
**SEBELUM BACA KELANJUTANNYA, MOHON DI LIKE, KOMENT DAN VOTE JUGA.
FOLLOW IG AUTHOR @oktaapia
FACEBOOK Okta Piani
SELAMAT MEMBACA**
Pagi ini Dira berangkat sekolah diantar sopir Papa. Saat Davin tiba di rumah untuk menjemputnya, Dira meminta sopirnya untuk memberitahu bahwa Dira sudah berangkat bersama Papanya.
Titt.. tittt..
Suara klakson sepeda motor Davin terdengar dari arah luar pagar, Pak Udin segera membuka pintu pagar itu.
"Non Diranya udah berangkat," ucap Pak Udin. "Diantar Papanya tadi barusan."
Davin pun tanpa basa-basi pergi meninggalkan rumah Dira. Setelah selesai sarapan, Dira menghampiri sopirnya untuk menanyakan Davin.
"Pak, gimana, udah datang si Davin?" tanya Dira.
"Udah, baru aja pergi dia, Non Dira ...," jawab Pak Udin.
Dira pun segera masuk ke dalam mobil, saat diperjalanan menuju sekolah. Tak jauh dari rumahnya, Dira melihat Davin sedang bertemu dengan seorang pria lebih dewasa darinya. Dira pun mencurigai bahwa Davin sedang merencanakan sesuatu.
Itu kan Davin, ngapain dia di sana. Kayaknya ngobrol serius. Wah, ini harus aku foto untuk bukti ke Papa.
Dira mengambil ponselnya, lalu memfoto saat Davin sedang memberikan uang ke pria itu. Sekitar lima menit, akhirnya sampai di sekolahan. Dira segera turun dari mobil dan berjalan menuju gerbang sekolah. Panji melihat Dira dari arah parkiran, ia pun membuntuti secara diam-diam. Dengan keisengannya, ia memuculkan diri dihadapan Dira.
"Hei cewek!!" sapa Panji. "Kok sendirian aja, mau ditemenin gak?"
"Ih, Kak Panji apaan. Suka banget isengin Dira, ya ...," lirih Dira sambil tersenyum.
"Mana Davin, Dir? Kok tumben gak sama dia?" tanya Panji heran.
"Dira sengaja gak pergi sama dia. Ntar dia bentak-bentak lagi gara-gara semalam," jawab Dira. "Tadi Dira ngelihat Kak Davin lagi ngobrol serius sama cowok, terus ngasih uang ke cowok itu."
"Jangan-jangan dia ada ngerencanain sesuatu lagi," ujar Panji. "Harus waspada nih, Dir. Aku pergi ke kelas duluan ya, banyak mata-mata soalnya, bye Dira ..."
Dira berjalan menuju kelasnya, dengan perlahan-lahan ia mendekat ke arah pintu kelas. Pandangannya menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan aman dari Davin yang tidak mengikutinya. Tapi, malah sebaliknya, Davin sudah berdiri di depan pintu kelas. Tanpa sadar Dira menabraknya.
__ADS_1
"Aduh, gimana sih ... pakai mat ...," ucap Dira terhenti lalu memandang wajah Davin dengan sangat kaget.
Mulutnya ternganga, dengan sangat cepat ia menutup mulut dengan tangan kanan. Dira begitu terkejut ketika melihat keberadaan Davin yang sedang berdiri menatapnya.
"Kak Davin ...," lirihnya. "Ngapain di sini?"
"Pertanyaan macam apa itu, jelas-jelas aku mencari kamu, nunggu kamu," ucap Davin. "Pergi sama siapa kamu?"
"Sama ... sama Papa, sama siapa lagi," jawab Dira.
"Bohong!!" bentak Davin menarik tangan Dira memaksa agar berbicara jujur. "Jujur sama aku, siapa yang antar kamu ke sekolah?"
"Dira udah jujur ... Kak Davin kok maksa gitu," ucap Dira. "Lepaskan tangan Dira, Kak ..."
Semua murid kelas X berhamburan keluar dari kelas melihat Dira bersama Davin berdebat. Sela dan Arsan saat itu belum tiba di kelas. Davin semakin kuat menahan tangan itu, membuat Dira merintih kesakitan. Tiba-tiba, Panji datang menghampiri mereka dan meminta Davin untuk melepaskan tangan Dira.
"Lepaskan!!" teriak Panji.
"Pasti kamu pergi sama anak ini lagi, kan?" tanya Davin ke Dira.
"Enggak Kak ... udah dong Kak, tangan Dira sakit ...," rintihnya.
"Kamu mau aku kasarin? Lepaskan tangan Dira!!" bentak Panji sekali lagi.
"Jadi cowok jangan kasar gitu bisa gak, aku males ya ribut sama pecudang kayak kamu. Males juga ngotori tangan ini buat ngehajar seorang pecundang," ucap Panji.
"Kalau kamu cowok terima tantangan aku, nanti malam kita balap motor. Dan yang kalah jangan pernah dekatin Dira," ujar Davin. "Gimana, berani gak? Halah, ya jelas gak berani, hahaha."
Panji sejenak memikirkan jawaban. Dira menggelengkan kepala agar Panji menolak taruhan itu. Tapi, sayangnya Panji malah menerima taruhan dari Davin.
"Oke, aku terima," jawab Panji dengan sedikit senyum.
"Kak Panji ...," lirih Dira.
"Wah, keren nih ..."
"Aku mau lihat mereka balapan ntar malam."
"Kak Panji vs Kak Davin."
__ADS_1
Keributan antara Panji dan Davin membuat heboh para murid yang mengerumuni mereka bertiga. Davin pun meninggalkan mereka berdua, Panji tetap berada di sana menenangkan Dira yang wajahnya terlihat pucat.
"Dira, aku terpaksa nerima taruhan itu. Percayalah, semua itu demi kamu ...," lirihnya.
Semua murid yang masih berdiri disana bersorak mendukung hubungan Dira dan Panji. Bel masuk pun berbunyi, Panji kembali ke kelasnya. Sedangkan Arsan dan Sela baru tiba, kedua sahabatnya heran melihat keramaian di depan kelasnya. Sela pun penasaran, segera mencari Dira.
"Dir, ada apa kok ramai-ramai?" tanya Sela.
"Perang dunia ke empat, huft ...," lirih Dira sambil menghela nafas.
"Dira!!" teriak Sela dan Arsan serentak.
"Kalian tuh kemana aja, aku hampir pinsan tau gak," ucap Dira dengan wajah cemberut. "Panji sama Davin ntar malam mau balap motor, mereka taruhan cuma gara-gara aku. Kan gilak."
"Hah? Serius? Duh, gimana ya ...," lirih Sela. "Arsan, bantu berfikir gimana cara mengetasi mereka berdua."
Arsan pun berbisik ke Dira saat itu. Sela menepuk pundak Arsan, karena tak diberitahu apa misi yang mereka buat.
"Woi, Sela. Sakit tau ...," rintih Arsan.
"Terus aku ni gak dianggap? Oh, berarti aku tunggul di sini. Okey," ucap Sela kesal.
Dira pun tertawa melihat tingkah konyol kedua sahabatnya itu. Jam pelajaran dimulai, Dira fokus memperhatikan guru yang menerangi di papan tulis. Tiba-tiba ponsel Dira bergetar, ia langsung membuka pesan whatsapp itu, ternyata dari Davin.
[Davin : Permisi sebentar, aku mau ngobrol. Buruan aku tunggu di depan perpus.]
Dira beranjak dari bangkunya, lalu meminta izin untuk ke kamar mandi. Akhirnya, ia pun diperbolehkan izin. Dira berjalan menuju perpustakaan bertemu Davin. Sesampainya di sana, Davin langsung menarik tangannya.
"Kamu pacaran sama Panji, kan?" tanya Davin.
Aduh, kok dia tau sih. Padahal kami merahasiakan hubungan ini. Gak ada yang tau ...
"Enggak, Kak Davin sok tau," jawab Dira.
"Bohong lagi kamu, ya. Nih buktinya," ucap Davin sambil menunjukkan fotonya bersama Panji.
Dira takut untuk jujur ke Davin saat itu, karena jika Davin tahu dia akan mencelakai Panji. Dira mencoba mengalihkan pembicaraan ke yang lain. Tapi, Davin semakin marah kepadanya.
"Kak Davin, bisa gak dibatalin aja taruhannya?" tanya Dira.
__ADS_1
"Aku minta kamu jawab jujur, bukannya mengalihkan pembicaraan!!" bentak Davin. "Kamu dengar ya, jelas nanti malam Panji yang akan kalah, jadi udahlah Dira. Kamu tetap jadi pacar sekaligus calon tunangan aku ..."
Dira melepaskan tangannya dari genggaman Davin, ia kembali ke kelas dengan suasana hati yang tak karuan. Bel istirahat pun berbunyi. Dira, Arsan, dan Sela berjalan menuju kantin. Baru saja mereka bertiga duduk, Aurel menghampiri Dira dengan membawa segelas air putih ditangannya.