
Hari ini Dira pulang agak lama, karena ada latihan basket menjelang pertandingan awal bulan. Dira segera membereskan buku-bukunya ke dalam tas. Arsan mendekat kearah Dira, ia mengajak Dira untuk pulang bersamanya.
"Dira, kamu pulang sama aku aja, ya," ucap Arsan.
"Hari ini aku pulang lama, Ar, mau latihan basket," jawab Dira. Kamu mau nungguin aku?"
"Oh, gak apa-apa, Dir. Aku siap nungguin kamu kok," "Yang penting kamu pulang bareng aku."
Dira menuju ke lapangan, Arsan pun membuntuti Dira. Sembari menunggu Dira latihan, Arsan ke kantin untuk membelikan Dira minuman dan makanan. Tiba-tiba ada Raka teman sekelah Rena datang menghampirinya.
"Eh, Arsan, kok belum pulang?" tanya Raka penasaran. "Ada jam tambahan juga?"
"Enggak, aku nungguin Dira latihan basket," jawab Arsan.
"Salut aku sama Dira, sampai dua orang yang nungguin demi pulang bareng," ucap Raka dengan senyum tipis.
"Maksudnya?" tanya Arsan kaget.
"Ya, Ketua Osis alias Panji juga nungguin Dira tu," jawab Raka sambil memilih minuman. "Aku duluan ya, Ar."
Arsan yang mendengar hal itu langsung cepat-cepat ke lapangan. Dan benar, ada Panji sedang duduk di bangku kelas XII yang berhadapan dengan lapangan basket. Arsan pun menghampiri Panji. Dengan wajahnya yang sangat kesal. Karena Panji selalu merusak rencana Arsan untuk mengungkapkan isi hatinya ke Dira.
"Permisi ketua osis, boleh aku duduk di sini?" tanya Arsan dengan wajah kesal.
"Ya, silahkan!" jawab Panji tersenyum. "Apa yang bisa dibantu?"
"Kamu ngapain di sini?" tanya Arsan penasaran. "Bukannya ini udah jam pulang."
"Lagi nungguin Dira latihan basket," jawab Panji sambil melihat kearah Dira. cantik banget Dira kalau lagi main basket gitu."
__ADS_1
Arsan yang mendengar ucapan Panji hatinya semakin panas. Ia tidak bisa membiarkan Panji merusak rencana Arsan. Arsan pun pergi meninggalkan Panji. Ia memikirkan cara agar Dira menolak Panji. Setelah sejam lamanya, Dira pun selesai dari latihan basketnya. Dira melihat kearah sekitar lapangan mencari keberadaan Arsan. Tiba-tiba, Arsan muncul dari arah belakang Dira dan membuatnya kaget.
"Arsan, kamu kebiasaan, ya," ucap Dira sambil mengilap keringat diwajahnya. "Suka banget iseng."
"Nih minum dulu, makan dulu biar kuat hadapi kenyataan bahwa aku akan menjadi sesuatu yang berarti buatmu Dira," ungkap Arsan sambil menyodorkan plastik berisi makanan dan minuman.
"Apaan sih kamu, Ar," jawab Dira tertawa kecil. "Yuk, pulang, udah sore juga." Berjalan menuju parkiran.
"Kamu janji harus nolak siapapun yang mengajakmu pulang bereng, Dir," ujar Arsan lalu memberhentikan langkahnya. Termasuk Panji, dia punya niat jahat sama kamu."
"Masa sih Kak Panji gitu?" tanya Dira heran.
"Ya udah kalau kamu milih pulang sama dia," jawab Arsan kesal. "Aku duluan aja deh." Melangkahkan kaki meninggalkan Dira.
"Eh, Arsan. Aku akan nolak ajakan Kak Panji kok, gitu aja ngambek," ucap Dira mengejar Arsan.
Dikejauhan, Panji melihat Dira bersama dengan Arsan sedang menuju parkiran. Panji mempercepat langkahnya agar lebih dulu sampai di parkiran. Begitu Dira dan Arsan sampai, mereka terkejut melihat Panji sedang berdiri menunggu kedatangan Dira. Lalu, ia berjalan mendekati Dira. Arsan mengerutkan keningnya, ia jengkel Panji selalu saja hadir disaat Arsan ingin mulai mengungkapkan perasaannya.
"Dira, yuk pulang bareng," ajak Panji."Tadi kan perginya aku yang antar, pulang juga harus aku yang antar"
"Eh, gak bisa. Dira udah janji mau pulang bareng Arsan," jawab Dira bingung.
Arsan tersenyum ke Panji. Panji membalas senyumannya.
"Baik, kalau Mama marah ke kamu, jangan salahin Panji," ucap Panji ke Dira "Permisi!!"
"Gak mungkin Mama Dira marah ketua osis terhormat," balas Arsan dengan tersenyum. "Mamanya kenal kok dengan Hari Sanjaya alias Arsan."
Sialan si Arsan, beraninya dia merusak rencanaku, lihat aja kamu Arsan. Tunggu pembalasanku.
__ADS_1
Akhirnya, Arsan yang mengantarkan Dira pulang ke rumah. Begitu sampai di rumah, Mama melihat Dira pulang dengan cowok. Mama mengintip dari balik jendela, ternyata bukan Panji. Dira pun membuka pintu, ia terkejut melihat Mamanya sudah menunggu di depan pintu dengan memasang wajah marah.
"Kenapa pulangnya gak sama Panji?" tanya Mama dengan nada marah. "Kan Mama udah bilang, kamu gak boleh sama orang lain, nanti kamu kenapa-kenapa gimana? Mama udah kasih kepercayaan sama Panji buat jagain kamu, Dira".
"Maafin Dira, Ma. Kasihan Arsan udah lama nungguin Dira tadi," lirih Dira sambil menundukan wajahnya. "Besok-besok janji gak pulang sama Arsan lagi deh".
"Jangan-jangan Arsan itu pacar kamu, lagi. Dira, Mama gak suka kamu dekat-dekat sama Arsan," ucap Mama dengan kesal. "Dari gayanya aja udah brandal gitu, Mama gak mau kamu sampai pacaran sama anak itu."
Mama pun pergi meninggalkan Dira. Dira hanya diam mematung mendengar ucapan Mamanya. Lalu, ia berjalan ke kamar. Segera ia mengganti baju seragamnya dan lanjut untuk tidur. Tengah asyik tidur tiba-tiba ponsel Dira berbunyi. Dira tersentak kaget, ternyata Panji menelepon. Padahal sebelumnya, Panji tidak pernah menelepon Dira. Dira masih berpikir untuk mengangkat telepon itu.
"Kok tumben, gak pernah-pernahnya Kak Panji nelepon," gumam Dira.
Dira pun mengangkat telepon dari Panji, Panji mengajaknya makan malam. Dira ingin menolaknya, tapi mulut ia tak bisa mengucapkan kata tidak. Telepon pun Dira matikan, ia lanjut merebahkan tubuhnya ke kasur. Dira mulai memejamkan kedua matanya, tapi tetap saja tidak bisa tidur, ia membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam bersama Panji jika Aurel melihat mereka berduaan.
"Kenapa aku tak bisa tidur, kenapa aku jadi berdebar. Padahal belum juga ketemu Kak Panji," gumam Dira sambil berjalan keluar dari kamarnya mencari Mama.
"Mama.. Maaaa...."teriak Dira.
"Apa Dira?" tanya Mama dengan wajah kaget. "Kenapa teriak-teriak?".
"Kak Panji ngajak Dira keluar nanti malam, Ma," jawab Dira. "Sekalian Mama pilihkan baju untuk Dira, ya."
"Bagus, Mama setuju. Selagi sama Panji kamu boleh keluar," ucap Mama dengan senyuman. "Nanti Mama akan pilihkan baju yang paling bagus."
Sembari Mama memilihkan baju, Dira segera mandi lalu bersiap-siap. Setelah selesai semuanya, Dira pun menunggu di bangku teras rumahnya sambil membaca novel kesukaannya. Tak lama Panji datang, Dira terkesima melihat Panji. Memang Panji dan Arsan memiliki ciri-ciri yang mirip. Sama-sama gagah, tampan, tinggi dan kulit yang putih. Membuat para cewek tergila-gila. Panji menyuruh Dira untuk naik ke atas sepeda motor besarnya.
"Emang kita mau ke mana?" tanya Dira sambil naik ke atas sepeda motor itu.
"Udah ikut aja, kamu pasti suka," jawab Panji dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
Dira hanya bisa mengangguk. Perasaan ia saat itu bercampur aduk. Grogi, deg-degan, malu, panik juga.