
Bel istirahat berbunyi, Dira dan dua sahabatnya bergegas menuju kantin. Ditengah perjalanan, Davin menghadang Dira yang sedang asyik bercanda dengan Arsan dan Sela. Dira pun menghentikan langkahnya. Davin memberi sebuah bingkisan ke Dira, tapi ia menolak pemberian dari Davin saat itu.
"Dira, ini buat kamu," ucap Davin sambil menyodorkan bingkisan yang ia pegang.
"Gak usah, Kak. Dira gak mau berhutang pada Kak Davin, makasih sebelumnya atas niat baik Kak Davin," jawab Dira.
"Tapi, Dir...," lirih Davin.
Dari kejauhan Panji melihat aksi Davin yang berusaha mengambil hati Dira. Kemudian, Dira pun melanjutkan langkah kakinya menuju kantin bersama Arsan dan Sela. Panji segera menghampiri Davin yang masih berdiri di sana.
"Yang sabar ya, aku tau Dira anak yang tidak mudah tergiur akan sogokan. Bye...," tutur Panji.
"Dasar perusuh!! Lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk memisahkan kalian berdua. Aku gak akan tinggal diam!!" ucap Davin dengan kesal.
Panji berlari mengejar Dira yang sedang menuju kantin. Begitu sampai di kantin, Panji mencari keberadaannya, ternyata Dira sedang asyik mengobrol bersama kedua sahabatnya. Panji pun ikut nimbrung diantara mereka.
"Hei, boleh aku gabung?" tanya Panji.
"Boleh ... boleh ...," jawab Sela.
"Eh, Kak Panji. Silahkan duduk...," sambung Dira dengan senyuman.
"Dir, jadi gimana kamu dengan Davin? Kalau dia ngancam kamu, beritahu aku," ucap Panji. "Kamu tau kan, dia itu pintar mencari muka."
Dira menganggukkan kepala sambil memberikan senyuman ke Panji. Tiba-tiba saja, Aurel datang menghampiri Dira dan Panji lalu memotong pembicaraan serius mereka saat itu.
"Ngomong-ngomong, kamu dijodohin ya Dir sama si Davin? Wah, kelihatannya kalian sangat cocok, apalagi kalau satu sekolah tau. Bakal jadi pasangan top kalian, selamat ya, Dira...," ucap Aurel dihadapan Dira dan Panji.
__ADS_1
"Tidak semudah itu mereka bisa jadian!!" bentak Panji.
"Loh, kok kamu emosi gitu, Panji? Kenapa? Kamu gak suka? Kamu siapanya Dira?" tanya Aurel. "Pacar juga bukan."
Situasi di kantin makin panas saat Aurel ikut datang mencampuri masalah Dira saat itu. Dira pun berdiri dan segera pergi meninggalkan tempat itu, Arsan dan Sela bingung melihat ekspresi Dira yang bimbang dengan masalah yang dihadapinya. Panji pun ikut menyusul Dira.
"Dira!! teriak Panji.
Dira membalikan badan kearah belakang, Panji berjalan mendekati Dira. Lalu, ia menarik tangan Dira.
"Dira, kamu tau perasaan aku saat ini? Aku sudah lama menyukaimu, maaf kalau selama ini aku telat ungkapin ke kamu...," ucap Panji dengan menatap mata Dira.
Ini bukan mimpi kan? Serius Kak Panji juga suka sama aku? Dira, kenapa hidupmu serumit ini...
Dira diam tak mengeluarkan sepatah kata pun saat itu. Lalu, ia pun pergi meinggalkan Panji. Tanpa sengaja, Aurel dan Davin mendengar ungkapan perasaan Panji ke Dira. Mereka berdua pun merasa kesal, akhirnya Davin dan Aurel pun merencanakan sesuatu untuk memisahkan Dira dan Panji.
"Apa yang akan kamu lakukan, Rel?" tanya Davin.
Arsan dan Sela menyusul Panji yang masih berdiri di gerbang menuju kantin. Mereka segera memberikan semangat ke Panji agar tetap terus bersama Dira.
"Kak Panji, Dira itu juga suka sama Kak Panji. Percayalah, kalian pasti bisa bersama. Dira sedang ada masalah, makanya sikapnya dingin. Kak Panji harus tetap berada disamping Dira, harus!!!" ujar Sela sambil tersenyum.
"Semangat bro!! Dira tetap milik kamu, urusan Davin dan Aurel kita yang akan beresin mereka berdua...," sambung Arsan.
Panji pun mengangguk dan melontarkan senyuman, walaupun dirinya sedang emosi melihat kelicikan Davin dan Aurel. Lalu mereka bertiga pun berjalan menyusul Dira. Awalnya mencari ke perpustakaan, tapi sayangnya Dira tak ada di sana. Lalu, kembali menyusuri ke kelas, terlihat Dira sedang menutup wajahnya dengan buku pelajaran. Panji tak bisa berkata-kata, ia pun berniat untuk kembali ke kelas.
Dira, maaf aku telat ungkapin perasaanku ini ke kamu. Tapi, aku akan tetap berjuang dan melindungi kamu, Dira. Sampai kapan pun, rasa sayangku ini tak akan berkurang.
__ADS_1
"Sela ... Arsan ... aku balik ke kelas, ya. Tolong jagain Indira, kalau ada apa-apa whatsapp aja. Aku tau, Dira pasti terpukul banget jadi aku gak mau ganggu dulu. Bye...," lirih Panji.
"Ya, Kak. Kita pasti bantuin Kak Panji, kok," jawab Sela.
Arsan dan Sela pun masuk ke dalam kelas, mereka berjalan mendekati Dira. Tapi, tetap saja Dira tak membuka wajahnya yang ia tutup dengan buku. Bel masuk berbunyi, akhirnya, dua sahabat Dira pergi kebangku masing-masing. Dira pun membuka buku yang menutupi wajahnya itu. Saat jam pelajaran dimulai, Dira diam-diam mengeluarkan ponselnya lalu meletakkan ke dalam kotak pensil. Sambil mendengar penjelasan dari Bu Guru, Dira mengirimi pesan via whatsapp ke Panji.
[Dira : Kak, mata pelajaran apa?]
Di kelas, Panji tak memperhatikan guru yang sedang menerangkan pelajaran di depan kelas. Tiba-tiba ponselnya bergetar, ia mengambil dari saku celananya. Ternyata pesan itu dari Dira, dengan semangat ia membaca dan membalasnya.
[Panji : Pelajaran Fisika, Dir. Kamu marah ya sama aku?]
Ponsel Dira kembali bergetar, ia lupa mematikan getaran saat jam pelajaran. Hampir saja ia ketahuan bermain ponsel. Dira menghela nafas, ia mematikan getar dan nada diponselnya agar tak berbunyi saat jam pelajaran. Lalu Dira membuka pesan dari Panji dan membalas kembali pesan itu.
[Dira : Gak marah kok, Kak. Cuma lagi kesel aja ... Dira mau permisi nih, ketemu di perpus yuk, Kak. Bete banget ...]
Setelah mengirim pesan, Dira berdiri dari bangku untuk permisi ke kamar mandi. Bu Guru pun mempersilahkan, dengan semangat Dira keluar kelas menuju perpustakaan. Baru saja melewati lapangan basket, Dira bertemu dengan Panji. Akhirnya, mereka jalan bersamaan menuju perpustakaan.
"Loh, kok bisa samaan, ya," ucap Dira.
"Ya gak tau, kamu kali yang buntuti aku. Ayo ngaku, hahaha," balas Panji dengan tertawa.
Sesampainya di perpustakaan, mereka hanya duduk di depan sambil bercerita. Tiba-tiba, dari kejauhan Rena melihat Dira sedang asyik mengobrol dengan Panji. Dengan secepat kilat, ia langsung memgambil foto mereka yang sedang berduaan itu, lalu mengirimkannya ke Aurel. Setelah lima menit mengobrol, Dira dan Panji berniat untuk balik ke kelas.
"Dira, sebelum ke kelas, aku mau bilang sesuatu ke kamu ...," lirihnya.
"Apa tu, Kak?" tanya Dira.
__ADS_1
"Aku selalu ada buat kamu, kapan pun di mana pun," bisik Panji ditelinga Dira.
Dira tersenyum mendengar ucapan Panji, lalu ia berjalan menuju kelasnya untuk mengikuti pelajaran kembali.