
**SEBELUM BACA KELANJUTANNYA, MOHON DI LIKE, KOMENT DAN VOTE JUGA.
FOLLOW IG AUTHOR @oktaapia
FACEBOOK Okta Piani
SELAMAT MEMBACA**
Begitu sampai dihadapan Dira, Aurel menghentakkan meja itu lalu menyiram air yang ia bawa itu ke rambut Dira. Semua mata tertuju kearah mereka berdua. Tanpa sengaja Panji dan Davin datang secara bersamaan ke kantin, mereka melihat baju Dira sudah basah. Emosinya tak bisa tertahan lagi, ia berdiri dari tempat duduk itu sambil menghentakkan meja. Lalu Dira mengambil segelas air putih yang berada di depannya. Kemudia, ia menyiramkan dari atas kepala Aurel hingga seragamnya basah juga. Semua murid tercengang dan kaget melihat aksi Dira.
"Apa-apaan kamu, Dira!! Beraninya kamu," ucap Aurel.
"Jangan suka menindas orang lain, karna gak selamanya dia lemah!! bentak Dira.
Panji pun menghampiri mereka untuk segera melerai, Aurel mencoba merayu Panji dan menuduh Dira seakan-akan dialah yang salah. Tapi sayangnya, Panji melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri.
"Panji, kamu lihat sendiri, kan. Dira jahat, dia nyiram aku dengan air," ucap Aurel sambil merintih.
"Apa bedanya dengan kamu?" tanya Panji. "Kenapa kamu suka buat ulah, Rel? Dira gak pernah ngusik kamu, dia gak pernah berniat nyakitin orang lain, termasuk kamu ..."
Aurel terdiam mendengar ucapan Panji membela Dira. Ia pun kesal, lalu pergi meninggalkan kantin. Panji memberikan sapu tangannya ke Dira. Perlahan, ia membuka kacamata yang dipakai, lanjut melepaskan ikatan rambutnya. Saat itu semua mata semakin tersorot ke arah Dira. Disitu aura kecantikannya semakin terlihat. Saat ia menggeraikan rambutnya, Panji mengamati dengan cukup serius, di wajahnya tampak terkagum melihat Dira begitu cantik. Bukan hanya Panji, semua murid lelaki yang berada di kantin tersorot ke arah Dira tak berkedip.
"Wah, itu beneran Dira?"
"Serius dia kelihatan cantik"
Dira pun memandangi Panji dengan wajah bingung, karena dari tadi Panji hanya diam mematung di hadapannya.
"Kak Panji, hello ...," sapa Dira.
Panji masih belum tersadar dari lamunanya, Dira pun menepuk kedua tangannya di depan wajah Panji. Seketika ia sadar dan menyahut dengan kalimat yang membuat Dira tertawa.
"Dira, aku sayang kamu," ucap Panji spontan.
"Kak Panji bilang apa barusan?"tanya Dira dengan kaget. "Gak salah denger tuh ..."
"Aku sayang kamu, Indira!!" ucap Panji sekali lagi dengan mengeraskan suaranya.
Semua orang yang berada di kantin bersorak mendukung mereka berdua. Davin yang masih berdiri di antar murid yang lalu lalang memperhatikan kemesraan Dira dan Panji. Dengan hati yang begitu sakit bagai ditusuk-tusuk beribu jarum. Davin menghela nafas, dan mencoba menahan amarahnya.
__ADS_1
Kenapa kamu lebih memilih Panji, Dir ... Kenapa kamu gak bisa beri aku kesempatan buat mengenal lebih dekat. Batin Davin.
Davin pun meninggalkan kantin, berjalan ke arah kelas sambil menahan sakit hatinya. Tiba-tiba, Aurel menghampirinya.
"Eh, Vin. Kok kamu di sini?" tanya Aurel. "Bukannya bawa si Dira, bisa-bisanya Panji datang waktu itu, kesel aku ..."
"Kamu tu kalau mau bertindak ngomong sama aku, Rel. Jadi sia-sia aja rencana kamu," jawab Davin sambil memasang wajah cemberut.
"Eh, kamu kok cemberut gitu? Tumben, kamu cemburu ya sama mereka berdua? Baru tau aku kalau seorang Davin bisa cemburu, hahaha," ucap Aurel dengan tertawa mengejek Davin.
Davin pun melanjutkan langkah kakinya menuju kelas, Aurel membuntutui dari belakang. Saat sampai di depan kelas, Davin membalikkan badan. Ia melihat Aurel berada dibelakangnya.
"Ngapain?" tanya Davin.
"Ayolah kita bikin rencana baru," ucap Aurel.
"Aku lagi gak ada ide, kamu aja dehbyang nyari ide. Ntar kasih tau aku," balas Davin.
"Kalian jadi taruhan?" tanya Aurel. "Kita batalin aja taruhannya gimana?"
"Gilak kamu, ya. Aku yang nantangin, terus aku yang batalin? Malu-maluin anak motor," ucap Davin.
Akhirnya, Davin masuk ke dalam kelas. Sedangkan Aurel masih berdiri di luar kelas Davin sambil memikirkan cara menjauhkan Dira dari Panji. Tak lama kemudian, ia pun menuju ke kelasnya.
"Keren tadi kamu, Dira. Pas nyiram air ke Aurel," ucap Arsan.
"Baru ini pertama kalinya seorang Dira berani melawan. Lanjutin, Dir," sambung Sela.
Setelah cukup lama mengobrol, tak sengaja Alena bertemu dengan Dira di kantin. Ia menghampiri Dira yang sedang asyik berbincang.
"Eh, Dira ...," sapa Alena. "Baju kamu kenapa basah, Dir?"
"Tadi habis perang sama Kak Aurel si Dira, seru banget Kak," jawab Sela.
"Ya ampun, dia emang suka nyari ribut ya. Pasti gara-gara Panji dekat dengan kamu tuh, Dir," ucap Alena. "Nanti kita latihan basket, ya. Minggu depan udah tanding basket.
"Oke Kak, siap," jawab Dira dan Sela serentak.
Bel masuk berbunyi, mereka kembali ke kelasnya. Saat Panji berjalan menuju kelas, Davin menghadang dengan tangannya. Panji pun menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Kamu udah siap kalah nanti malam, Panji?" tanya Davin dengan gaya angkuhnya.
"Mengaku kalah sebelum berperang? Maaf, bukan tipeku," jawab Panji.
"Oh ya? Yakin kamu bisa nantangin anak motor? Aduh, yang ada ntar kamu jatuh, bikin susah orang ...," lirih Davin.
Panji hanya membalas senyum sinis ke Davin, lalu ia melepaskan tangan yang menghadangnya itu dan melanjutkan untuk ke kelas.
Bel pulang berbunyi, Dira dan Sela hari ini akan latihan basket. Karena minggu depan pertandingan olahraga dimulai. Seperti biasanya, Arsan selalu setia menemani sahabatnya itu. Begitu pula Panji, sudah menunggu di lapangan sebelum mereka datang.
"Sel, yuk ke lapangan!!" ajak Dira. "Kamu ikut gak, Ar?"
"Tentu ikut dong, kan aku sahabat kalian. Harus selalu nemenin dan dukung kalian berdua," jawab Arsan.
Mereka bertiga pun menuju ke lapangan basket. Dari jauh terlihat Panji sedang duduk di bangku yang berhadapan dengan lapangan itu. Dira pun menghampirinya.
"Kak Panji, ngapain?" tanya Dira.
"Ya nungguin kamu latihanlah, emang mau ngapain lagi coba," jawab Panji.
"Rajin banget, kan Dira belum latihan juga," ucap Dira. "Kali aja mau ngelihat para cewek-cewek yang lewat kan."
"Lama-lama kamu kok bawel, ya ...," lirih Panji.
Dira tersenyum mendengar perkataan Panji. Tak lama kemudian, Alena dan tim basket lainnya datang. Mereka pun memulai untuk latihan. Sebelum Dira ke tengah lapangan, ia meminta izin dulu ke Panji.
"Kak, Dira latihan dulu, ya," ucapnya.
"Sip, Dira. Semangat sayang," balas Panji dengan senyuman.
Dira berjalan ke lapangan, latihan pun dimulai. Davin tak mau kalah, ia ikut melihat Dira yang sedang latihan basket.
"Semangat Dira!! Semangat!!" teriak Davin.
Panji melirik ke arah Davin. Ia tak mempedulikan apa yang sedang dilakukan pria angkuh itu. Setelah satu jam, latihan pun selesai. Panji dan Davin secara bersamaan memberikan sebotol air mineral ke Dira.
"Nih, Dir ...," ucap Panji dan Davin serentak sambil menyodorkan air mineral itu.
Dira tertawa melihat tingkah mereka berdua.
__ADS_1
"Udah, gak usah. Dira pilih pemberian Arsan aja," ucap Dira berjalan ke arah Arsan dan mengambil air dari tangan Arsan.
Jam menunjukkan pukul 14.00 WIB, Dira dan dua sahabatnya berjalan menuju parkiran. Panji sudah bersiap-siap menyalakan sepeda motornya, lalu Dira pun naik keatas motor itu. Panji pun segera mengantarkan Dira pulang ke rumahnya. Sedangkan Davin hanya bisa melihat Dira bersama Panji berduaan. Davin dengan hati yang terluka segera pulang, mempersiapkan diri agar bisa menang melawan Panji.