
Sela kembali meminta maaf ke Dira. Ia merasa tidak nyaman, jika diam-diaman lebih dari dua hari. Karena mereka memang tidak pernah ada masalah dari awal perkenalan. Dira pun memaafkan Sela dengan syarat membantunya agar bisa jauhi Panji. Sela terdiam, karena itu hal yang tidak gampang menurutnya.
"Dira, maafin aku dong, aku gak bisa diam-diaman gini. Aku rindu kebersamaan kita, Dir," tutur Sela memohon.
"Udah, aku udah maafin kamu. Tapi, kamu harus bisa buat aku jauh dari Kak Panji," jawab Dira sambil menarik tangannya.
"Ya gak bisalah, Dira. Kak Panji itu suka sama ka..." ucap Sela lalu menutup mulutnya.
"Maksud kamu, Sel?" tanya Dira kaget. "Aku gak ngerti, Kak Panji kenapa?"
"Gak ada, Dir. Lupain aja," balas Sela mengalihkan pembicaraan. "Yuk, ke kantin! Laper nih."
Dira dan Sela pun menuju ke kantin, terlihat Arsan sedang duduk menunggu mereka berdua di bangku kantin. Belum sempat Dira duduk, tiba-tiba Aurel datang menghampiri Dira lalu mendorongnya hingga terjatuh. Suasana di kantin jadi ricuh, mereka pada mendekat melihat Dira. Arsan langsung beranjak dari bangku yang ia duduki. Ia membantu Dira berdiri. Arsan bingung kenapa Aurel tiba-tiba datang lalu mendorong Dira.
"Eh, kenapa datang-datang main dorong aja?" tanya Arsan sambil merapikan rambut Dira. "Gak bisa ya ngomong secara baik?".
"Dira udah merebut Panji, aku udah lama kenal Panji, dan kami hampir aja jadian," jawab Aurel dengan kesal. "Gara-gara Dira semua jadi rusak. Gak puas kamu ya, Dir. Udah ada si Arsan masih deketin Panji."
"Dira bukan pacarnya Kak Panji, Dira gak pernah jadian dan pacaran dengan Kak Panji," tutur Dira dengan wajah sedih. "Tolong, Kak Aurel jangan salah pengertian."
Suasana semakin tegang, Aurel tak lagi bisa menahan amarahnya yang bergejolak. Tiba-tiba Panji datang menahan pergelangan tangan Aurel yang hendak menampar pipi Dira. Itu membuat mata semua orang yang ada di sana tertuju pada Panji. Aurel melepas paksa tangannya.
"Panji, kenapa kamu di sini?" tanya Aurel sambil menatap kearah Panji. "Lepaskan tanganku!!"
"Seharusnya aku yang nanya itu ke kamu, Rel," jawab Panji dengan nada marah. "Kamu gak malu ribut di kantin? Dira itu gak salah apa-apa, kenapa kamu nyerang dia. Aku mau dekat siapa itu bukan urusan kamu, Rel."
"Kenapa kamu milih Dira? Aku jauh lebih cantik dari dia, Panji," ucap Aurel sambil menarik tangan Panji dan memohon. "Tolong, kamu jangan berubah. Selama ini kita dekat dan kamu gak pernah dingin gini ke aku, Panji."
"Kamu aneh ya, Rel. Kita dekat hanya sebatas satu organisasi. Itu hal yang wajar, kan?" tanya Panji sambil melepas paksa tangannya. "Kamu terlalu berlebihan, sikap kamu itu yang membuat aku gak suka, kamu terlalu sombong dan suka merendahin orang lain."
__ADS_1
Aurel diam membisu, ia sesekali menatap kearah Dira dengan rasa kesal yang mendalam. Aurel pun pergi dengan wajah tertunduk malu. Seluruh siswa di sana menyorakkannya. Panji menenangkan Dira, matanya berkaca-kaca menahan kesedihan.
"Dira, maaf ya atas kejadian ini kamu yang jadi sasaran Aurel. Jujur, aku gak ada rasa sama sekali ke dia. Dari awal masuk organisasi dia emang suka cari perhatian, dan kita juga dekat sebatas teman," lirih Panji.
"Ya, Kak Panji. Dira gak tau kenapa Kak Aurel harus nyerang Dira terus," balas Dira dengan senyuman. "Kak Panji mending jauhin Dira, deh."
Maafin Dira Kak, ini mungkin lebih baik. Agar Kak Aurel bisa dekat lagi sama Kak Panji.
Dira beranjak dari bangku itu, ia mengajak Arsan dan Sela untuk pergi ke perpustakaan. Sela pun balik ke kelas, karena ada sesuatu yang ketinggalan.
Dira kali ini bertekad akan menjauhi Panji. Mau tidak mau harus bisa, walaupun Panji selalu datang menemuinya. Kali ini, Arsan berkesempatan untuk mendapatkan hati Dira. Saat itu, Dira hendak menuju ke perpustakaan. Panji melihat Dira sedang berduaan dengan Arsan, ia pun menghampiri mereka.
"Dira, mau ke perpus, kan? Bareng, ya," ucap Panji berjalan sambil membawa buku ditangannya.
Dira melihat Panji datang langsung menarik tangan Arsan, lalu menggandengnya.
"Maaf, Kak Panji. Dira mau bareng Arsan aja," jawab Dira membalas senyuman. "Duluan ya, Kak."
Kenapa aku jadi kepikiran Kak Panji terus, padahal aku udah berusaha lupain. Arsan pasti curiga, nih.
Lonceng berbunyi, Dira dan Arsan segera menuju ke kelas. Sesampainya di kelas, Dira melihat wajah Sela yang lemas dan pucat. Ia baru sadar, ternyata saat Dira dan Arsan belajar di perpustakaan, Sela tidak ikut seperti biasanya.
"Sela, kamu sakit?" "Maaf ya, Sel. Tadi aku sama Arsan lupa ngajakin kamu belajar bareng."
"Gak apa-apa, Dir," lirih Sela. "Ya, Dir, sepertinya gak enak badan."
"Kamu nanti pulang sama Arsan aja, ya. Gak usah naik angkot, takutnya kamu kenapa-kenapa, Sel," tutur Dira sambil memegang dahi Sela.
"Sel, badan kamu panas gini, ke UKS dulu aja, yuk", ajak Dira lalu merangkul Sela.
__ADS_1
Sela pun mengangguk, Dira mengantarkan Sela ke UKS. Dira mengambilkan obat penurun panas, lalu memberikannya ke Sela. Setelah itu, mereka pun balik ke kelas untuk segera membereskan buku-buku yang masih berserak di atas meja. Kebetulan, hari ini pulang cepat dari biasanya. Dira pun menghampiri Arsan.
"Arsan, kamu antarin Sela pulang, ya. Badannya panas, aku gak tega kalau Sela pulang naik angkot," ucap Dira sambil menyandang tas yang Dira pegang.
"Terus kamu nanti pulang sama siapa, Dir?" tanya Arsan dengan wajah kaget.
"Udah, gak usah khawatir. Aku bisa kok pulang sama yang lain," jawab Dira tersenyum. "Pokoknya, antarin Sela sampai ke rumahnya. Awas ya kalau enggak!!".
Sela dan Arsan pun segera menuju parkiran, sementara Dira berusaha mencari tumpangan ke teman yang lain.
Panji yang berada di parkiran melihat Dira, lalu ia pun menghampirinya. Dira segera mencari alasan untuk bisa menolak Panji.
"Dira, yuk naik. Aku antarin pulang," ajak Panji dengan senyuman.
"Gak usah, Kak Panji. Dira nanti dijemput, kok," jawab Dira sambil mengambil ponsel dari dalam saku rok seragamnya.
Panji segera pergi meninggalkan Dira sendirian di parkiran. Padahal, Dira ingin sekali menerima ajakan Panji. Tapi, demi Aurel, Dira akan berusaha untuk menjauhi Panji. Saat Panji baru sampai di depan halte, ia putar balik menuju parkiran. Panji khawatir Dira sendirian di sana.
"Dira, aku minta kamu naik sekarang!!" bentak Panji.
Dira bingung kenapa Panji balik lagi ke parkiran. Dira diam tak menjawab apapun.
"Dira!! Kamu dengar tidak perintahku. Naik!!," bentak Panji lebih keras. "Kamu tau, aku khawatir, Dira. Aku mohon, kamu terima ajakanku untuk terakhir kalinya".
*Dira, aku sayang sama kamu.
Kak Panji, Dira gak mau ini jadi yang terakhir kalinya Kak Panji antarin Dira pulang. Dira minta maaf, Kak*.
"Ya, Kak Panji. Dira naik," balas Dira dengan wajah datar.
__ADS_1
Akhirnya, Panji mengantarkan Dira pulang. Diperjalanan Dira menahan untuk tidak melontarkan pertanyaan apapun. Terkadang ia ingin bercanda seperti saat Panji menjemputnya waktu itu.