
Suara kicauan burung dan alarm bersatu membangunkan Dira dari mimpi indahnya. Ia langsung bergegas untuk bersiap-siap berangkat sekolah. Firasat Dira saat itu bahwa akan terjadi sesuatu di sekolah, semenjak Davin mengirimkan surat membuatnya menjadi cemas. Setelah selesai mengganti bajunya dengan seragam sekolah, Dira langsung berjalan ke teras rumah sambil membawa sepotong roti dan segelas susu.
Kenapa diotakku terbayang isi surat semalam, semoga gak terjadi apa-apa di sekolah.
Setelah menghabiskan sepotong roti dan segelas susu, Dira melanjutkan untuk memakai sepatu. Tiba-tiba terdengar suara klakson sepeda motor dari arah luar pagar, Dira bisa menebak siapa orang itu.
"Sabar woy sabar, bising banget. Gak usah ngegas juga ngelaksonnya!!" ucap Dira menggerutu.
Saat Dira membuka pintu pagar, dan benar orang itu adalah Davin. Wajah Dira spontan berubah menjadi cemberut. Saat hendak menaiki sepeda motor, Davin sedikit menggoda Dira.
"Eh, tunggu dulu!!!" ujar Davin menahan Dira agar tidak naik.
"Kenapa? Gak usah bertingkah aneh deh, Kak. Dira males ...," lirihnya.
"Cuma minta kamu buat senyum, jangan cemberut gitu. Jelek tau," ucap Davin.
Bodo amat, ni orang kok ngeselin banget.
Dira memaksakan senyum dihadapan Davin yang memaksanya. Kemudian, ia segera naik keatas motor. Diperjalanan, Davin berusaha untuk membuat Dira senyaman mungkin. Tapi, tetap saja tak ada yang mampu mengalahkan kenyamanan yang diberikan oleh Panji. Begitu sampai di parkiran, Dira turun dari motor itu. Saat itu, murid yang berada di sana lumayan ramai. Semua mata tertuju ke Dira, karena hari ini ia bersama Davin bukan Panji.
"Eh, itu Davin kan, ganteng banget. Tapi, kok sama Dira, ya ..."
"Dira kelewatan, semua cowok dideketin ...,"
"Bukannya Dira pacaran sama Panji, kok malah pergi bareng Davin. Gak beres tu anak ..."
"Tampang aja cupu, kelakuan aslinya kayak gitu ..."
Begitulah desas-desus dari sebagian murid yang menceritakan wanita bertubuh mungil itu. Dira menahan sakit hatinya, dengan penuh kekesalan ia meninggalkan Davin yang masih duduk diatas motornya.
Ini bakal jadi gosip di sekolah, lelah tiap hari ngadapi situasi seperti ini. Semua karena ulah Davin sialan itu!!!
Dira baru saja sampai di depan pintu kelas, ia mengingat perkataan yang didengar saat di parkiran tadi, matanya berkaca-kaca. Dira berusaha menahan air matanya agar tak jatuh membasahi pipi. Arsan baru saja datang, tanpa sadar ia melewati Dira yang berdiri di depan pintu. Tiba-tiba Arsan meghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Itu mirip Dira, atau jangan-jangan emang Dira?"gumamnya.
Arsan membalikkan badan, ia berjalan ke arah pintu kelas untuk memastikan siapa yang berdiri itu. Ternyata benar itu adalah Dira. Arsan melihat wajah Dira tampak sedih, ia pun memintanya untuk bercerita.
"Dira, kamu ngapain di depan pintu? tanya Arsan. "Kamu ada masalah lagi? Yuk duduk dulu, cerita sama aku ..."
"Arsan ...," ucap Dira sambil merengek. "Aku digosipin lagi gara-gara pergi bareng Davin, aku capek jadi bahan omongan di sekolah."
"Ya udah, ayo kita ke kelasnya si Davin. Semenjak ada dia semuanya jadi ricuh, pengen aku hajar aja dia," ucap Arsan lalu berjalan ke arah pintu kelas.
"Eh, jangan. Gilak kamu ni, Ar. Yang ada ntar kamu dipanggil ke ruang BK," jawab Dira sambil menarik tangan Arsan agar tak melanjutkan langkahnya. "Atau lebih baik aku pindah sekolah aja kali, ya ..."
"Ngomong sekali lagi, Dir ... ngomong!!!" ucap Arsan dengan kesal.
Arsan mengejar Dira yang berlari mengelak cubitannya, ia kesal karena Dira mengatakan akan pindah sekolah. Sedang asyik bercanda, Sela pun datang. Ia heran melihat kedua sahabatnya kejar-kejaran di dalam kelas.
"Dira!!! Arsan!!!" teriak Sela.
"Eh, tumben kamu lama datangnya, Sel," ucap Dira lalu menghampiri Sela.
"Si Dira ngomong katanya mau pindah sekolah, Sel," jawab Arsan. "Ni anak minta disentil emang, awas ya kamu, Dir."
Sela pun tertawa melihat tingkah sahabatnya itu. Bel masuk pun berbunyi, Dira dan Arsan menuju bangkunya. Sambil menunggu guru datang, Dira menanyakan kabar Panji melalui pesan whatsapp. Ia begitu bersemangat saat mengambil ponselnya. Belum sempat Dira mengirimkan pesan ke Panji, Bu guru datang dan pelajaran pun dimulai. Dira tak berkonsentrasi saat belajar, ia mencoba memejamkan mata agar semua permasalahan itu hilang.
Aku ingin, perjodohan ini dibatalkan. Aku ingin namaku dibersihkan dari gosip yang berdar. Aku ingin bahagia bersama cinta pertamaku ...
Saat Dira memejamkan mata, Bu guru memanggil namanya untuk segera mengerjakan soal matematika di papan tulis. Tapi, Dira tak mendengarnya saat itu. Bu guru kembali memanggil namanya dengan sedikit berteriak.
"Indira!!" teriak Bu guru.
Dira tersentak kaget, ia langsung membuka matanya dan mengarahkan pandangan ke Bu guru.
"Saya, Buk ...," jawab Dira sambil mengacukan tangan keatas.
__ADS_1
"Kamu lagi mengkhayal apa, Dira?" tanya Bu guru. "Dua kali Ibuk panggil, kamu malah pejamkan mata. Fokus ke pelajaran dulu, kerjakan dipapan tulis nomor satu yang ada dihalaman 50."
Dira pun tertunduk malu, ia berdiri dan berjalan menuju papan tulis untuk mengerjakan soal matematika itu. Cuma membutuhkan waktu tiga menit, Dira dapat menyelesaikan. Lalu, ia pun kembali ke bangkunya. Bel istirahat pun berbunyi, Dira bersemangat untuk segera menemui Panji. Arsan dan Sela menghampirinya, mereka heran dengan sikap yang tadinya cemberut berubah menjadi bahagia, seperti mendapatkan uang kaget.
"Tadi cemberut, sekarang senyum-senyum. Aneh ni anak kesambet apaan cobak," ucap Arsan.
"Eh, emang kenapa mau pindah sekolah, Dir?" tanya Sela.
"Kamu gak tau? Aku habis digosipin sama satu sekolahan, dikatain cewek gak bener, banyak deh pokoknya. Aku gak betah tau ...," lirih Dira kembali memasang wajah cemberut.
"Mereka kan gak tau gimana kejadiannya, ngapain dipikirin, Dira sayang ...," balas Sela.
Dira pun memeluk Sela, lalu mengajak untuk menemaninya mengahampiri Panji. Sela pun mengangguk, Arsan mematung karena Dira tak mengajaknya saat itu.
"Eh, ayo Arsan!!" ajak Dira. "Jangan merajuk, udah jelek tambah jelek lagi."
"Emang ya, ni anak ngeselin," ucap Arsan sambil mencubit pipi Dira.
Akhirnya mereka bertiga bergegas mencari Panji ke kelasnya. Pada saat mereka hampir sampai, terlihat Panji sedang berduaan bersama Aurel. Dira kembali memasang muka masam.
"Nah, cemburu dia," ucap Arsan meledek Dira.
"Arsan!!" bentak Sela. "Suka banget isengin Dira."
"Jangan salah paham dulu, kita lihat aja ngapain mereka berduaan," sambung Arsan.
Saat Aurel pergi, Dira dan dua sahabatnya menghampiri Panji. Dira memperlihatkan rasa cemburunya saat itu dihadapan Panji.
"Diam-diam berduaan sama mantan gebetan, so sweet ...," lirih Dira.
"Kamu cemburu, Dira? Cieee, makin cantik kalau si Dira cemburu," jawab Panji menggoda Dira.
Sela dan Arsan tertawa melihat kelakuan sahabatnya yang sedang cemburu buta itu.
__ADS_1
"Ini ya, aku jelasin. Aurel kan anggota OSIS, jadi dia nanya kapan rapat pertandingan olahraga di sekolah, karena belum bentuk panitia sampai hari ini, gitu loh Dira sayang ..." tutur Panji.
Dira pun menatap mata Panji, mulutnya melengkung membentuk senyuman manis yang membuat Panji tak bisa jauh darinya. Mereka pun melanjutkan untuk ke kantin.