Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 74


__ADS_3

Pagi yang cerah, suara kicauan burung terdengar ribut membangunkan Dira dari tidurnya. Ia melirik ke arah jam weker di atas meja. Jam menunjukkan pukul 08.00 WIB.


"Untung hari Minggu, lanjut tidur lagi kalau gitu ...," lirih Dira.


Tiba-tiba Mama menggedor pintu kamarnya, Dira kembali duduk dan membukkan pintu kamar.


"Ada apa sih, Ma?" tanya Dira. "Dira masih ngantuk."


"Ada pacar kamu tu di teras," jawab Mama.


Dira tersentak kaget mendengar ucapan Mama. Ia tak percaya Panji datang tanpa mengabarinya terlebih dahulu. Dira pun mengintip dari balik tirai jendela ruang tamu.


Duh, Kak Panji kok gak ngabari dulu sih ...


Dira kembali ke kamarnya untuk mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai, ia pun menghampiri Panji yang sudah dari tadi menunggunya di teras rumah.


"Kak Panji ...," sapa Dira. "Kok gak bilang dulu kalau mau datang."


"Ya mendadak kayaknya lebih seru. Nih aku bawain sarapan buat kamu, sayang," ucap Panji menyodorkan plastik berisikan makanan.


Dira segera ke dapur untuk mengambil piring dan air minum. Lalu kembali ke depan untuk sarapan bersama dengan Panji.


"Nih Kak. Lain kali ngabari dulu, jadi Kak Panji gak nunggu lama diluar," ucap Dira.


"Iya sayang, iya," balas Panji dengan senyuman.


Setelah mereka selesai makan, tiba-tiba ponsel Dira berbunyi. Ia mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Ternyata, Davin yang menelepon. Dira masih ragu untuk mengangkatnya.


"Kenapa gak diangkat teleponnya, Dir?" tanya Panji. "Emangnya siapa?"


"Davin, Kak. Duh, males banget ...," lirih Dira dengan wajah lesu.


"Ya udah, angkat aja. Bilang kamu lagi sama pacar kamu," ucap Panji.

__ADS_1


Belum sempat Dira mengangkat telepon, Davin masuk dan menuju teras rumahnya. Dira kaget melihat kehadiran Davin yang secara tiba-tiba muncul dihadapannya.


"Loh, Kak Davin ngapain ke sini?" tanya Dira.


"Aku mau antarin sarapan buat calon tunanganku," jawab Davin sambil menyodorkan plastik. "Nih, buat kamu, Dira."


"Calon tunangan apanya!!" bentak Panji. "Gak usah terlalu tinggi mimpi kamu, Vin."


Panji hampir saja mendaratkan kepalan tangannya ke wajah Davin saat itu. Dira melerai mereka agar tak lagi ribut. Davin segera pergi meninggalkan tempat itu dengan rasa kesal. Mama pun datang menghampiri mereka berdua yang berada di teras rumah sambil membawa minuman.


"Panji, diminum ya," ucap Mama menyuguhkan minuman di atas meja. "Oh ya, gimana kabar Mama kamu?"


"Ya, Tante. Nanti Panji minum kok," jawab Panji. "Kabar Mama sehat, oh ya Mama nitip salam sama Tante."


"Titip salam balik, kapan-kapan bawa Mama kamu ke rumah. Udah lama gak jumpa. Sekalian bahas hubungan kamu sama Dira," bisik Mama ke telinga Panji.


Panji tersenyum saat mendengar ucapan Mama Dira. Setelah cukup lama berbincang, Mama pun masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, Papa Dira pulang secara mendadak. Melihat Dira bersama Panji, Papa marah besar dan menyuruh Dira untuk masuk ke dalam rumah.


"Dira!!" teriak Papa. "Kamu apa-apaan, kenapa bukan sama Davin, kan Papa sudah bilang jangan dekat sama cowok lain yang belum jelas asal-usulnya."


"Berani kamu membantah Papa? Masuk sekarang!!" bentak Papa.


Dira segera masuk ke dalam rumah dengan wajah sedih bercampur kesal. Ia tahu itu semua kerjaan Davin yang sengaja mengadu ke Papa Dira.


Kak Davin gak ada habisnya merusak kebahagiaan Dira. Apa yang akan Papa buat dengan Kak Panji? Dira gak mau Kak Panji kenapa- kenapa ...


Papa Dira memeberitahu Panji agar tidak lagi bersama anaknya. Panji berusaha menjelaskan kelicikan Davin saat itu, tapi tak juga berhasil.


"Om, Panji bisa menjelaskan siapa Davin dan Papanya yang sebenarnya," ucap Panji.


"Kamu tau apa soal keluarga Davin? Dia itu pemilik perusahan yang sedang naik daun, jangan sampai kerjasama ini gagal gara-gara kamu ya, Panji. Sekali lagi saya tegaskan!!" bentak Papa Dira ke Panji.


"Saya tidak akan mau menjauhi anak Om, saya akan berusaha menunjukkan kelicikan keluarga Davin. Perkenalkan Om, saya Panji anak pimpinan perusahan tambang batu bara. Pasti Om tau kan siapa Papa saya. Baiklah, saya permisi," balas Panji.

__ADS_1


Panji pun pergi, Papa Dira masih berdiri di meja teras rumahnya. Memahami perkataan Panji barusan.


Apa benar yang anak itu katakan, bukannya keluarga Davin yang memengang perusahaan tambang batu bara, kenapa anak itu berkata lain. Batin Papa Dira.


Dira mengurung diri di dalam kamar, ia tak sampai hati melihat Panji dibentak oleh Papanya. Dira bolak balik menghubungi Panji tapi sayang, nomor ponselnya tidak aktif. Dira terus merasa cemas dan bingung apa yang ingin ia lakukan untuk mencaritahu tentang Panji.


Kak Panji kenapa gak aktif sih nomer HP nya, Dira khawatir Kak ...


Tak lama kemudian, Papa mengetuk pintu kamar Dira, ia segera berpura-pura untuk tidur. Tapi, rencananya gagal, Papa keburu membuka pintu kamar karena Dira lupa menguci pintu itu.


"Dira, Papa mau ngobrol sebentar. Papa tunggu di ruang tengah sekarang juga," ucap Papa.


Dira segera berjalan menuju ruang tengah dengan wajah ketakutan dan keringat dingin. Bagaimana tidak, ia tak mau jika Papa memaksakan untuk bertunangan detik ini juga dengan pria yang tidak sama sekali ia suka.


Tolong jangan sampai itu terjadi, Dira gak mau, Pa ... Ya Tuhan tolong aku ...


"Dira, apa benar Panji itu anak pengusaha tambang batu bara?" tanya Papa.


Loh, kok tiba-tiba Papa nanyain hal ini? Apa Kak Panji udah ngomong itu sama Papa.


"Dira, jawab pertanyaan Papa!!" ucap Papa dengan mengeraskan suaranya.


"Be ... betul, Pa," jawab Dira gugup.


Papa menghentakkan meja dengan penuh amarah yang kian menggebu-gebu. Ia masih tidak percaya atas kebohongan keluarga Davin. Papa berdiri dari sofa yang ia duduki, lalu segera kembali ke kantor.


"Apa Papa sudah tau kelicikannya keluarga Kak Davin, ya," gumam Dira.


Dira pun kembali ke kamarnya. Ia mengambil ponsel dibawah tumpukan bantal, ternyata Panjk sudah meneleponnya sebanyak sepuluh kali sejak tadi. Dira segera menelepon kembali.


"Hallo, Kak Panji," sapa Dira lewat telepon. "Maaf, HP Dira tadi tinggal di kamar."


"Gak apa-apa, Dira sayang. Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Panji.

__ADS_1


"Baik kok, apa Kak Panji udah memberitahu Papa soal rahasia itu? Papa kayaknya marah banget tadi," ucap Dira.


"Ya, Dir. Dengan terpaksa aku harus jujur, aku gak tahan dengan sikap Davin yang terus-terusan mencari muka dihadapan Papa kamu. Dan yang paling penting, aku sayang kamu, Indira ..." ungkap Panji.


__ADS_2