
Hari ini pendaftaran siswa baru. Dira pun bangun lebih awal. Mama hari ini menemankan Dira untuk mendaftar. Dira pun berharap ia bisa masuk ke SMA favorit itu, dan tidak lagi bertemu dengan Rena. Dira pun menyusun persyaratan itu. Lalu, memasukkannya kedalam map. Setelah sampai di sekolah itu, Dira mengambil formulir mengisinya satu per satu. Dira pun berjumpa dengan Sela saat mengisi formulir. Sela dan Dira memang sudah berjanji akan melanjutkan ke sekolah yang sama.
"Mama tinggal dulu ya, Dira," ucap Mama. "Nanti telepon Mama kalau udah selesai. Mama yang jemput."
"Baik, Ma," jawab Dira.
"Dira, udah selesai?" tanya Sela. "Yuk, ke kantin."
"Udah nih, Sel," jawab Dira. "Eh, Arsan jadi gak daftar di sini juga? Kok aku dari tadi gak ngeliat dia."
Tiba-tiba Arsan muncul seketika, seperti ada magnet yang menariknya. Hingga ia datang saat Dira menanyakan keberadaan Arsan.
"Jadi dong, Dir," balas Arsan. "Aku akan selalu ada di mana pun kamu berada."
"Ih kamu, kok bisa.." ucap Dira dengan heran.
"Kamu cari akukan?" tanya Arsan. "Aku di sini, Dira"
Arsan kok bisa tiba-tiba di belakangku ya, padahal dari tadi juga gakada.
"Semoga kita bisa satu sekolah lagi, ya" ucap Sela.
"Ya, dan menjadi lebih dari teman," jawab Arsan.
"Lebih dari teman, sahabat!" tegas Dira. "Semoga kita menjadi sahabat yang selalu ada saat susah maupun senang."
"Eh, gak nyangka ya. Kita udah mau duduk dibangku SMA aja," ucap Sela.
Lalu mereka pun berjalan ke arah kantin untuk mengisi perut. Arsan pun memilih duduk disebelah Dira. Arsan yang selalu ingin dekat Dira, membuat Dira jadi canggung, gugup dan malu. Saat Arsan melihat kearahnya, Dira menundukkan kepala. Sambil sesekali meminum minuman yang sudah ia beli. Setelah selesai dari kantin, mereka melanjutkan untuk duduk di halte sembari menunggu jemputan. Dira pun menelepon Mamanya untuk segera dijemput. Tiba-tiba Rena melihat Dira, Arsan dan Sela dari kejauhan. Kebetulan Rena juga mendaftar di SMA favorit ini.
"Eh, itu bukannya Dira sama Sela," ucap Rena ke Vivi.
__ADS_1
"Memang, Ren," jawab Vivi. "Mereka daftar di sini juga rupanya."
"Arsan, itukan Arsan. Akhirnya jumpa my baby Arsan lagi. Kali ini aku harus bisa dekatin Arsan, Vi," ujar Rena bersemangat.
"Harus dong, masa kalau sama sicupu. Mau diletak mana wajah Rena yang cantik ini. Saingannya gak seimbang," balas Vivi
Rena dan Vivi pun tertawa meledek Dira. Mereka pun berjalan ke arah halte. Rena sibuk mengeluarkan kaca dan sisir dari dalam tas kecilnya. Ia sibuk bersolek agar Arsan suka padanya. Tapi malah sebaliknya, Arsan lebih menyukai wanita yang sederhana seperti Dira dan tidak banyak gaya.
"Eh, Arsan. Kamu daftar di sini juga, ya?" tanya Rena dengan gayanya yang centil. "Semoga kita bisa ketemu lagi di sekolah baru ini."
Arsan cuma menganggukkan kepalanya.
Rena geram dengan Dira yang selalu dekat dengan Arsan. Lalu ia berjalan menghampiri Dira sambil memainkan rambutnya.
"Indira, kamu daftar di sini juga? Yakin?" tanya Rena dengan sombong kepada Dira. "Kayaknya gak pantes kamu, Dir. Ini SMA favorit, dan yang sekolah di sini gak ada yang cupu kayak kamu, apa kamu gak ma..."
"Kata siapa Dira cupu!?" Arsan memotong pembicaraan Rena dengan sedikit marah.
"Kamu kali yang gak banget, Ren. Berlebihan tau, gak sewajarnya ke sekolah bawa makeup kayak gitu...," balas Sela.
"Udah.. udah.. mending pergi deh kamu, Ren. Ribut aja kamu di sini," ujar Arsan lalu berdiri berjalan mengambil kacamata Dira.
"Ini, Dira kacamata kamu...," lirih Arsan sambil memberikan kacamata itu.
Arsan memarahi Rena dan memintanya untuk segera pergi dari sini. Rena lalu pergi dengan wajah yang kesal karena Arsan mengusirnya. Tak lama kemudian, Dira pun dijemput Mamanya.
"Dir, ntar sore kita ngumpul, ya. Sama Sela juga kok," ucap Arsan.
"Baik, whatsapp aja ntar...," balas Dira lalu membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.
Sela dan Arsan masih duduk di halte membahas masalah perasaan Arsan ke Dira. Sela menceritakan apa yang selama ini Dira curhatkan.
__ADS_1
"Ar, Dira selalu ceritain kamu, kok. Dia udah anggap kamu seperti sahabatnya. Malah dia senang banget kalau itu beneran terjadi...," lirih Sela.
"Terjadi apanya, Sel?" tanya Arsan sedikit bingung.
"Kita bertiga jadi sahabat, Arsan... Payah banget ngobrol sama ni anak. Gak conect melulu, haduh...," lirih Sela sambil menepuk jidat.
Mereka pun tertawa terbahak-bahak. Saling ejek mengejek satu sama lain. Arsan mengalihkan pembicaraannya, ia mengusulkan sore nanti berkumpul di cafe yang letaknya tak jauh dari rumah Dira. Sela pun menyetujui usulan Arsan. Setelah mereka selesai berbincang, Arsan mengantarkan Sela pulang ke rumahnya.
Jam menunjukkan pukul 14.00 WIB. Ponsel berbunyi. Ternyata Arsan membuat grub via whatsapp, yang anggotanya berisi tiga orang yaitu, Dira, Arsan dan Sela dengan judul grub "sohib". Satu per satu pesan masuk.
[Arsan : Guys, ntar jam 4 ngumpul di rumah Dira aja, ya...]
[Sela : Sip, aku selalu ikut aja.]
[Dira : Wah, keren nih udah ada grub aja. Heheh, oke guys, aku tunggu. Jangan ngaret, ya, awas!!!]
Setelah obrolan selesai, Dira bergegas untuk siap-siap. Sambil menunggu mereka datang, Dira membuatkan cemilan kentang goreng yang sudah tersedia di dalam kulkas. Waktu masih tersisa dua puluh menit menunjukkan pukul 16.00 WIB, bel berbunyi. Dira berjalan menuju pintu dan segera membukanya. Ternyata, Sela dan Arsan datang lebih awal.
"Eh, kalian. Tumben cepat, yuk masuk...," lirih Dira sambil menyuruh mereka untuk masuk. "Kalian duduk dulu, ya. Aku mau ke dapur sebentar."
"Ya dong, kita kan udah janji gak bakal ngaret," jawab Sela.
"Gak usah repot-repot, Dir...," ucap Arsan. "Tapi, kalau ada makanan keluarin aja, kita tetap nerima kok, hahaha."
Sela dan Dira pun tertawa melihat kekonyolan Arsan. Lalu, Dira berjalan menuju dapur membawakan air dingin dan kentang goreng yang ia buat tadi. Setelah itu, kembali ke ruang tamu menyajikannya di atas meja. Sepuluh menit duduk sambil menikmati hidangan, tiba-tiba ada tamu yang datang. Ternyata Tante Ovi dan Panji.
"Guys, sepertinya kita gak jadi ke cafe. Ada tamu Mamaku, pasti gak diizinin keluar...," lirih Dira dengan raut wajah sedih.
"Gak apa, Dir. Lain waktu aja, kita ngerti kok," ucap Sela. "Eh, itu cowok ganteng banget, Dir... Jangan-jangan, kamu mau dijodohin ya."
"Sstt, apaan kamu, Sel. Suka ngaco kalau ngomong, huh," jawab Dira.
__ADS_1
Akhirnya Sela dan Arsan pun pulang, Arsan berpapasan dengan Panji, mereka saling tatap muka. Arsan terlihat kesal saat lelaki bernama Panji itu duduk bersebelahan dengan Dira.