
Hari ini hari Ujian Nasional bagi siswa kelas XII. Panji dan Davin berangkat ke sekolah bersama. Setibanya di parkiran, mereka langsung berjalan ke ruang ujiannya. Bel masuk berbunyi, ujian segera dimulai.
"Vin, ntar kamu jangan pulang duluan, ya," ucap Panji.
"Oke, aman," jawab Davin.
Ujian pun dimulai, pengawas membagikan lembar jawaban beserta soal ujian. Saat Panji hendak mengerjakan soal, ponselnya bergetar. Ia segera mengeluarkan ponsel secara hati-hati agar tak ketahuan oleh pengawas. Ternyata pesan dari asisten Papanya yang mengirim pesan itu.
"Apa-apaan ini," ucap Panji.
"Ada masalah apa, Panji?" tanya pengawas.
"Ti ... tidak ada, Buk," jawab Panji.
Sialan, berani sekali mereka mengancamku.
Bel berbunyi, ujian pun berakhir. Seluruh siswa yang berada didalam ruangan itu mengumpulkan lembaran dan soal ujian ke meja pengawas. Davin melihat Panji begitu buru-buru, ia pun menghampirinya.
"Panji, kamu kok buru-buru banget," ucap Davin sambil berjalan kearah meja Panji.
"Vin, tadi aku dapat pesan dari asisten Papaku, aduh ini gilak. Si Aurel nekat banget biar aku tu jauh dari Dira," tutur Panji.
"Hah? Apa lagi yang dibuat si Aurel? Gak ada habisnya tu anak, demen amat ngerusakin semuanya," balas Davin.
Panji menunjukkan isi pesan itu ke Davin. Alangkah terkejutnya Davin saat membaca pesan itu.
"Memang ya si Aurel, nekat banget ngelakuin itu. Bawa-bawa orang tua segala lagi, ngancam-ngancam lagi biar perusahaan bangkrut," ungkap Davin dengan emosi.
"Aku gak bisa tinggal diam, Vin," ucap Panji.
"Kamu tenang aja, Aurel gak akan bisa jauhin kamu dari Dira," balas Davin.
Panji dan Davin pun berjalan menuju parkiran, terlihat dikejauhan Aurel sedang menelepon. Panji diam-diam menguping perbincangan Aurel. Betapa kagetnya Panji saat mengetahui rencana jahat Aurel.
"Vin, Aurel bakal meneror Dira. Pokoknya ini gak boleh terjadi, Vin," ucap Panji.
__ADS_1
"Neror gimana?" tanya Davin. "Aku heran dengan Aurel, kenapa dia segitunya kali ngejar kamu."
"Tadi dia nyuruh anak buah Papanya buat ngancam Dira, Vin," jawab Panji. "Yang jelas emang sebelum dekat Dira, aku tu sering sama dia, ya karna dia kan anggota OSIS juga, cuma dia baper ya gitu."
"Kesel juga ya. Tenang, aku bakal bantuin kamu, Panji," balas Davin. "Eh, kita ikutin aja tu si Aurel."
Mereka pun melanjutkan perjalanan untuk membuntuti Aurel. Ternyata Aurel berhenti disuatu toko bunga. Panji dan Davin heran, mereka pun menunggu sampai ia keluar dari toko itu. Begitu Aurel keluar, mereka menutup kaca helmnya agar tak ketahuan. Mereka melanjutkan perjalanan mengikuti kemana arah tujuan Aurel. Ia kemudian berhenti disuatu rumah, ntah rumah siapa itu. Panji curiga, bahwa itu adalah rumah mantannya yang bernama Nadine.
"Vin, aku kayak kenal sama alamat ini. Nah, benerkan. Ini rumah Nadine, mantan aku," ucap Panji dengan sedikit panik.
"Serius? Jangan-jangan mereka kerjasama," jawab Davin.
Tiba-tiba, ada dua wanita keluar dari pintu samping rumah itu sambil berjalan kearah mobil. Panji kaget, apa yang ia pikirkan didalam otaknya semua benar. Aurel sedang bersama Nadine.
"Kan, bener, Vin. Tuh, itu Nadine ...," lirih Panji. "Kita gak boleh biarin mereka buat Dira makin sakit."
"Kenapa jadi rumit gini, ya. Ini karna ulah Aurel yang masih sakit hati sama Dira," tutur Davin.
Panji dan Davin pun mengikuti kemana arah dua wanita itu pergi. Davin merasa ada yang tidak beres, karena Aurel dan Nadine menuju Rumah Sakit tempat Dira dirawat.
"Kita harus cegat mereka, Vin. Aku gak mau Dira kenapa-kenapa," jawab Panji dengan kesal.
"Sabar, Panji. Kita jangan langsung ngelabrak mereka. Kita selidiki ini semua," balas Davin sambil menahan emosi Panji.
"Kamu harus minta bantuan anak buah Papa kamu, Vin. Buat susul mereka nanti. Kita harus tanyain ini ke dokter itu, dan harus tau apa rencana mereka," tutur Panji.
Davin mengambil ponsel dari saku celana, lalu segera menghubungi anak buah Papanya. Setelah selesai, mereka diam-diam masuk ke dalam Rumah Sakit dengan menyamar.
"Untung kita ada sediain si jaket sama topi ini, jadi gak ketahuan sama cewek sialan itu," ucap Panji.
"Buruan, Nji. Nanti ketinggalan jejak mereka," balas Davin.
Panji dan Davin perlahan-lahan berjalan mengikuti dua wanita itu. Dan benar, mereka masuk ke dalam ruangan saat Dira chek-up. Panji secepat kilat mengambil posisi untuk menguping pembicaraan mereka di dalam ruangan itu. Sedangkan Davin sibuk menghubungi anak buah lainnya untuk datang ke alamat rumah Dira. Tiba-tiba saja, Aurel membuka pintu, Panji pun kaget dan pura-pura membenarkan tali sepatunya agar tak dicurigai oleh Aurel. Saat Nadine berjalan melewati Panji, ia menghentikan langkah kakinya. Nadine merasa seperti mengenali pria itu.
"Kamu ... kayak gak asing," ucap Nadine.
__ADS_1
Aduh, bakal ketahuan nih.
Nadine pun jongkok untuk memastikan siapa pria berjaket dan bertopi hitam itu. Saat ia hendak membuka topinya, Aurel berteriak memanggil Nadine. Ia pun segera berdiri.
"Nadine!!" teriak Aurel.
"Eh, ya, Rel. Sebentar," jawab Nadine lalu meninggalkan Panji.
Hampir saja ketahuan si Nadine. Sumpah, jantung udah dag dig dug aja.
Davin pun menyusul Panji. Ia melihat wajah Panji bercucuran keringat. Davin sedikit tertawa meledeknya.
"Eh, kamu kenapa sampai keringatan gitu?" tanya Davin.
"Gilak, aku hampir ketahuan si Nadine tau," jawab Panji.
"Oh, ketemu si mantan tadi, haha," ucap Davin meledek Panji.
"Apaan sih, kalau ketahuan kan bahaya," balas Panji sambil mengelap wajahnya dengan tisu.
"Mereka pasti ke rumah Dira tu, aku udah suruh anak buah Papaku untuk memantau mereka disana. Sekarang kita harus tanyain ke Dokter, apa yang mereka bahas tadi," tutur Davin.
Mereka berdua pun masuk ke ruangan itu untuk mencari informasi.
"Dokter, kita mau nanyain sesuatu," ucap Davin.
"Ya, mau tanya apa?" tanya Dokter dengan senyuman.
"Dok, kita ini orang terdekat Indira, pasien Dokter yang sedang mengalami hilang ingatan. Dan dua cewek tadi itu adalah musuhnya Dira, mereka ingin Dira itu lebih parah penyakitnya," ucap Panji menjelaskan ke Dokter itu.
"Mereka tidak menyuruh apa-apa," balas Dokter.
"Kenapa Dokter mau disuap sama mereka? Kasihan pasien Dokter, dia itu korban. Bahkan sampai dia hilang ingatan itu karna cewek sialan tadi," tutur Davin.
"Dokter, tolong jelaskan. Mereka merencanakan apa? Dan tolong jangan ikuti kemauan mereka, kasihan Dira, Dok. Tolong ...," sambung Panji. "Saya sangat sayang sama Dira, Dok."
__ADS_1
Dokter pun termenung saat mendengar ucapan Panji dan Davin yang mencoba membujuknya. Akhirnya, Dokter itu pun membuka mulut, dan menjelaskan semuanya kehadapan mereka.