Kisah Di Sekolah

Kisah Di Sekolah
Bab 62


__ADS_3

Bel masuk berbunyi, Davin yang masih duduk di kantin menunggu Dira tak kunjung juga kembali. Ia kesal lalu berdiri dari bangku itu sambil melihat dihapadannya ada Rena membuat Davin bertambah marah.


"Mana Indira? Kok kamu yang di sini, Rena?" tanyanya dengan raut wajah kesal.


"Bukannya dia ke kamar mandi," jawab Rena. "Eh, kok aku malah duduk di sini, ya ..."


"Dira!!! Beraninya kamu bohongin aku!!!" ungkap Davin dengan nada marah sambil menghentakkan meja.


Rena kaget saat Davin menghentakkan meja, ia pun berdiri lalu pergi meninggalkan tempat itu. Davin berjalan menuju kelas dengan rasa penuh kekesalan. Ia mengeluarkan ponselnya lalu mengirim pesan via whatsapp ke Dira saat itu juga.


[Davin : Dira, kamu beraninya mempermainkan aku!!]


Dira dan dua sahabatnya berjalan menuju kelas. Baru sampai di depan pintu kelasnya, tiba-tiba ponsel Dira bergetar, dengan cepat ia membukanya. Ternyata ada pesan masuk via whatsapp dari Davin.


"Duh, gimana nih ... Davin marah banget sama aku, Sel, Ar ...," lirihnya.


"Tenang, Dir. Kita bakal lindungi kamu dari cowok songong itu," jawab Sela. "Ya kan, Ar?"


"Tentu dong, aku siap baku hantam sama Davin, Dir. Demi kamu sahabatku tersayang," ucap Arsan.


"So sweet, hahaha," balas Dira dengan tertawa. "Jadi aku jawab apa ni pesan dari si Davin? Apa aku alasan aja tadi dipanggil Buk Ana?"


"Nah, boleh juga tu, Dir. Bilang aja mendadak gitu, disuruh bantu ngoreksi ulangan kelas kita," jawab Sela.


Dira pun membuka whatsappnya, lalu membalas pesan dari Davin.


[Dira : Kak Davin, Dira gak mainkan Kakak kok. Tadi Dira emang ke kamar mandi, pas Dira keluar Buk Ana manggil buat bantu ngoreksi ulangan kelas. Terserah kalau gak percaya.]


Nah, beres. Uh, dasar cowok aneh. Siapa kali sih ngatur-ngatur.


Dira melanjutkan untuk masuk ke dalam kelas, karena Bu Guru sedang menuju kelas mereka. Begitu sampai kelas, mereka langsung menuju bangku masing-masing untuk mengikuti pelajaran. Pada saat jam belajar dimulai, Dira melamun membayangkan saat bersama Panji. Buk Ana meminta Dira untuk membantu menyalin nama murid kelas X.1, tapi saat Dira dipanggil ia tak menjawab. Buk Ana pun akhirnya datang menghampiri Dira ke tempat duduknya.

__ADS_1


"Indira ...," sapa Buk Ana sambil memegang pundak Dira.


"Ya, Kak Pan ... Ma ... maksud Dira, ya Buk Ana," jawab Dira dengan terbata-bata.


Duh, bikin malu aja kamu, Dira. Hampir aja keceplosan.


"Panji terus!!!" teriak Arsan.


Semua murid di dalam kelas tertawa. Dira tertunduk malu mendengar ucapan Arsan. Buk Ana memberikan buku absensi itu ke Dira.


"Kamu pacaran dengan Panji, ya Indira?" tanya Buk Ana.


"Ti ... tidak Buk, Arsan kalau ngomong suka ngasal, hehehe," jawab Dira sambil tertawa kecil.


"Gak apa kok, Panji anaknya baik, disiplin, sopan juga. Cocok kalian," ucap Buk Ana dengan senyuman. "Ya udah, bantu Ibuk salin nama-nama kelas X.1 ini ya, kebuku absensi yang baru."


"Ibuk bisa aja," balas Dira dengan senyuman kembali. "Baik, Buk Ana."


Dira mulai mengerjakan perintah Buk Ana saat itu juga, dalam waktu sepuluh menit ia menyelesaikannya. Lalu, berjalan ke meja guru untuk memberikan buku absensi itu.


Bel pulang berbunyi, Dira kembali ke bangkunya untuk membereskan buku yang masih berserak diatas meja. Setelah selesai, Arsan dan Sela pun menghampiri Dira untuk memberitahu soal rencana Davin hari ini.


"Dir, kamu jangan ke mana-mana dulu, Davin kan nyuruh gengnya buat nyulik kamu," bisik Sela.


"Aku udah tau, Sel. Kak Panji yang kasih tau ke aku semalam, terus apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Dira.


"Jadi, ntar kamu pura-pura ke lapangan basket. Nah, terus kamu lewat belakang menuju parkiran nanti Panji nungguin kamu di sana. Sela bakal nemanin kamu nanti ...," lirih Arsan.


Tak lama kemudian, Davin dan Aurel pun datang ke kelas mencari Dira. Dengan santai Dira keluar menemui mereka berdua. Saat ia baru saja sampai di depan pintu kelas, Davin spontan menarik tangan Dira.


"Dira, kamu ikut aku. Kamu tau, Panji punya niat jahat, aku ada buktinya kok," ucap Davin lalu menyalakan rekaman suara yang sudah ia rancang sebelumnya.

__ADS_1


Dasar licik kalian, emangnya aku percaya!! Sorry ...


Dira hanya diam tak merespon apapun saat mendengar rekaman itu. Lalu, Dira melepaskan tangannya dari genggaman Davin. Dira menjelaskan bahwa ia akan ke lapangan basket untuk latihan. Davin pun mempercayai ucapan Dira saat itu. Dengan semangat, ia langsung berjalan menuju lapangan. Davin segera menghubungi gengnya untuk menahan Dira di gudang sekolah. Tapi, sayangnya rencana Davin dan Aurel digagalkan oleh kedua sahabat Dira dan Panji. Ia menyuruh geng Davin menahan Aurel. Membuat seolah-olah itulah Dira. Saat Aurel tengah berjalan menuju lapangan basket untuk memastikan Dira ada di sana. Di situlah aksi dimulai. Kedua geng Davin menutup mulut Aurel dengan kain dan membawanya ke gudang sekolah, lalu mereka mengikatnya tangannya dengan tali dan menutup matanya dengan kain. Setelah selesai, orang itu menghubungi Davin untuk segera menuju ke gudang.


"Misi sudah selesai, sebaiknya cek ke gudang," tutur salah satu geng Davin melalui via telepon.


Davin bergegas menuju gudang sekolah, dengan rasa penuh percaya diri bahwa ia akan berhasil menjebak Panji. Tapi, malah sebaliknya, bukan Dira yang ditahan melainkan Aurel. Saat Davin membuka pintu gudang, ia heran melihat Dira berbeda. Davin pun mendekat lalu membukakan mata yang ditutup kain itu. Alangkah terkejutnya saat melihat yang ditahan itu Aurel.


"Aurel, ngapain kamu? Ah, kok bisa salah orang!!!" ucap Davin dengan nada marah sambil menghentakkan meja yang ada disampingnya.


"Kamu ni apa-apaan sih, Vin. Kok jadi aku yang kamu tahan, gilak kamu, ya!!!" bentak Aurel.


"Ini pasti ulah Panji," gumam Davin. "Arrggghhh!!"


Davin dan Aurel pun keluar dari gudang itu, sementara Dira, Panji dan dua sahabatnya sudah pulang. Mereka akhirnya berhasil membalas niat jahat Davin dan Aurel. Panji berniat akan mentraktir dua sahabat Dira atas kerjasama yang mereka lakukan dengan baik.


"Arsan ... Sela ... Nanti malam aku traktir kalian, ya. Ngumpul di rumah Dira aja," ucap Panji.


"Okey siap!! teriak Sela dan Arsan serentak.


Arsan dan Sela pun pulang tanpa singgah terlebih dahulu ke rumah sahabatnya. Setibanya di depan pagar rumah Dira, Panji turun dari motor yang dikendarainya. Saat Dira ingin membuka pintu pagar, Panji menahan tangannya agar tak membuka pintu itu.


"Dira, buru-buru banget sih kamu," ucap Panji.


Ya ampun, aku gak kuat. Tolong jangan gugup Dira, atur nafasmu ...


"Enggak kok, Dira kan cuma buka pintu aja, hehehe," jawab Dira lalu membalikkan badannya kearah Panji. "Kenapa, Kak?"


Saat Dira membalikkan badan, Tatapan mata Panji membuat Dira seakan terhipnotis, angin bertiup menerbangkan rambut Dira, Panji semakin terpukau melihatnya.


"Dira, kamu sangat cantik ...," lirih Panji.

__ADS_1


"Kak Panji pinter banget bohong," balas Dira sambil memukul pelan pundak Panji.


Mereka pun saling tertawa bahagia. Setelah beberapa menit saling bercanda, Dira pun masuk ke dalam rumahnya.


__ADS_2