangi Dira dan Sela.


"Sel, siapa tuh?" tanya Dira dengan penasaran. "Kalau dari bentuk badannya, kok kayak gak asing gitu, ya."


"Aku juga gak tau, Dir. Ih, sepi banget hari ini tanpa si Arsan," jawab Sela.


Tiba-tiba lelaki yang memakai jaket hodie itu membalikkan badan kearah mereka berdua, dengan melepaskan topi yang menutup kepalanya. Dira dan Sela dikagetkan, ternyata itu Arsan.


"Arsan!!" teriak Dira. "Kamu di sini? Kamu gak marah lagi, kan?"


"Arsan, kamu buat kita kaget aja," ucap Sela

__ADS_1


"Lupain masalah yang udah berlalu, aku sayang kalian berdua..." lirih Arsan.


Dira melihat dari raut wajah Arsan, ia masih menyimpan luka mendalam. Tapi Arsan hebat, ia mampu berpura-pura dihadapan Dira seolah-olah masalah itu tidak ada. Mereka pun menikmati makanan yang sudah mereka pesan. Setelah selesai, Dira baru teringat akan janji yang Panji buat pagi tadi. Dira mencari alasan agar bisa pergi menemui Panji.


Ya ampun, aku lupa. Tadi pagi kan, Kak Panji bilang suruh ke perpustakaan. Ini udah telat, aku harus pergi sekarang juga.


"Guys, aku pergi dulu, ya. Ada yang kelupaan," ucap Dira sambil berlari meninggalkan Arsan dan Sela.


"Eh, Dir... Dira...," teriak Arsan lalu menopang dagu. "Tu anak ke mana, Sel?"


Dira pun sampai di depan perpustakaan itu, ia masuk ke dalam mencari Panji. Ia menoleh kekanan dan kiri tapi tak terlihat batang hidung Panji. Dira pun menyusuri lorong rak perpustakaan, sembari menunggu Panji datang. Ia tertarik dengan novel keluaran terbaru yang ada dirak-rak yang letaknya cukup tinggi, membuat Dira kesulitan untuk mencapainya. Dira pun memcari ide, ia mengambil bangku yang ada didepan rak-rak itu. Dira tersenyum dapat menggapai buku novel itu. Tiba-tiba saja, kakinya tergelincir dari atas bangku itu. Ia terjatuh, dan tak disangka Panji yang menahan kepala Dira dengan tangan Panji agar tidak mengenai lantai. Dira memjamkan matanya, ia takut untuk melihat kejadian yang mengerikan itu. Saat ia membuka matanya, wajah Dira berhadapan sangat dekat dengan Panji. Mereka saling bertatapan, tubuh Dira kaku, jantungnya berdetak kencang. Saat angin meniup rambut yang menutup wajah Dira, Panji menepikan dari wajahnya agar terlihat betapa indahnya ciptaan Tuhan dihadapannya itu.

__ADS_1


Ya Tuhan, apa aku bermimpi lagi? Kenapa aku nyaman disaat situasi begini? Apakah ini yang dinamakan cinta yang sesungguhnya?


Lalu, Dira pun segera duduk dan merapikan rambutnya yang berantakan. Panji tertawa melihat Dira yang gugup.


"Kak.. Kak Panji apa-apaan sih..," lirih Dira sambil menunduk malu.


"Kamu kok gugup, Dir?" tanya Panji. "Gak kayak biasanya, kamu juga terlihat malu-malu. Kamu pasti nyimpan perasaan sama seseorang, ya?"


Benar Kak, Dira menyimpan perasaan ke Kak Panji.


"Eng.. Enggak.. Enggak kok," jawab Dira terbata-bata.

__ADS_1


"Kita sama-sama sedang menyukai seseorang, Dira...," lirih Panji.


Panji dan Dira pun berdiri lalu mencari tempat duduk, mereka memilih meja paling ujung. Dira membawa sebuah novel baru, ia begitu penasaran dengan isi novel itu. Sedangkan, Panji membawa buku komik yang telah ia cari sejak awal ia datang. Keduanya sama-sama hobi membaca. Panji sesekali melihat kearah Dira, sepertinya Panji kagum dengan Dira. Panji pun mengatakan bahwa malam nanti ia akan membawa Dira kesuatu tempat.


__ADS_2