
Seperti biasanya, Dira berangkat sekolah bersama Panji. Tanpa basa-basi, Dira langsung berjalan ke kelas. Panji dengan wajah masam berlari mengejarnya.
"Dira, kamu masih kesel ya, soal semalam?" tanya Panji. "Dari tadi kamu cuekin aku terus."
"Gak kok, Dira lagi gak mood aja, Kak, lagi bete. Dira duluan, ya," jawab Dira dengan senyum.
Sesampainya di kelas, semua murid di dalam kelas pada heboh. Tiba-tib, Sela datang langsung menarik tangan Dira ke menuju luar kelas. Tak heran, Sela si tukang gosip ingin menyampaikan berita terbaru di sekolah ini.
"Dira, kamu tau gak sih, ada berita baru...," lirih Sela.
"Berita apa, Sel? Anak baru?" tanya Dira.
"Kok kamu bisa tau sih, Dir? Keren banget tau gak, ganteng, putih, tinggi, idaman semua cewek deh," ucap Sela dengan gayanya yang centil.
"Halah, udah ah, Sel. Gak penting," balas Dira sambil berjalan masuk ke kelas.
__ADS_1
Hari ini aku bakalan cari tau siapa nama anak baru itu. Aku mau ngucapin terima kasih sekali lagi kedia karena udah nyelamatin aku.
Bel istirahat pun berbunyi. Dira menghampiri Sela dan Arsan untuk mengajak mereka ke kantin. Saat berjalan melewati mading, Dira melihat lelaki yang menolongnya semalam sedang berjalan berlawanan arah darinya. Dira menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badan ke belakang. Terlihat ia tengah dikerumuni para wanita centil. Sela heran dengan sikap Dira hari ini.
"Dir, kamu kenapa? Lihat siapa?" tanya Sela.
"Itu, Sel," menunjuk ke arah lelaki itu.
"Anak baru itu, ya? Bukannya kamu bilang gak penting," ucap Sela sambil menarik tangan Dira. "Udah yuk lanjut ke kantin, bahas di sana aja. Eh, ngomong-ngomong kamu kenal dengan cowok itu?"
Dira hanya membalas senyum. Arsan dan Sela mengeleng-gelengkan kepalanya. Mereka begitu penasaran dengan rahasia antara Dira dengan anak baru yang menolong Dira itu. Kegaduhan di koridor kantin terjadi hari ini. Para murid menciptakan keributan dengan mengadakan konser dengan alat ala kadarnya. Ada yang memainkan gitar, memukul botol bekas sebagai pengganti drum mereka, dan tak lupa yang paling penting ada vokalisnya. Semua yang ada di kantin terhibur dengan aksi mereka. Dira, Arsan dan Sela memilih tempat duduk dipojokan seperti biasanya.
Tiba-tiba saja, Panji muncul dibelakang Dira, membuatnya kaget hingga spontan memukul Panji dengan botol minum yang Dira pegang.
"Aku di sini Indira..." lirihnya.
__ADS_1
"Ah, Kak Panji ngagetin aja, deh," ucap Dira sambil memukul pelan dengan botol minum kearah Panji.
"Ya, maaf maaf. Kamu rindu ya sama aku? Ngaku!!" tutur Panji berjalan mengambil posisi duduk disebelah Dira.
"Ih, enggak ya. Orang Kak Panji ngeselin kok, gak mungkin Dira rindu. Hahaha," jawab Dira sambil tertawa.
Saat tengah asyik makan, tiba-tiba lelaki yang membuat Dira penasaran itu muncul. Dira langsung memasang tatapan fokus untuk mengikuti kemana arah lelaki itu. Lelaki itu sedang mencari bangku kosong, karena semua bangku sudah terisi penuh. Sisalah bangku disebelah Dira yang masih muat untuk satu orang lagi. Dira pun menghampiri lelaki itu dan memintanya untuk duduk disebelahnya.
"Kak, itu disebelah saya masih muat kok. Yuk, mari!!" ajak Dira.
"Oh ya, boleh saya duduk di sini?" tanyanya.
"Eng.." ucap Panji terpotong.
"Boleh dong, Kak. Silahkan," Dira memotong ucapan Panji.
__ADS_1
Lelaki itu pun duduk disebelah Dira. Wajah Panji terlihat begitu kesal, hatinya terasa terbakar api cemburu.
Aku bakalan tau namanya setelah ini, rasa penasaranku pun akhirnya hilang. Eh, ngomong-ngomong, muka Kak Panji kenapa kok kesal banget, ya. Hahaha lucu kali sih kamu Kak. Pasti dia cemburu tuh.