
Bel pulang berbunyi, Dira sangat terburu-buru saat itu. Tanpa mempedulikan dua sahabatnya, ia langsung berjalan ke arah halte sekolah. Sela dan Arsan heran melihat sikap Dira yang begitu dingin tak seperti biasanya, ia tampak ceria. Kedua sahabatnya pun membuntuti Dira dari belakang.
"Kenapa pas situasi begini Kak Panji baru ungkapin perasaannya, bikin tambah pusing. Dira, apa yang sedang terjadi terhadapmu. Kenapa sangat sulit untuk dapat kebahagiaan...," gumam Dira sambil berjalan menunduk.
Sela dan Arsan penasaran terhadap Dira yang tak menegur sapa di kelas. Tiba-tiba mereka menghentikan langkahnya dan begitu kaget melihat Dira bertemu dengan Davin di halte sekolah.
"OMG, Arsan...," lirih Sela. "Itu kan Davin, ngapain Dira nemuin Davin, Ar. Aku curigaan nih, pasti ada maksud tertentu."
Arsan menarik Sela untuk bersembunyu dibalik pohon besar yang berada tak jauh dari halte itu. Sela tampak kesal saat Arsan menarik tangannya dengan paksa.
"Arsan, sakit tau. Apa sih!!!" bentak Sela.
"Ssttt, kamu berisik banget, Sel. Hampir aja si Davin ngelihat kita tadi," ucap Arsan. "Dasar Sela bawel."
"Kamu ya, Ar. Ngeselin, mau aku tonjok nih biar pesek tu hidung kamu," jawab Sela dengan mengepalkan tangan di depan wajah Arsan.
Setelah selesai saling bercanda, mereka balik lagi untuk fokus mengintai Dira dan Davin yang sedang serius mengobrol. Tak lama kemudian Sela dan Arsan dikejutkan dengan kedatangan Panji secara tiba-tiba.
"Sela... Arsan...!!!" teriak Panji.
"Ya ampun, Kak Panji bikin jantung Sela hampir copot aja. Jangan teriak-teriak, nanti ketahuan Kak...," lirih Sela.
"Kalian pada ngintip siapa?" tanya Panji dengan pansaran.
Sela dan Arsan menunjukkan jarinya ke arah halte secara bersamaan. Panji pun melihat arah jari mereka berdua, membuatnya tersentak kaget saat kedua matanya tertuju ke halte, ternyata ada Dira dan Davin yang tengah serius berbincang di sana.
"Pantas, dari tadi dicariin gak ada. Ternyata ketemuan sama si pecundang itu...," ungkap Panji dengan rasa kesal.
Panji pun menyingkir dari balik pohon untuk menghampiri mereka berdua. Arsan menahan agar Panji tak menuju ke tempat itu.
__ADS_1
"Eits, sabar bro. Jangan ke sana, demi kebaikan bersama. Kita harus dapat informasi apa yang mereka bicarakan. Davin itu sedang merencanakan sesuatu," ujar Arsan.
"Bener, Kak. Kita harus cari mata-mata untuk dapat informasi itu, karena kita gak denger apa yang mereka bahas. Jadi, Kak Panji tahan emosinya dulu, ya...," lirih Sela.
Panji pun menganggukkan kepalanya. Saat itu Raka sedang berjalan melewati mereka bertiga, Arsan pun menarik Raka kesebalik pohon besar itu, mereka bertiga membujuk dan meminta bantuan Raka untuk memata-matai Dira dan Davin.
"Raka, kamu harus nolongin kita," ucap Arsan dengan tatapan matanya yang tajam seperti menghipnotis Raka.
"Ma .... Maksudnya?" tanya Raka terbata-bata.
"Kamu mau gak gabung tim futsal kita? Nah, kalau mau kamu harus nurut apa yang aku bilang," sambung Panji.
"Ya... Ya... Baik, apa yang harus aku perbuat?" tanya Raka dengan semangat.
Panji membisikkan ketelinga Raka pada saat itu. Tanpa basa-basi, Raka pun menerima permintaan Panji. Ia langsung berjalan ke halte, berpura-pura untuk menununggu jemputan, sambil mengeluarkan ponsel untuk merekam pembicaraan Dira dan Davin. Saat itu, Davin memberitahu Dira untuk menuruti kemauannya.
"Aku gak minta banyak kok, Dira. Cukup kamu selalu didekat aku, pulang bareng, ke kantin bareng. Pokoknya ke mana-mana berdua, dan yang terpenting jauhin si Panji...," ucap Davin.
"Aku percaya, kamu dan aku bakal bersama. Lagian Papa kamu udah merestui kok," jawab Davin sambil menarik tangan Dira.
Panji yang melihat perilaku Davin amarahnya begitu bergejolak, rasanya ia ingin segera menghampiri lalu menonjok wajah Davin sangking kesalnya.
"Sabar, Panji, demi Indira .... Kalau tidak udah habis tu si Davin ...," lirihnya.
Sela dan Arsan menguatkan Panji yang sedang emosional saat itu. Saat Dira pulang, Aurel pun datang menghampiri Davin yang sedang berjalan kearah sepeda motornya. Disitu membuat Panji, Arsan dan Sela semakin curiga. Saat itu juga Arsan mengeluarkan ponselnya, lalu mengirim pesan via whatsapp ke Raka.
[Arsan : Terus awasi mereka. Rekam semua pembicaraan di sana, Raka. Kami ke parkiran, nanti kita jumpa di sana, oke.]
[Raka : Sip, aman. Aku pantau terus di sini.]
__ADS_1
Raka berjalan mendekati mereka, berpura-pura menelepon pada saat itu. Awalnya, Aurel curiga dengan gerak-gerik Raka, tapi dengan beribu alasan membuat Aurel percaya.
"Raka, kamu ngapain? Kamu nguping pembicaraan kita, ya?" tanya Aurel.
"Nguping apanya? Gak penting juga, gak lihat ni aku lagi ngapain? Lagi nelepon," jawab Raka sambil meletakkan ponsel ditelinganya.
"Ada apa, Rel?" tanya Davin dengan penasaran.
"Oh, gak ada kok. Gak penting...," lirih Aurel.
Raka sedikit bergeser lebih dekat kearah mereka berdua. Dengan perlahan, ia menekan tombil perekam suara dari ponselnya, lalu menaruh kembali ditelinga agar Davin dan Aurel tak begitu curiga. Raka mendengarkan obrolan mereka dengan saksama.
"Jadi gimana respont Dira, Vin?" tanya Aurel.
"Yang jelas dia pasti nurut, lama-lama dia bakal bisa kok lupain si Panji dan beralih ke aku. Tenang aja, rencana kita bakal berjalan lancar kok, Rel," jawab Davin sambil menaikan kedua alisnya.
"Terus, pesuruh kamu gimana udah siap belum besok mulai aksinya? Kayaknya bakal seru nih,Dira dicuri, terus kita jebak tu si Panji minta dia untuk menjauh dari Dira. Bereskan, kamu dapat Dira aku dapat Panji. Hahaha," ujar Aurel sambil tertawa.
Raka yang sedang minum pun tersedak mendengar obrolan mereka. Davin mengalihkan pandangan ke Raka pada saat itu. Aurel pun membalikkan badan kearah belakang lalu berjalan mendekatinya.
"Raka, kamu gak apa-apa?" tanya Aurel.
"Gak ... Gak apa-apa, cuma kesedak doang, kok, hehehe...," jawab Raka dengan tertawa kecil.
Raka pun pergi dari halte itu, ia segera menuju parkiran untuk memberitahu soal rencana Davin dan Aurel. Begitu sampai parkiran, posisi mereka bertiga yang sedang duduk seketika langsung berdiri. Raka memberikan rekaman itu, saat mendengar isi rekaman, spontan amarahnya Panji bergejolak lagi. Ia tak ingin Dira tersakiti terus-menerus.
"Apa-apaan si Davin, sengaja dia buat Dira tertekan. Gila tu anak!!!" ucap Panji dengan nada marah.
"Sabar, Kak. Kita harus bisa gagalin rencananya besok. Jangan gegabah, kita harus nyusun rencana buat besok," ujar Sela sambil menahan amarah Panji.
__ADS_1
"Hampir aja aku ketahuan, memang parah mereka. Bener-bener licik," sambung Raka.
Panji, Arsan, Sela dan Raka berkompromi membahas persoalan jebakan itu. Mereka berniat, akan menjebak balik kedua manusia licik itu.