Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 50


__ADS_3

Panji pun mengirim SMS ke Dira, memberitahu bahwa ia sudah berada di depan pagar rumahnya. Dira langsung bergegas keluar untuk membukakan pintu. Dira tersentak kaget melihat kedua sahabatnya juga berada di depan bersama Panji.


"Loh, kalian...," lirih Dira.


"Kita kebetulan lewat sini, Dira. Terus jumpa Kak Panji, ya singgah deh," ucap Sela.


"Berangkat sekarang, Dira?" tanya Panji. "Serius kamu cantik malam ini, Dir."


Dira menganggukkan kepala. Mendengar pujian dari Panji membuat Dira tersipu malu.


Ya ampun, baru juga dipuji dikit, jantung aku udah deg-degan, malah grogi lagi.


Akhirnya, Panji dan Dira pun berangkat. Dua sahabatnya itu mengikuti mereka secara diam-diam. Tak lama kemudian, Davin dan Aurel muncul, mereka mengendarai mobil agar tak diketahui oleh Panji. Lima menit perjalanan, sampailah disebuah restoran mewah yang sudah Panji sewa beberapa jam untuk mengungkapkan perasaan Panji ke Dira. Ia berharap malam ini tidak gagal lagi seperti sebelumnya.


Begitu masuk, Panji membawanya ke suatu tempat yang bernuansa romantis. Dira membelalakan mata sangking kagumnya dengan tempat itu.


Serius ini bagus banget tempatnya, tolong Dira tolong jangan grogi. Pokoknya kalau Kak Panji nembak, harus aku terima malam ini.


"Kak Panji...," sapa Dira.

__ADS_1


"Ya, Dira? Kamu suka gak tempatnya?" tanya Panji. "Tapi, sayangnya masih ada yang kurang, Dir."


"Ya tentu suka dong, Kak. Ini bagus banget," jawab Dira. "Apa yang kurang emangnya?"


"Hati aku masih kosong, Dir. Semoga setelah ini, kamu yang mengisi kekosongan hati aku."


Duh, ini ni yang bikin gak kuat. Gimana ni aku jadi gugup, kaku lagi.


Panji pun menyuruh Dira untuk duduk dibangku yang berhadapan dengannya. Arsan dan Sela mengintai mereka melalui ruang cctv, sebelumnya Panji sudah meminta izin kepada pihak restoran agar kedua temannya itu memantau lewat cctv.


Aurel dan Davin menyusul masuk ke ruangan itu secara diam-diam. Mereka berjalan ke arah dapur mengikuti pelayan yang sedang menyiapkan minuman, tiba-tiba Aurel dan Davin mencegat pelayan itu. Mereka meminjam atribut yang dipakai, dan meminta minuman itu mereka yang hidangkan. Lalu, Aurel memberikan sebuah amplop berisikan uang.


"Ta... Ta.. Tapi..." balas salah satu pelayan dengan terbata-bata.


"Sudah, kami hanya ingin memberi kejutan untuk teman. Boleh kita pinjam baju yang kalian pakai?" tanya Aurel sambil menyodorkan amplop.


Pelayan pun menganggukkan kepala. Minuman itu diberi garam oleh Aurel. Setelah selesai, mereka lalu berjalan menuju ruangan Panji dan Dira.


"Silahkan dinikmati hidangannya," ucap Aurel sambil meletakkan gelas dihadapan mereka.

__ADS_1


"Kalian pasangan yang beruntung malam ini, mendapatkan minuman spesial di restoran kami," sambung Davin.


Panji merasa curiga dengan suara salah satu pelayan itu. Setelah menaruh kedua minuman, pelayan itu pum segera keluar dari ruangan itu.


"Rasain kamu, Dir. Minum tu air garam...," lirih Aurel sambil tersenyum.


"Bentar lagi giliran Panji yang akan menerima gilirannya, kalian gak akan bisa jadian malam ini. Lihat saja!!" sambung Davin.


Saat Dira ingin minum, Panji menghentikannya.


"Stop, Dira!!" ucap Panji. "Kamu mending minum punya aku saja."


"Loh, kenapa, Kak?" tanya Dira. "Bukannya sama saja, Kak?"


"Biar aku yang cicip minuman itu, ini kamu minum punyaku," jawab Panji sambil menyodorkan minuman yang ia punya.


Saat Panji mencicipi minuman itu ternyata rasanya begitu asin. Panji begitu kesal, dan kecurigaan ia benar. Bahwa pelayan tadi adalah Aurel.


Dugaan aku benar, tadi itu Aurel. Kayaknya aku harus mengabari Arsan. Batin Panji.

__ADS_1


Panji mengambil ponselnya, lalu mengirimkan pesan via whatsapp ke Arsan untuk mencegah kedua bedebah itu.


__ADS_2