
Begitu sampai di rumah, Dira berusaha melupakan semua masalah yang datang menghampirinya. Tiba-tiba, Davin menyusul ke rumah Dira.
"Loh, kenapa Kak Davin ke rumah? Ada perlu apa?" tanya Dira "Udah malam ini."
"Dira, tas kamu ketinggalan. Ini ...," ucap Davin sambil memberikan tas itu ke Dira.
Setelah Davin mengembalikan tas Dira, ia pun pulang. Sementara Dira masih berdiri di depan teras rumahnya untuk mengecek isi dalam tas itu. Dira begitu kaget, saat ia memeriksa isi dalam tas itu, terdapat sebuah kotak kecil berisi kalung liontin dengan huruf D dan ada sepucuk surat bertuliskan "Maafin aku Dira."
"Kak Panji, kenapa selalu aja buat Dira luluh," gumamnya.
Dira rasanya ingin menitikkan air mata saat mendapatkan kalung dan surat itu. Ia segera menuju kamarnya untuk melanjutkan tidur karena hari sudah larut malam. Saat Dira memejamkan mata, ia selalu terbayang wajah Panji.
"Kenapa aku tidak bisa tidur ...," lirih Dira.
Dira kembali bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju meja yang berada disudut kamar. Ia mengambil kalung liontin itu kemudian memakaikan kelehernya.
Semoga setelah aku pakai kalung ini bisa tidur nyenyak.
Dira kembali berjalan menuju kasur, lalu membaringkan badan dan menarik selimut tebal yang berada dibawah kakinya. Ia memejamkan mata hingga terlelap.
**
Kring ... kring ...
Alarm ponsel berbunyi, Dira segera bangun dari tidurnya. Cuaca pagi ini tampak mendung, sama seperti hatinya Dira. Ia segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Semenjak Dira bertengkar dengan Panji, ia ke sekolah diantar oleh sopirnya. Diperjalanan, tiba-tiba ponselnnya berbunyi. Ternyata pesan dari Davin.
[Davin : Dira, kenapa kamu gak pergi bareng aku?]
Haduh, males ah mau balas. Gak berfaedah juga ...
Dira kembali meletakkan ponselnya ke dalam saku celana. Hari ini hari terakhir pertandingan cabang olahraga antar sekolah. Tim basket puteri SMA Favorit masuk ke babak final. Dira begitu semangat ingin bertarung di lapangan nanti.
__ADS_1
Saat sampai di depan pintu gerbang sekolah, Dira pun segera turun dari mobil. Dari kejauhan tampak Davin yang sedang berdiri menunggu kedatangan Dira.
"Dira, yuk ke lapangan langsung ...!!" ajak Davin.
Panji berada disebelah mereka saat ingin menuju ke lapangan futsal. Ia pun melajukan langkah kakinya agar tak merasa cemburu melihat Dira bersama Davin yang begitu dekat.
Saat itu, tim futsal sedang bertanding. Terlihat dari jauh, Panji tidak fokus dalam menggiring bola. Dia seperti mencari seseorang yang menyemangatinya saat ia bertanding. Tapi sayangnya tidak ada di sana. Dira pun merasa bahwa Panji sedang mencarinya, ia pun bergegas berjalan menuju lapangan futsal. Davin menghalangi niat Dira untuk pergi ke lapangan pada saat itu, tapi Dira membrontak dan akhirnya bisa melihat Panji. Dira berdiri dibarisan paling depan. Panji menoleh dan melihat ada Dira yang sedang berdiri sambil melontarkan senyuman kearahnya, membuat Panji jadi semangat dalam bertanding. Alhasil tim futsal SMA Favorit memenangkan pertandingan dengan peringakat pertama.
Dira pun beranjak dari tempat itu menuju lapangan basket, karena sebentar lagi pertandingan akan dimulai. Dira menghampiri Sela dan Arsan yang sedang duduk dibangku depan ruang ganti.
"Sela ... Arsan ...," sapa Dira.
"Ada apa kemari?" tanya Sela.
"Pergi aja bareng si Davin sana, kita gak dianggap sahabat lagi," tutur Arsan.
"Kalian kok gitu? Aku masih menganggap kalian itu sahabat aku ...," lirih Dira.
"Dira!!" teriak Sela dan Arsan serentak.
Dira menghentikan langkahnya, lalu berbalik arah ke mereka berdua. Sela dan Arsan mendekati Dira dan memaafkan sahabatnya. Sela pun memeluk Dira dengan erat, karena tak ingin persahabatannya renggang. Setelah itu, Dira dan Sela masuk ke ruang ganti untuk siap-siap bertanding.
Lalu, mereka bertiga berjalan menuju lapangan basket. Terlihat, saingan berat tim basket SMA Favorit sudah tiba yaitu SMA Bintang.
"Sel, kita harus bisa menang melawan saingan berat kali ini ...," bisik Dira.
"Pasti, Dir. Semangat!!" ucap Sela.
Pertandingan pun segera dimulai, tim basket SMA Favorit dan SMA Bintang memasuki lapangan. Terlihat Panji bersama Arsan duduk dibarisan depan untuk mendukung Dira dan Sela. Setelah cukup lama, waktu pertandinga tersisa dua menit, skor selisih satu angka. Detik-detik terakhir, Dira berhasil memasukkan bola ke ring. Dan akhirnya SMA Favorit yang jadi pemenang tahun ini. Semua murid bersorak gembira atas kemenangan sekolahnya.
Dira dan Sela berjalan keluar lapangan, Panji menghampiri Dira dan menyodorkan air mineral. Mereka saling memberikan senyuman.
__ADS_1
"Selamat atas kemenangannya, kamu hebat, Dira ...," lirih Panji.
"Makasih, Kak Panji. Dira permisi mau ganti baju dulu," ucap Dira.
Dira dan Sela baru saja selesai mengganti pakaian. Dira mengintip dari jendela, terlihat diluar ada seorang wanita yang sedang duduk menunggu. Dira segera keluar untuk mencaritahu siapa wanita itu, tenyata dia Nadin mantan Panji.
"Kak Nadin, ngapain di sini, Kak?" tanya Dira.
"Dira, aku mau jelasin sesuatu. Ini penting, kamu harus percaya sama aku!!" jawab Nadin dengan tegas.
"Apa Kak? Kak Nadin ada-ada aja," ucap Dira. "Sepenting apa sih?"
"Kamu salah paham, Dir. Aku gak ada hubungan apa-apa lagi dengan Panji. Dan soal aku peluk dia itu cuma sebatas tidak sengaja, aku telalu bahagia bisa bertemu lagi dengan dia. Tolong kamu maafin Panji, ya. Dia tulus sayang sama kamu dan gak ada maksud buat khianatin kamu," jelas Nadin dengan memohon.
Dira menganggukkan kepala dan memeluk Nadin. Hati Dira terasa lega mendengar penjelasan dari Nadin saat itu. Ia segera mencari Panji. Kebetulan sekolah sudah hampir sepi, Dira mencari keberadaan Panji di parkiran tapi tidak ada. Ia berlari lagi kearah perpustakaan. Dan pada akhirnya, ia menemukan pria yang membuatnya jatuh cinta itu sedang duduk di lapangan futsal. Dira segera menghampirinya.
"Kak Panji ...," sapa Dira.
"Dira ...," sahut Panji. "Kamu kok disini? Aku pikir kamu udah pulang sama Davin, kamu gak tau gimana hancurnya perasaan aku, Dir."
"Dira sayang Kak Panji," ucap Dira lalu berjalan mendekati Panji.
Panji terdiam menoleh kearah Dira. Ia pun berdiri dan berjalan kearah Dira lalu memeluknya. Saat itu hujan turun, mereka berdua basah diguyur hujan ditengah-tengah lapangan.
"Maafin Dira yang gak percaya sama penjelasan Kak Panji," ucap Dira.
"Aku juga minta maaf, Dir. Aku sayang sama kamu," bisik Panji ditelinga Dira.
Pelukan itu semakin erat, guyuran hujan semakin lebat membuat suasana bertambah romantis. Sela, Arsan dan Nadin menyaksikan mereka berdua bagaikan Romeo dan Juliet.
"Kamu tahu hal yang paling romantis dari hujan? Dia selalu mau kembali meski tahu rasanya jatuh berkali-kali," lirih Panji.
__ADS_1