Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 55


__ADS_3

Begitu sampai di depan pagar rumah, Dira pun segera turun. Panji penasaran apa yang sedang terjadi di sekolah saat jam pulang tadi.


"Dir, kenapa sih tadi Aurel nyari kamu?" tanya Panji.


"Anu ... itu ... Kak Aurel ...," lirih Dira dengan wajah ketakutan.


"Ayolah cerita, kamu seperti ketakutan gitu," ucap Panji. "Kenapa sih sebenarnya?"


"Udahlah Kak, gak penting juga kok. Cuma nanyain Kak Panji doang, hehehe," jawab Dira dengan tertawa kecil.


Kalau aku ceritakan, bisa makin rumit. Yang ada ntar Kak Panji ngelabrak Kak Aurel lagi. Habislah sudah aku.


"Dir, aku ..."


Eh, jangan-jangan Kak Panji mau bilang suka sama aku. Terus kita bakalan jadian, ah bisa gila aku ni.


Dira senyum-senyum saat Panji ingin mengeluarkan kalimat yang sedang ia harapkan. Dira membayangkan ketika Panji menjadi pacarnya, mereka berdua di sekolah selalu menjadi sorotan para siswa. Tiba-tiba saja, Panji mengejutkan Dira dengan kalimat yang membuatnya tersadar dari halusinasi itu.


"Dira, aku pamit dulu. Kamu jangan kecapekan, banyak istirahat, sama makan yang banyak, ya...," ucap Panji.


Hah? Kak Panji ngomongin apa barusan? Harusnya dia nembak aku. Haaa, ternyata aku cuma mimpi tadi. Kesel ah.


"Oh ya, jangan sering bengong. Ntar kesambet setan cinta, kan jadi susah aku nolongin kamu...," bisik Panji dengan candaan.


"Ih, Kak Panji iseng banget," jawab Dira sambil memukul pelan pundak Panji. "Awas ya, besok Dira bales loh!!"


Panji pun berjalan kearah sepeda motornya, dan segera melanjutkan untuk pulang. Dira segera masuk ke dalam rumah lalu menuju kamar untuk mengganti seragamnya. Setelah selesai, ia merebahkan tubuhnya diatas kasur sambil memikirkan Panji.


"Kenapa setiap ngeliat wajah Kak Panji, rasanya nyaman banget. Terus, kenapa jantung suka berdebar gak karuan gitu. Kan aku jadi malu, apalagi kalau Kak Panji udah natap mata aku. Duh, gak kuat ...," gumam Dira.

__ADS_1


Tiba-tiba Mama mengetuk pintu kamar Dira. Ia pun segera berdiri dan membukakan pintu. Ternyata, Mama memberitahu bahwa akan ada tamu Papa nanti malam. Dira hanya menganggukkan kepala dengan apa yang Mama ceritakan padanya, hingga membuat Dira kaget akan kalimat terakhir yang Mama lontarkan.


"Dira, Papa bakal jodohin kamu dengan anak Om Johan, dia Manager Papa kamu ...," lirih Mama.


"Apa? Jodohin?" tanya Dira dengan sedikit keras. "Mama jangan bercanda gitu dong, Dira gak suka tau, Ma..."


"Mama serius sayang, Mama juga gak tau yang mana orangnya. Mama pasti akan berusaha nolak perjodohan itu," ucap Mama sambil tersenyum.


Mama pun pergi meninggalkan Dira. Ia masih penasaran dengan pria yang akan dijodohkan dengannya. Perasaan Dira saat itu kesal, juga sedih. Ia sangat tidak suka dengan yang namanya perjodohan. Dira pun kembali ke dalam kamar.


Apa-apaan ini, pasangan pun mesti diatur. Aku ini bukan anak kecil lagi. Aarrggghhh!!


Jam menujukan pukul 19.00 WIB, Dira sudah bersiap-siap untuk bertemu dengan pria yang akan dikenalkan oleh Papanya. Dira pun mengambil tempat duduk disebelah Mama, dengan sedikit kegelisahan yang mulai muncul membuat Papa curiga.


"Kamu kenapa gelisah, Dira?" tanya Papa. "Dia cowok yang baik, kok."


"Pa, Dira gak suka di jo ..."


"Hah, Kak Davin...," lirih Dira.


"Dira ...," ucap Davin. "Ternyata kamu orangnya, syukurlah."


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Om Johan dengan wajah bingung.


"Ya, Pa. Indira ini adik kelas Davin di sekolah, tentu aja Davin kenal," jawab Davin dengan senyuman.


"Baguslah kalau kalian saling kenal," sambung Papa. "Ayo, silahkan duduk!!"


Ini beneran gila, kenapa coba Papa harus jodohin aku dengan Kak Davin. Sebel banget, sampai kapan sifat ego Papa berubah!!

__ADS_1


Papa dan Om Johan pun asyik bercerita masalah saham di perusahaan mereka, sementara Dira hanya duduk termenung memandangi wajah Papanya dengan penuh kekesalan. Dira pun berdiri dari sofa itu, lalu berjalan ke arah teras rumahnya. Davin segera pun menyusul Dira.


"Dira...," sapa Davin. "Kamu gak suka, ya?"


"Tentu!! Dira gak suka dijodohin kayak begini. Dira udah besar, bisa kok nyari pasangan sendiri," ucap Dira dengan penuh kekesalan. "Kak Davin ngapain ngikutin Dira?"


"Maaf, kalau aku hadir dikehidupan kamu, Dira. Apa salahnya kita kenal lebih dekat? Toh kita juga satu sekolahan, kan," jawab Davin meyakinkan Dira.


Dira pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu menghubungi Panji melalui via whatsapp.


[Dira : Kak, Dira mau ketemu malam ini. Di cafe biasa ya...]


[Panji : Oke siap bos...]


Dira pun bergegas berjalan menuju pagar, Davin yang melihatnya langsung mengejar Dira.


"Dira, tunggu!!" teriak Davin.


Dira menghentikan langkahnya sejenak, ia pun membalikkan badan kearah Davin. Tak lama kemudian, Dira melanjutkan langkah kakinya menuju pagar, segera ia buka pintu itu kemudian Dira berjalan untuk menemui Panji ke sebuah cafe tempat mereka biasa nongkrong. Begitu sampai, ia melihat Panji tengah menunggu, Dira pun segera menghampirinya.


"Dir, tumben jam segini ngajakin jumpa. Ada masalah, ya?" tanya Panji. "Mata kamu merah habis nangis? Kamu kenapa, Dira?"


"Dira gak bisa terima perjodohan ini, Kak ...," lirih Dira sambil meneteskan air mata.


"Perjodohan? Maksudnya? Dira, cerita sama aku," tutur Panji sambil menarik tangan Dira.


"Davin ...," lirihnya.


"Kenapa dengan si Davin? Kenapa dia? Dia mengganggu kamu? Atau ngancam kamu?" tanya Panji dengan wajah cemas.

__ADS_1


"Kak, Dira dijodohin sama Papa. Dan cowok yang akan dijodohin ke Dira itu Kak Davin...," lirih Dira.


Panji yang mendengar ucapan Dira tersentak kaget, ia langsung berdiri dan menghentakkan meja. Panji merasa kesal dengan kalimat yang barusan Dira lontarkan itu.


__ADS_2